CERITA PAGI – 13

 

Berita yang mengejutkan datang dari padang Arafah, tempat berkumpulnya jutaan ummat Islam yang sedang melakukan wukuf dalam rangkaian melaksanakan rukun dan kewajiban menjalankan rukun Islam yang kelima, yaitu menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Tentu hal itu, keterlambatan pasokan makanan akan sangat menggangu konsentrasi jamaah haji di puncak acara ibadah tersebut. Lebih dari 75% jamaah Indonesia – atau lebih dari 150.000 orang – tidak mendapatkan ransum makanan, konon selama 24 jam pula. Semoga para jamaah diberikan kesabaran dalam menghadapi ujian tersebut, karena orang yang lapar itu mudah marah.

Berita di media massa, baik yang cetak maupun elektronik, muncul dengan berbagai judul yang bombastis, seperti judulnya pertunjukan Srimulat di masa lalu. Ada yang menuliskan, jamaah haji minum air ledeng. Jamaah haji berebut makanan dan minuman yang dibagikan secara gratis, dan sebagainya. Cobalah direnungkan dengan pikiran yang tenang – pikiran orang yang sudah kenyang tentunya.

Bukankah memang disana [Mekkah dan Madinah khususnya], kita cenderung memilih minum ‘air ledeng’ yang bersumber dari air zam-zam? Lha kalau memang itu yang diminum, lalu kenapa harus diberitakan? Bukankah memang sedari dahulu – bukan saja setelah penduduk dan pemimpin tanah suci ummat Islam memperoleh kemakmuran – mereka senang dan berebut untuk membagikan makanan dan minuman kepada para tamu Allah? Bukan saja saat musim haji – dimana jumlah tamu membludak – bahkan di bulan suci Ramadhan pun mereka berebut memberi ta’jil atau buka puasa kepada jamaah yang mendatangi masjid Nabi dan masjid al-haram.

Orang meyakini, bahwa bila wukuf dilakukan pada hari Jumat – suatu hari yang sering disebut sebagai sayyidul ayyam – itu pahalanya sangat besar. Sehingga begitu ditetapkan bahwa 9 Dzul Hijjah akan jatuh pada hari Jumat 30 Desember 2006, konon semua pihak, baik pengelola haji dari negara lain, dan terutama pengelola haji dari pemerintahan khadamul haramain menyiapkan berbagai hal yang bersifat ekstra guna meng-antisipasi membludaknya jumlah jamaah haji khususnya yang dari penduduk Arab Saudi yang tak perlu mengurus paspor dan visa. Tentu saja, untuk pahala yang lebih besar tentu cobaan dan ujiannya pun akan semakin besar pula. Logis kan. Dan mungkin berbagai cobaan dan ujianpun akan datang.

Yang di Arafah, rupanya ujian dan cobaan jatuh ke jamaah Indonesia. Mungkin cobaan dan ujian lain, akan jatuh ke jamaah yang lain. Semoga cobaan dan ujian tersebut akan meningkatkan kadar keimanan dan kepatuhan semua jamaah, dan juga ummat Islam yang sedang tidak menjalankan ibadah haji pada tahun ini, dan bukannya mengarahkan kita kepada kekufuran.

Seperti biasa, bila ada sesuatu yang tidak sesuai [non-conformance], maka berbagai pihak [di Indonesia] mulai mencari [bahkan cenderung mencari-cari] sebabnya dan juga tidak lupa mencari siapa yang akan disalahkan. Mulailah berbagai ungkapan muncul. Belum mendapat persetujuan DPR. Perusahaan catering baru, yang menawarkan harga murah [SR 250 dibanding biasanya SR 300 per jamaah untuk 5 hari]. Perusahaannya dari keluarga Departemen Dalam Negeri Saudi Arabia. Tetapi tidak ada yang mencoba mengkaji, bagaimanakah proses penyampaian makanan itu harus berlangsung? Mulai dari penyediaan bahan sampai masuk ke mulut para jamaah haji.

Dan hendaknya juga perlu diingat, bahwa jumlah yang harus ‘disuapi’ pada suatu saat adalah 200.000 orang. Bagi orang Jakarta, melihat orang 100.000 di satu tempat, hanya terjadi sekali-sekali saja, disaat Gelora Bung Karno dipenuhi oleh penonton pertandingan sepakbola. Itu baru 100.000, bagaimana kalau 200.000. yah dua kalinya. Coba berhitung, kalau sekali makan butuh beras [kalau tidak makan nasi kan tidak kenyang jamaah kita] 100 gram saja  sesuai standar pembagian beras pegawai negeri kan 10 kilogram per orang per bulan. Maka untuk sekali makan, harus ditanak beras sebanyak 0,1 x 200.000 kg = 20.000 kg atau 2.000 kantong @ 10 kilogram. Seberapa besar rice cooker yang digunakan, dan seberapa banyak rice cooker diperlukan. Jangan dibayangkan pakai rice cooker ukuran rumah tangga, bisa berderet-deret dari barat sampai ke timur.

Itu baru nasi. Belum lauk pauk. Perlu dua macam? Pakai Kerupuk? Harus ada sayur dan ada daging? Tidak boleh basi ketika akan disantap? Dan berbagai persyaratan lainnya. Belum lagi membawa masakan yang sudah disiapkan, ke lokasi acara perhelatan. Mungkin jika dapurnya di Mekkah pinggiran, jaraknya sekitar 6-10 kilometer. Tetapi muacetnya? Kambingpun sulit untuk lewat di hari Arafah tersebut. Dan juga, tiga kali sehari. Artinya satu siklus kegiatan masak memasak dan mengantarkan, harus selesai dalam 8 jam saja.

Salah satu alasan [dalam koran sih] mengapa perusahaan ini dipilih, adalah karena memiliki peralatan memasak yang modern dan baru. Konon, pada tahun-tahun sebelumnya, perkara penyediaan makanan bagi jamaah haji selama di Mina dan Arafah ini, tidak disentralisir [hanya menggunakan satu pemasok saja] melainkan didesentralisisasi [menggunakan beberapa pemasok kecil, tetapi banyak].

Suatu pelajaran yang mahal bagi pengelola haji Indonesia. Pejabat kita [Departemen Agama tentunya] harus banyak belajar mengenai manajemen proyek dan pemahaman proses, dan mungkin harus menerapkan standar manajemen mutu berbasis ISO 9000 kali. Demi kebaikan jamaah kita.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

30 Desember 2006

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: