Tujuh Belasan

Peringatan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, haruslah selalu kita peringati dengan rasa syukur kepada Allah swt, karena merupakan suatu tonggak yang sangat besar bagi kehidupan suatu bangsa. Kalau pernikahan, menghalalkan sesuatu yang semula haram, maka begitu pula kemerdekaan, yang mengubah status dari banagsa terjajah menjadi bangsa yang merdeka, setelah sekian lama silih berganti direnggut oleh bangsa lain, lebih-lebih lagi yang berbeda keyakinan keagamaan dengan mayoritas bangsa ini.

Selama empat tahun lebih, bangsa Indonesia tidak dapat merayakan ulang tahun pernyataan kemerdekaannya, karena masih harus berjuang dari berbagai upaya pihak penjajah yang akan mengembalikan kekuasaannya di bumi tumpah darah ini. Baru setelah perjuangan fisik seluruh rakyat dan diplomasi para pemimpin, Belanda kemudian mengakui kedaulatan Indonesia di akhir Desember 1949. Sehingga baru pada 17 Agustus 1950 lah, bangsa kita dapat merayakan ulang tahun kemerdekaan tersebut dengan penuh suka cita dan secara terbuka dan sepenuh hati.

Bukannya selama revolusi fisik tersebut proklamasi kemerdekaan tidak diperingati, tetapi peringatannya dilakukan secara terbatas, mungkin hanya sekedar upacara pengibaran bendera. Dimana kita ketahui, bahwa lagu Syukur yang hampir selalu dinyanyikan pada setiap upacara 17 Agustusan, adalah diciptakan oleh Husin Mutahar untuk mengisi upacara 17-an pada tahun 1946.

Berbicara tentang upacara peringatan kemerdekaan, rupanya telah mengalami perubahan format dari waktu ke waktu. Entahlah, bagaimana format upacara semasa Republik Indonesia beribukota di Jogjakarta [1946-1949], sepertinya pengibaran bendera dan aubade [nyanyian bersama anak-anak sekolah] seperti yang kita saksikan saat ini. Tetapi di masa peringatan di Istana Negara Jakarta di masa Bung Karno, yang jelas ada Pidato Resmi Presiden di hadapan peserta upacara, yang disiarkan secara langsung ke seluruh Nusantara, dan wajib didengarkan oleh peserta upacara, walaupun di daerah yang tidak melihat wajah Bung Karno.

Di Gresik, upacaranya pernah dilakukan di depan Kantor Kawedanan, di Aloon-Aloon, dan juga di Lapangan Telogodendo. [Mungkin cece-cece tidak tahu dimana Kawedanan dan bagaimana suasananya waktu itu, tanyalah ke umik dan abah]. Pada suatu upacara, yang dilakukan di halaman Kantor Kawedanan, dan mendengarkan pidato Bung Karno melalui pengeras suara. Karena hanya mendengar suaranya, dan tidak atau belum memahami apa yang disampaikan, maka sebagian besar peserta yang masih usia muda – murid sekolah, pramuka dan lain-lain -, bahkan yang sudah tuapun, banyak yang resah [lelah berdiri] dan bercakap-cakap sendiri. Banyak yang meninggalkan barisan, dan berteduk dibawah pohon asam dan teras Kantor Pos sampai rumah Pak Siswomihardjo. Tiba-tiba suara Bung Karno mendadak tinggi [tanda tidak senang] mengatakan “Hei itu, anak-anakku anggota Pramuka yang dibelakang, ayo berdiri dan kembali ke barisan”. Saya menoleh ke belakang, dan melihat anak-anak Pramuka ketakutan berlarian kembali ke barisan. Rupanya mereka secara reflek melakukannya, pada hal yang ditegur Bung Karno adalah mereka yang di Jakarta. He he. Mungkin itu tahun setelah 1962, karena sudah ada Pramuka, tetapi sebelum 1965, karena pada 1965 upacara dilakukan di Lapangan Telogodendo.

Sebagaimana kita ketahui, Bung Karno adalah seorang orator, yang pandai berpidato, dan memiliki pengetahuan yang luas, sehingga jika berpidato selalu dengan semangat dan intonasi yang berubah-ubah, membuat pendengarnya tidak bosan mendengarkannya. Dan jangan tanya panjangnya.

Sangat berbeda dengan presiden-presiden sesudahnya, bahkan anaknya sendiri yang rupanya tidak mewarisi keahliannya dalam berpidato tersebut. Hebatnya lagi, konon apa yang dipidatokan tersebut adalah buatannya sendiri, bukan ditulis oleh orang lain [speech writer] atau suatu tim, apalagi untuk pidato 17 Agustus tersebut. Dan setiap pidatonya, memiliki judul tertentu. Saya masih ingat beberapa judulnya, terutama yang dilakukan pada tahun-tahun terakhir masa kekuasaannya. Sebagian lagi baru teringat setelah membaca, tetapi ada [banyak] yang malah tidak tahu sama sekali sebelumnya. Untunglah ada Google, sehingga dapat memperoleh kumpulan judul yang ditulis oleh Alit Bondan, yang ibunya adalah penterjemah semua naskah pidato ke Bahasa Inggris [memang bule dianya]. Ada beberapa yang sangat populer dengan singkatannya. Inilah daftar tersebut :

  • Dari Sabang sampai Merauke ( 1950 ),
  • Capailah Tata Tenteram Kerta Raharja ( 1951 ),
  • Harapan dan Keyataan ( 1952 ),
  • Jadilah Alat Sejarah ( 1953 ),
  • Berirama dengan Kodrat ( 1954 ),
  • Tetap terbanglah Rajawali ( 1955 ),
  • Berilah isi kepada hidupmu ( 1956 ),
  • Satu Tahun Ketentuan ( 1957 )
  • Tahun Tantangan ( 1958 ),
  • Penemuan kembali revolusi kita ( 1959 ),
  • Laksana malaikat yang menyerbu dari langit, Jalannya revolusi kita, ( Jarek ) ( 1960 ),
  • Revolusi Sosialisme Indonesia dan Pimpinan Nasional (Resopim) ( 1961 ),
  • Tahun kemenangan ( Takem ) ( 1962 ),
  • Genta Suara Republik Indonesia ( Gesuri ) ( 1963 ),
  • Tahun Vivere Pericoloso ( Tavip ) ( 1964 ),
  • Capailah Bintang – bintang di langit ( 1965 ), dan
  • Jangan Sekali-kali meninggalkan Sejarah ( 1966 ).

 

Rupanya baru pada 1960 judulnya memiliki singkatan, dan judul pada 1965 dan 1966 tidaklah memiliki singkatan resmi. Singkatan yang paling populer, sepertinya adalah Tavip karena ada yang gunakannya sebagai nama putranya dengan imbuhan kata di depan atau di belakangnya, dan juga ada nama jalan [kalau tidak salah di kota Solo]. Mungkin generasi sekarang tidak mengetahui arti dari phrasa Vivere Peri Coloso yang berasal dari bahasa Latin atau Italia ini. Kita dulu juga tahunya dari Bung Karno. Vivere artinya hidup, peri sepertinya ditepi atau dalam [lihat istilah perimeter bagian tepi, seperti wetted perimeter – sebagai bagian selokan yang terbasahi oleh air kalau aliran airnya tidak penuh] sedangkan coloso adalah bahaya. Vivere juga rupanya sekarang menjadi nama dagang suatu barang, entah apa, karena saya melihatnya tercantum di dinding depan KemChick sebelum dibongkar, VI VE RE.

Singkatan judul pidato tahun 1966, “JAS MERAH” yang saat ini agak sering dimunculkan di salah satu televisi nasional, bukanlah singkatan resmi sebagaimana TAVIP, GESURI [sampai ada nama perusahaan perkapalan GESURI LLOYD], JAREK, TAKEM, RESOPIM, tetapi dibuat oleh salah seorang pimpinan KAMI Bandung di depan Gedung Merdeka yang menolak isi pidato tersebut yang dianggap “membela komunis”. Dan kalau tidak salah ingat, sesudah orasi di jalan Asia Afrika tersebut, para demonstran menuju ke ex Sekolah China di Jalan Lembong [depan hotel Istana], yang dijadikan markas KAMI setelah “dinasionaliasi” pasca 11 Maret 1966. Di halaman jalan Lembong inilah, kemudian Soegeng Sarjadi selaku Ketua Presidium KAMI Bandung, secara tak terduga mengeluarkan foto Bung Karno dari dalam bajunya dan menyobeknya sebagai lambang menolak eksistensi Bung Karno di hadapan para demonstran yang terperangah dan terkejut atas aksi yang tidak terduga tersebut. Dan kemudian aksi robek merobek foto / gambar Presiden Bung Karno dilanjutkan ke seluruh wilayah Bandung sampai sore hari. Dan apa reaksi dari para pendukung Bung Karno? Apakah tinggal diam ?.

 

Wa Allahu a’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

19 Agustus 2010

 

Catatan tambahan:

Saat membaca tulisan ini sebelum dipunggah, ternyata saudara Alit Bondan – yang menuliskan nama-nama pidato Bung Karno itu – adalah alumni Matematika-ITB jurusan Matematika, dan aktif di milis sinergi-ia-itb. Ayahnya, Pak Bondan adalah salah seorang yang dibuang Belanda ke Boven van Digul bersama-sama Bung Hatta. Bukan Pak Bondan yang maknyusss.

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: