CERITA PAGI – 14

 

Berita duka tentang kecelakaan kapal laut yang mengangkut penumpang dari pulau Kalimantan ke pelabuhan Tanjung Emas di Semarang, semoga menjadi kecelakaan besar yang terakhir di penghujung tahun ini. Setelah berbagai musibah yang silih berganti dengan datangnya musim hujan ini. Banjir, banjir bandang, tanah longsor dan kecelakaan lalu lintas yang berhubungan dengan keadaan cuaca, sepertinya susul menyusul ditampilkan dalam wajah pemberitaan dalam negeri ini.

Keadaan cuaca, memang sepenuhnya diluar kendali manusia. Tetapi dampak atau akibat dari cuaca, tidak terlepas dari perbuatan manusia atau dengan kata lain, manusia bisa berbuat untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan dampak yang tidak diinginkan dari cuaca tersebut. Begitu juga peristiwa geologis, yang sebenarnya juga memiliki sifat seperti cuaca, hanya saja berada di perut bumi.

Selama ini, peristiwa yang terjadi di perut bumi hanya kita rasakan dampaknya berupa letusan gunung berapi dan gempa bumi. Tetapi, walaupun sebenarnya sejak dahulu kala juga terjadi, sekarang muncul juga fenomena dalam bumi yang sebelumnya jarang kita temui atau belum pernah terjadi setidaknya dalam kurun waktu umur kita.

Dari bekas-bekas yang ditinggalkan, mungkin kita bisa melihat atau setidaknya mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa yang silam, sehingga permukaan atau kulit bumi berbeda-beda. Ada dataran rendah yang terhampar luas, ada yang berbukit-bukit landai, ada yang berbukit curam – bahkan memiliki ketegakan hampir 90o. Ada pula yang merekah membentuk palung, yang jelas terlihat bahwa sebelumnya kedua sisinya adalah satu dan kemudian merekah karena pergerakan kerak atau kulit bumi.

Kesemuanya itu terbentuk melalui suatu proses yang sangat panjang. Ada yang terjadi jutaan tahun, bahkan mungkin ratusan juta tahun silam. Tetapi ada yang terjadi beberapa abad yang lalu. Dan bahkan ada yang perubahannya baru terjadi beberapa bulan atau beberapa hari yang lalu. Ada yang perubahannya bukan akibat tangan manusia secara langsung, tetapi ada pula yang perubahannya dilakukan oleh kemauan dan keinginan manusia. Tanah yang longsor, hampir semua orang menyebutnya kebanyakan karena ulah manusia dalam menggunduli hutan demi kepentingan pribadinya atau kelompoknya.

Di negeri kita, belum ada bahaya tanah runtuh yang diakibatkan langsung oleh ulah manusia. Tetapi di negera lain [Inggris dan daratan Eropa] beberapa kali terjadi bencana tanah ambles atau dalam istilah ilmiahnya sebagai subsidience. Jauh lebih parah dari tanah ambles atau penurunan permukaan karena konsolidasi, dengan adanya pembebanan baru diatasnya seperti yang terjadi di Sidoarjo.

Penambangan garam dapur di negeri sana, yang dilakukan dengan menggali lapisan garam dengan menggunakan lorong-lorong bawah tanah atau dengan memompakan air panas ke dalam lapisan tebal garam di bawah tanah [seperti cara yang dipakai juga untuk menambang belerang di Eropa sana] telah menyebabkan runtuhnya tanah dan bangunan di atasnya di beberapa kota. Yah, tentu saja karena ada lapisan yang semula padat dan kuat menyangga beban di atasnya, tetapi kemudian menjadi kosong. Kalau di negara kita, mungkin penambangan garam dapur dan belerang tidak dilakukan seperti itu.

Tetapi bagaimana dengan penambangan yang lain seperti batubara, yang di Sumatera sebagian dilakukan dalam tambang bawah tanah. Bagaimana pula dengan tambang minyak bumi, berapa juta meter kubik yang sudah dikeluarkan dari perut bumi selama ini? Mungkin minyak dan gas tidaklah terdapat dalam sebuah jebakan yang penuh dengan fluida, tetapi mungkin fluida tersebut berada dalam pori-pori tanah, sehingga saat fluidanya dikeluarkan ke permukaan, hanya pori-porinya yang jadi kosong. Ibarat karet busa pencuci mobil yang telah mengering diperas cairannya.

Selama ini – dan mungkin emangnya begitu – kita tahu sumber garam dapur itu adalah air laut, lalu bagaimana ada lapisan garam dapur nun jauh di dalam perut bumi? Bagaimana pula dengan lapisan garam dapur yang ada di tengah-tengah benua Amerika [Great Salt Lake]? Apakah semua kegiatan penambangan itu merupakan upaya membalikkan bumi ini? Yang di dalam perut bumi di keluarkan paksa oleh manusia untuk diletakkan di permukaan kulit bumi, dan bahkan dijadikannya gas atau udara penyelimut kulit bumi. Bukankah kalimat “ketika bumi dibalikkan” merupakan salah satu kata penunjuk kejadian yang disebut kiamat?

Pemilik mobil yang agak lama tidak mengganti ban, dan bila kebetulan setelan roda dan bannya tidak baik, maka bisa-bisa dia akan mengalami yang disebut “semi”, yaitu bergetarnya mobil bila melaju dengan kecepatan tertentu. Hal itu bisa diatasi, antara lain dengan “balancing”, yaitu memberikan tambahan timbal pada sisi-sisi tertentu utnuk menyeimbang-kan perputaran roda tersebut. Lalu, bagaimanakah dengan perputaran bumi kita ini yang telah dibolak-balik oleh tangan manusia? Yang menonjol [gunung] diratakan untuk mengambil berbagai bijih-bijihan yang berada di kulit bumi ini. Yang di dalam di keluarkan sampai kosong. Kalau ban mobil semi bisa di-balancing, lalu dengan bumi kita ini di apakan?

Mungkin gerakan lempengan kulit bumi yang kita kenal sebagai gempa, merupakan balancing sebagai reaksi atas seminya perputaran bumi ini?

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

30 Desember 2006

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: