CERITA PAGI – 12

 

Dari Abah Toni, ada masukan bahwa beberapa ayat lain dalam surat al-Ahzaab, yaitu ayat 50 – 52 juga menjelaskan tentang hal-hal yang berkenaan dengan bersiteri lebih dari satu. Ayat 50, merupakan seruan yang khusus ditujukan bagi Nabi [Muhammad saw],

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ إِنَّآ أَحۡلَلۡنَا لَكَ أَزۡوَٲجَكَ ٱلَّـٰتِىٓ ءَاتَيۡتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتۡ يَمِينُكَ مِمَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّـٰتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَـٰلَـٰتِكَ ٱلَّـٰتِى هَاجَرۡنَ مَعَكَ وَٱمۡرَأَةً۬ مُّؤۡمِنَةً إِن وَهَبَتۡ نَفۡسَہَا لِلنَّبِىِّ إِنۡ أَرَادَ ٱلنَّبِىُّ أَن يَسۡتَنكِحَہَا خَالِصَةً۬ لَّكَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۗ قَدۡ عَلِمۡنَا مَا فَرَضۡنَا عَلَيۡهِمۡ فِىٓ أَزۡوَٲجِهِمۡ وَمَا مَلَڪَتۡ أَيۡمَـٰنُهُمۡ لِكَيۡلَا يَكُونَ عَلَيۡكَ حَرَجٌ۬ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورً۬ا رَّحِيمً۬ا ( ٥٠ )

Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

تُرۡجِى مَن تَشَآءُ مِنۡہُنَّ وَتُـٔۡوِىٓ إِلَيۡكَ مَن تَشَآءُۖ وَمَنِ ٱبۡتَغَيۡتَ مِمَّنۡ عَزَلۡتَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكَۚ ذَٲلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن تَقَرَّ أَعۡيُنُہُنَّ وَلَا يَحۡزَنَّ وَيَرۡضَيۡنَ بِمَآ ءَاتَيۡتَهُنَّ ڪُلُّهُنَّۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا فِى قُلُوبِكُمۡۚ وَڪَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَلِيمً۬ا ( ٥١ )

Kamu boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu. Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang telah kamu berikan kepada mereka. Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.

لَّا يَحِلُّ لَكَ ٱلنِّسَآءُ مِنۢ بَعۡدُ وَلَآ أَن تَبَدَّلَ بِہِنَّ مِنۡ أَزۡوَٲجٍ۬ وَلَوۡ أَعۡجَبَكَ حُسۡنُہُنَّ إِلَّا مَا مَلَكَتۡ يَمِينُكَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ رَّقِيبً۬ا ( ٥٢ )

Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.

Untuk memudahkan memahami ayat panjang dari surat al-Ahzab QS 33:50 ini, mungkin perlu kita memformat bentuk penulisannya dengan menggunakan bullet, terutama bagi mereka yang terbiasa berpola pikir secara terstruktur atau matematis, sehingga menjadi

Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu

  • isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya, dan
  • hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan
  • (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu, dan
  • perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya,

sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min.

Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu.

Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalam pola penulisan bahasa Arab [khususnya pada zaman tanpa bullet] kata “dan” atau “atau” selalu dituliskan berulang [dan mungkin sampai kini]. Berbeda dengan dalam bahasa Indonesia [atau pada zaman sudah menggunakan bullet], maka biasanya hanya dituliskan di bullet ke n-1, dan itupun hanya kalau bersifat “atau”, sedangkan yang “dan” biasanya tidak dituliskan. Atau “dan” atau “atau” dituliskan pada anak kalimat menjelang terakhir saja. He he, jadi bingung bacanya.

Dengan bentuk seperti itu, maka akan mudah dicernak oleh kita bahwa ada 4 [empat] hal yang merupakan hal yang dihalalkan, khusus bagi Nabi dan bukan untuk semua orang mukmin.

Pada ayat tersebut, kita dapat menyimak adanya penggunaan kata ganti orang, dimana kita temukan kata “laka” yang merupakan kata ganti orang kedua lelaki tunggal, dalam kata “menghalalkan bagimu” dan “pengkhususan bagimu”. Tetapi pada kalimat kedua, kata ganti orangnya berubah menjadi kata ganti orang ketiga lelaki jamak, yaitu “lahum”, – mereka – seperti pada kata “kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki”. Tetapi pada penggal terakhir, berubah lagi menjadi kata ganti orang kedua lelaki tunggal “’alaika” dalam kata-kata “supaya tidak menjadi kesempitan bagimu”. Adalah upaya pemahaman yang cukup logis, bila yang dimaksud dengan “mereka” adalah “semua orang mukmin”, sedangkan yang “bagimu” adalah khusus “bagi Nabi”.

Ada semacam hak istimewa [previlage] untuk melakukan sesuatu yang dikhususkan bagi nabi, [sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min] dan tidak untuk kaum mukminin yang lain. Jadi – jika diekstrapolasikan – dapat dikatakan tidak semua yang telah dilakukan oleh Rasulullah, itu berarti boleh dilakukan oleh kaum mukmin yang lain. Mungkin ada lagi hal-hal yang ditetapkan hukumnya seperti itu, selain masalah pernikahan [khususnya poligami ini]. Hak-hak itu kemudian dicopoti oleh Allah secara bertahap atau sampai habis sekaligus. Begitu juga ada aturan yang berlaku hanya sampai suatu waktu tertentu saja [Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu] sesuai dengan perkembangan ummat, dan kemudian diganti atau ditingkatkan.

Contoh yang populer dan mudah dipahami adalah aturan tentang larangan minum hamr [sengaja tidak diterjemahkan dengan kata bahasa Indonesia agar pengertiannya tetap luas], yang semula hanya dalam bentuk “dilarang shalat dalam keadaan mabuk” sehingga masih bisa mabuk dengan minum hamr jika jarak waktu untuk shalat lagi masih jauh. Misalnya, cepat-cepat shalat Isya’ ., lalu minum hamr sampai mabuk, sehingga ketika menjelang shalat Shubuh sudah tidak teler lagi. Lalu minum hamr tersebut kemudian dilarang habis. Kalau kita memahaminya terbalik [terbalik dalam menetapkan urutannya, mana yang dahulu dan mana yang kemudian] bisa amburadul jadinya.

Di ayat ke 52, dinyatakan

Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.

Dimana dinyatakan “Tidak halal bagimu ………  sesudah itu ”, semacam sesuatu SK pencabutan atas sesuatu yang semula dihalalkan [di ayat 50] dan kemudian dijadikan terlarang. Dan bahkan menggantipun [substitusi] tidak diperbolehkan. Jadi jangankan menambah [addition], mengganti [subtitution] pun tidak lagi dibolehkan bagi nabi, apalagi bagi para mukminin.

Jika hal ini juga kita ekstrapolasikan [maunya ekstrapolasi saja ya], bagi kaum mukminin jika sudah beristeri ya jangan ganti-ganti [cerai dan kawin dengan yang lain] dan juga jangan nambah [dari satu menjadi dua], apalagi keterusan sampai jumlah yang lebih banyak.

Saya kira kita sudah bisa membulatkan pendapat – [belum lagi ditambah hadis (-hadis) yang ada] – berkenaan dengan poligami ini, bahwa kita diperintahkan untuk menikah dengan satu orang saja, tidak lebih [2, atau 3, atau 4] dan tidak kurang [0, atau tidak menikah]. Bahwa nabi Muhammad saw pernah menikah dengan 2 atau lebih wanita pada suatu saat yang bersamaan, adalah perkecualian dan juga sebagai suatu proses pemahaman bagi masyarakat pada waktu itu, dan kemudian hak berupa perkecualian [hak previlige] itupun dicabut.

 

Wa Allahu a’lam.

14 Desember 2006

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: