CERITA PAGI – 11

 

Yah, dalam beberapa hari terakhir ini yang menjadi topik pembicaraan dimana-mana, memang pernikahan kedua dari ustadz Gegerkalong tersebut, karena memang cukup menarik perhatian. Walaupun selama ini kita sering mendengar ada [bahkan lebih dari dua] beberapa orang yang menikahi dua, atau tiga atau empat orang dalam suatu kurun waktu yang sama. Kata sebagian orang, gegernya ini melebihi kejadian yang lain, konon karena dialah satu-satunya [barangkali] pendakwah yang pernah [bahkan sering] membawa serta isteri dan anak-anaknya naik ke panggung, sebagai wujud mawaddah wa rahmah-nya rumah tangga beliau.

Disamping surat ar-Rum ayat 21 dan seterusnya, ayat firman Allah berikut ini, surat an-Nisaa QS 4:1-4, adalah yang sering dibaca sebagai pengantar suatu acara akad-nikah

 يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٍ۬ وَٲحِدَةٍ۬ وَخَلَقَ مِنۡہَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡہُمَا رِجَالاً۬ كَثِيرً۬ا وَنِسَآءً۬‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبً۬ا ( ١ )

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

  وَءَاتُواْ ٱلۡيَتَـٰمَىٰٓ أَمۡوَٲلَہُمۡ‌ۖ وَلَا تَتَبَدَّلُواْ ٱلۡخَبِيثَ بِٱلطَّيِّبِ‌ۖ وَلَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٲلَهُمۡ إِلَىٰٓ أَمۡوَٲلِكُمۡ‌ۚ إِنَّهُ ۥ كَانَ حُوبً۬ا كَبِيرً۬ا ( ٢ )

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.

 وَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تُقۡسِطُواْ فِى ٱلۡيَتَـٰمَىٰ فَٱنكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثۡنَىٰ وَثُلَـٰثَ وَرُبَـٰعَ‌ۖ فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُواْ فَوَٲحِدَةً أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَـٰنُكُمۡ‌ۚ ذَٲلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَلَّا تَعُولُواْ ( ٣ )

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

 وَءَاتُواْ ٱلنِّسَآءَ صَدُقَـٰتِہِنَّ نِحۡلَةً۬‌ۚ فَإِن طِبۡنَ لَكُمۡ عَن شَىۡءٍ۬ مِّنۡهُ نَفۡسً۬ا فَكُلُوهُ هَنِيٓـًٔ۬ا مَّرِيٓـًٔ۬ا ( ٤ )

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.

Ayat kesatu dan kedua merupakan pengantar atau intro akan suatu masalah. Di ayat ketiga, barulah kita memasuki permasalahan yang sebenarnya – yang menjadi topik hangat saat ini – dan dijadikan dalil adanya pernikahan sampai dengan empat orang isteri, yaitu “maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat”.

Sepintas ini merupakan suatu kalimat perintah [fiil amar], maka [ha..ha..] harus dilakukan. Inilah yang mungkin dijadikan pendapat oleh sekelompok orang tertentu, sebagai dasar untuk melakukan. Bahkan ketika baru belajar bahasa Arab dulu, kita sudah diajarkan kalau “wa” itu artinya “dan”, kenapa dalam terjemahan resmi dari Departemen Agama Republik Indonesia, “wa” itu diartikan sebagai “atau”, sedangkan kita tahu kalau “atau” itu bahasa Arabnya ya “au” – alif dan wau”. Ada apa dibalik itu? Mungkin jadi agak tambah saru kalau diterjemahkan “dua, tiga dan empat”, bahkan ada yang bilang “dua-dua, tiga-tiga, dan empat-empat”. Wouw…..

Kalau kita mau agak teliti, walau ayat firman Allah ini sudah diturunkan sekitar empat belas setengah abad silam, bentuk kalimat pada ayat tersebut, sangat populer dalam bahasa pemrograman komputer, baik yang menggunakan bahasa BASIC atau FORTRAN, yang sekarang sudah tidak populer lagi, karena semua orang lebih menyukai program-program aplikatif yang tidak lagi memerlukan bahasa pemrograman yang ruwet dan melelahkan. Dalam program aplikasi seperti Microsoft Excel, format seperti itupun sangat populer sebagai suatu konsep logika matematik, yaitu yang dikenal sebagai bentuk IF ….THEN…..

IF [suatu kondisi tercapai] THEN [melakukan tindakan.A],

  • IF [suatu kondisi tidak terpenuhi] THEN [melakukan tindakan B].

atau dituliskan dalam bentuk

IF [suatu kondisi tercapai] THEN [melakukan tindakan.A],

  • OTHER [melakukan tindakan B].

atau dalam suatu flowchart atau diagram alir, biasa dinyatakan dalam bentuk belah ketupat [yang berisikan suatu pertanyaan atau persyaratan kondisi yang harus dipenuhi], lalu ada dua pencabangan aliran yang dibubuhi keterangan “YES” dan “NO”.

Contohnya seperti ini, seperti yang dibuat oleh cucuku – si Thifa – yang baru berusia tiga tahun :

IF [hari ini adalah Jumat] THEN [aku menginap di rumah Abah],

yang walau tidak disebutkan secara eksplisit atau tersurat, maka berarti pada hari selain Jumat dia tidak menginap di rumahku.

Dalam ayat tiga ini, jelas jelas tertulis “Dan jika kamu ……., maka……..” yang dalam bahasa Arabnya, “in”…..”fa”. Hanya saja, yang disebutkan cuma satu kondisi “IF [suatu kondisi tercapai] THEN [melakukan tindakan.A]”. Kondisi yang satunya – sebagaimana sering ditemukan dalam ayat-ayat al-Quran yang lain – seringkali memang tidak disebutkan secara tersurat. Dan konon, menurut yang biasa kita dengar dari ceramah-ceramah ahli tafsir seperti pak Quraisy, pernyataan dalam al-Quran memang sering dalam bentuk seperti itu, dan manusia dirangsang [encouraged] untuk menemukan pasangan yang logis dari ayat tersebut, dalam hal ini “IF-THEN” yang lainnya.

Dari format IF-THEN, yang digunakan dalam ayat ketiga ini, kita sudah bisa membayangkan, bahwa perintah [amar] THEN-nya itu harus memenuhi suatu kondisi, dimana kondisi itu dijelaskan dalam ayat tersebut dan juga tidak dapat dilepaskan dari intro atau pendahuluan atau baris-baris program sebelumnya. Tentu saja disini, ya ayat pertama dan kedua.

Ayat pertama, terjemahan bahasa Indonesianya adalah

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

secara jelas menceritakan tentang asal-muasal manusia yang banyak ini, yang bermula dari diri yang satu [Nabi Adam a.s.], yang dilengkapi dengan isteri [Siti Hawa a.s.], lalu berketurunan dan bersanak-pinak sehingga menjadi milyaran manusia seperti sekarang ini. Secara implisit, kalimat berikutnya dalam ayat tersebut menceritakan proses pendahuluan suatu pernikahan [meminta dengan nama Allah] dan menjaga silaturrahim.

Di ayat kedua, terjemahan bahasa Indonesianya adalah

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.

dimana kita diberi informasi tanpa menyebutkan kejadiannya yang mendahuluinya, yaitu terjadinya kematian yang menyebabkan adanya anak-anak yatim [yang ditinggal mati orang tuanya, oleh berbagai sebab] yang sebenarnya memiliki harta warisan – yang karena pada waktu ditinggal orang tuanya belum baligh, kemungkinan hartanya dikuasakan atau dipelihara oleh seseorang atau kerabatnya yang sudah dewasa. Sampai disini, kita belum menemukan suatu pra-kondisi bagi adanya suatu additional dalam pernikahan.

Di ayat ketiga, yang terjemahannya

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Baru di ayat ketiga ini kita menemukan suatu ‘amar’ untuk mengawini [kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi], apabila kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya).

Kita bisa berimajinasi, bahwa ada seseorang lelaki yang mengayomi atau mendapat wasiat untuk memelihara anak yatim. Anak yatim itu diasuhnya bersama keluarganya. Setelah si anak yatim tumbuh semakin besar, hingga menjadi baligh. Pada saat seperti itu, menurut ayat kedua, si lelaki tadi berkewajiban untuk menyerahkan harta si anak yatim. Di saat si anak yatim itu sudah baligh atau ABG atau dewasa, mungkin timbul hasrat untuk menikahinya [kan ada jalaran trisno soko kulino]. Dan jika si anak yatim itu dinikahinya, maka harta si anak yatim kan juga menjadi harta si lelaki [apa benar begitu aturannya]. Disinilah IF pada ayat ketiga berlaku, yaitu jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.

Kalau hanya dipahami sampai disini saja, seakan Allah swt membolehkan poligami. Tetapi apa benar begitu. Ternyata, kalau kita baca kalimat yang mengikutinya [langsung pada ayat yang sama], kondisi IF-THEN itu bersusun. Ada IF-THEN berikutnya. Perhatikan dengan seksama, jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. ”Pintu” yang tadinya dibuka oleh Allah, ditutup kembali [mungkin masih dibuka dengan sangat sempit sekali].

Dari kalimat ini, jelaslah kepada kita bahwa ayat ini difirmankan ketika perbudakan belum dilarang, artinya pada masa-masa awal perkembangan agama Islam. Dengan perkembangan berikutnya dimana perbudakan dilarang, maka OR [atau] pada kalimat terakhir, yaitu “atau budak-budak yang kamu miliki” dengan sendirinya menjadi obsolete [tidak syah lagi].

Kalau digambarkan dalam suatu flowchart, barangkali seperti inilah prosesnya

1 = Mau mengawini anak yatim

2 = Takut tidak adil?

3 = Kawin dengan anak yatim

4 = Kawin lagi dengan wanita lain.

5 = Takut tidak adil?

6 = Kawin seorang saja

[maaf belum bisa caranya memasukkan “gambar” flow chart yang ada]

Yang akhirnya KAWIN SEORANG SAJA. Dan bagi yang masih “nekat” dan “merasa mampu” untuk berbuat adil, maka Allah swt memberikan suatu penjelasan tambahan. Dimanakah penjelasan tambahan tersebut?

Ternyata tak jauh-jauh, masih dalam surat yang sama, hanya pada bagian yang mendekati akhir dari surat tersebut, yaitu pada ayat 129. Tentu ada rahasia tersendiri yang disengaja oleh Allah swt dengan menempatkan ayat tersebut agak berjauhan [dan mungkin juga waktu turunnya ayat ini mempunyai selang waktu dengan ayat 1 sampai dengan ayat 4].

 وَلَن تَسۡتَطِيعُوٓاْ أَن تَعۡدِلُواْ بَيۡنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوۡ حَرَصۡتُمۡ‌ۖ فَلَا تَمِيلُواْ ڪُلَّ ٱلۡمَيۡلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلۡمُعَلَّقَةِ‌ۚ وَإِن تُصۡلِحُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورً۬ا رَّحِيمً۬ا ( ١٢٩ )

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kalau tadi, seakan-akan pintu poligami itu dibuka dan kemudian ditutup [hanya dibuka sedikit], maka dengan ayat 129 ini, sebenarnya pintu itu “sudah ditutup rapat-rapat”. Ingat kata terjemahannya “sekali-kali” bukan lagi “sekali-sekali” yang bisa diartikan kadang-kadang. Dalam istilah matematika khususnya probability, bila dikatakan “sekali-kali tidak akan” itu berarti memiliki probability = NOL, bukan lagi 0,00……….000x % lagi.

Jika sudah kadung kawin lebih dari satu bagaimana? Ikuti garis merah antara proses #5 dan proses #4, yang sebenarnya diperintahkan oleh Allah swt pada penggalan akhir ayar 129 tersebut, yaitu “Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Jika seseorang, “mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan),” Allah swt memberikan suatu janji yang tak pernah diingkarinya, yang dinyatakan dalam kalimat “maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Allah swt menjanjikan ampunan dan kasih sayang bagi mereka yang sudah kadung berpoligami, dan kemudian mau mengadakan perbaikan [improvement] dan memelihara diri dari kecurangan [berlaku tidak adil]. Pintu ampunan selalu dibuka oleh Allah swt.

Kiranya kita tidak boleh sekali-kali mengartikan penggalan terakhir “maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” dengan pengertian bahwa Allah akan mengampuni mereka yang berlaku tidak adil karena beristeri lebih dari satu, melainkan Allah swt akan mengampuni dan menyayangi mereka yang mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan).

Dan secara implisit “mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan),”  kemudian ditegaskan oleh Allah pada ayat yang ke 130 berikut ini

 وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغۡنِ ٱللَّهُ ڪُلاًّ۬ مِّن سَعَتِهِۦ‌ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ وَٲسِعًا حَكِيمً۬ا ( ١٣٠ )

Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.

So what gitu lho?

Jika ada kesalahan dalam mengartikan atau memahami rangkaian ayat-ayat suci firman Allah swt tersebut, maka itu adalah kesalahan dan kekurangan saya. Saya mencoba memahami masalah ini secara sederhana saja, sesuai dengan pengetahuan saya yang masih sangat dangkal, dipicu oleh kasus yang sedang merebak saat ini.

Proses pemahaman saya yang seperti di atas, jelas saat ini bertentangan dengan fatwa Majlis Ulama Indonesia dan pendapat sebagian [bahkan sebagaian besar] para ahli fiqih. Semoga Allah swt memberikan maaf dan ampunan kepada saya, bila saja saya salah mengartikan yang dimaksud oleh firman-Nya. Apalagi pengertian saya, yang bukan saja menutup pintu poligami, tetapi sampai lebih jauh untuk menceraikan yang sudah terlanjur berpoligami. [Mungkinkah saya kebablasan seperti yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi kita dalam kasus perundang-undangan di negeri kita akhir-akhir ini?] Atau memang begitu seharusnya.

Pendapat dari pihak lain, sangatlah diharapkan untuk lebih mendalami hal-hal yang selalu dijadikan cemoohan oleh pihak yang tidak menyukai kaum muslimin dan tidak menyukai Islam itu sendiri, yang didasarkan karena adanya aturan poligami itu. Di sekolah kami, anak-anak murid yang kelas atas [7 – 12] maupun orang tua, banyak bertanya tentang hal ini kepada para guru agama Islam yang ada. Tentu saja mereka jadi repot dibuatnya.

Sesungguhnya Allah Maha Benar firman-Nya. Dan keterbatasan manusia dalam mengartikan dan memahaminya, kemungkinan telah menyebabkan kekeliruan. Semoga Allah swt memberikan ampunan dan maaf kepada kita semua, terutama saya yang berani mencoba-coba mengarti-rangkaikan ayat yang berkenaan dengan pernikahan ini.

 

Wa Allahu a’lam.

09 Desember 2006

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: