Tujuh Belasan [2]

Di awal-awal peringatan proklamasi setelah penyerahan kedaulatan, hampir semua pertemuan kampung dengan jalan, dihiasi dengan pintu gerbang berbagai ragam sesuai dengan selera dan kemampuan masing-masing warga kampung. Hiasan bendera kertas berwarna merah-putih juga dapat ditemui di mana-mana. Yang sangat spesifik adalah bola kertas merah-putih, yang dibuat dan dijual oleh Haji Hasjim [benar tha, lupa-lupa ingat] di Kampung Gajah, Gresik, yang diatas pintunya ada patung kepala gaja yang belalainya memegang tiang bendera. Konon hiasan bola kertas itu, diajarkan orang Jepang kala menduduki negeri kita, entah siapa yang bisa meneruskan atau mewarisi keahlian tersebut ya. Sayang kalau tidak ada yang mewarisi keterampilan tersebut.

Seperti di banyak daerah. Aneka lomba juga digelar, baik untuk anak-anak, remaja dan orang dewasa. Ada lomba yang menarik banyak perhatian masyarakat untuk menontonnya, tetapi pesertanya umumnya adalah masyarakat pendatang, yaitu para pelaut atau anak buah perahu yang sedang sandar di brug. Yaitu aneka lomba yang diselenggarakan di brug alias pelabuhan. Di saat diselenggarakannya lomba, perahu-perahu yang sedang sandar, diketengahkan dahulu, sehingga tersedia arena lomba yang luas. Balapan sampan, belumlah begitu seru. Kalah seru dengan lomba menangkap itik berleher panjang. Setelah itik dilepas, maka sampan-sampan yang berisi dua orang [satu bertugas mendayung – satu lainnya bertugas menangkap itik] akan berusaha mendekat. Karena sorakan penonton, itik menjadi “liar”, apalagi setelah didekati sampan dan akan ditangkap, sang itik terbang ke udara. Tidak jarang, karena kehilangan keseimbangan, sampan menjadi terbalik. Belum lagi tabrakan antar sampan. Ini yang sangat menarik [kita cenderung bersorak bila ada orang yang sengsara], entah sekarang apa masih diadakan apa tidak.

Pawai obor dan karnaval, adalah acara yang ditunggu pada malam harinya, dengan tingkat partisipasi yang sangat tinggi dari masyarakat berbagai lapisan dan golongan pada awal tahun 50-an. Masyarakat kita [pribumi] dari berbagai kampung, umumnya menonjolkan sisi-sisi patriotisme dan gambaran perjuangan revolusi fisik/ pertempuran dimasa 1945-1949, atau masa penjajahan Belanda dan Jepang. Sedangkan masyarakat keturunan China maupun yang totok, menampilkan segala keindahan dari budaya mereka, seperti aneka lampion, tari-tarian dengan kipas dan pita panjang serta hal-hal lain yang sangat sedap, indah, menawan dan menarik dilihat. Tentunya dengan iringan musik calangkek [menurut istilah kita-kita]. Entahlah masyarakat jamaah alias keturunan Arab menampilkan apa waktu itu.

Ketika akhir tahun 1950-an, antusias sudah mulai menurun, muncul genre [mengikuti istila musik] baru dalam merayakan peringatan proklamasi ini, yaitu pawai sepeda hias, dalam rangka mengarak Bintang Pelajar yang diintegrasikan dalam peringatan proklamasi. Kemudian diikuti dengan pawai sepeda motor dan mobil. Wah, dijaman yang penuh dengan tekanan komunisme, tentu saja oleh kalangan mereka dijuluki pawai borjuis. Bagi cece-koko yang semuanya tidak menangi jaman itu, tanya sama umik dan abah ya. Penobatan Bintang Pelajar dengan pawainya, terakhir kali diadakan pada Agustus 1974.

Berbagai lomba olah raga juga diselenggarakan, yang diikuti oleh anak sekolah misalnya kasti, gerak jalan, atletik, volley. Yang oleh masyarakat umum, ada volley, badminton, tennis dan tentu saja sepakbola. Beberapa nama kesebelasan yang mewakili masing-masing kampung antara lain Jaya, Sidolig, PORT, Meliwis Putih, Gajah Uling, Samudra, Gapura, Teratai dan satu-satunya wakil perusahaan adalah Semen Gresik. [dari kampung manakah mereka, terutama yang tidak memakai nama desa]. Klub sepak bola yang tidak partisan [asal kampungnya] hanyalah Hizbul Wathon.

Yang tak kalah serunya, adalah lomba gerak jalan. Pesertanya banyak, dan semenjak awal bulan sudah banyak regu-regu yang latihan di jalan-jalan, dengan suara sempritan untuk pengatur irama langkah. Hampir semua mengikuti PBB [peraturan baris berbaris] yang sama, kecuali regu dari sekolah China, yang irama ayunan langkahnya sama, tetapi bunyi sempritannya beda. Dan yang berbeda lagi adalah ayunan tangannya. Pakaian seragamnya hampir semuanya putih-putih, dengan tambahan ornamen berupa topi, selempang dan lain lain. Yang berbeda sekali adalah regu dari sekolah PGAL yang memakai kudung bulet [istilahnya belum jilbab] dan baju kurung. Kalau dilihat saat ini, ya seperti regu dari Republik Islam Iran, seperti pada waktu lomba voley di Petro Kimia pada awal Juli 2010 yang lalu.

Yang menarik dari lomba ini, adalah kegiatan di luar peserta lomba yang berjalan di jalan tersebut. Setiap pihak menyebar spy untuk mengetahui dimana juri lomba bersembunyi, dan kemudian memberitahukan secara diam-diam kepada kepala regunya. Biasanya spy tersebut adalah sukarela, yaitu murid-murid sekolah mereka yang tidak ikut lomba, dan mengetahui ada juri yang bersembunyi. Dengan begitu, peserta lomba bisa menunjukkan kebolehannya dalam berbaris-baris di area yang dinilai tersebut. Kalau harus tegang terus dikira dinilai, kan melelahkan juga. Tetapi sepertinya juga ada juri yang berjalan berkeliling sepanjang route lomba.

Istilah lari marathon atau 10-K yang mulai terdengar di tahun 90-an, belumlah dikenal saat itu. Yang ada hanyalah lomba “lari jauh”, entah jaraknya berapa kilometer. Pesertanya semua amatiran dan dadakan, yang latihannya hanya pagi hari dua-tiga minggu sebelum perlombaan saja. Lombanya antara Duduksampeyan sampai Aloon-Aloon Gresik. Pesertanya berkumpul di Aloon-Aloon dan diangkut dengan truk untuk dilepas di wilayah Duduksampeyan. Entah mengapa dipilih Duduksampeyan, mungkin karena perbatasan Kabupaten Surabaya [namanya waktu itu] yang terdekat dengan Aloon-Aloon. Kampiunnya, yang beberapa kali menjadi juaranya adalah seorang pemuda kurus asal Lumpur [namanya Mustofa, kalau tidak salah].

Yah, setelah 50 tahun berlalu atau setengah abad, keadaan sudah berubah dan semangat merayakan kemerdekaan inipun mengalami perubahan. Kalau perubahan bentuk, tidaklah apa-apa, tetapi kalau perubahan semangatnya – apalagi perubahan yang menurun – terlalu sangat membahayakan. Tetapi ada yang bilang, semangat atau patriotisme kebangsaan, tidak bisa diukur dengan sebagaimana kita bersemangat dalam memperingatinya.

Mungkin lombanya yang harus diubah, mengikuti perubahan jamannya. Anak sekarang mana ada yang mau ya, kalau harus memindahkan uang logam yang ditancapkan di buah semangka yang terlebih dahulu dilumuri dengan angus. Apalagi mata uang logam saat ini hampir tidak ada nilainya. Paling tinggi 500-an, dan baru kemarin ini ada yang 1000-an. Atau mau lomba memecah kendil, dengan uang logam di dalamnya, siapa yang mau basah-basah dengan mengharap sejumlah uang receh, kalau masuk angin biaya beli obatnya malah lebih mahal. Mungkin kalau isinya kendil uang kertas yang dibungkus plastik, lain soalnya kali ya. Apalagi makan kerupuk angin, kalau keselak atau kepelki’en malah repot, dan tiap hari menunya sudah kerupuk angin melulu. Kalau diganti donat kan lebih aman ya. Yang agak elit waktu itu, ada lomba banyak-banyakan makan kuning telur rebus tanpa boleh minum. Kebanyakan lombanya nyiksa melulu. Apalagi panjat pinang. Mungkinkah itu sisa-sisa penjajahan untuk menyiksa orang? Atau karena sifat kebanyakan kita yang senang kalau melihat temannya kesulitan?

Ganti sajalah dengan lomba game-on-line tahun depan ya, dengan hadiah netbook gitu. Intelek. Dan untuk latihan, warnet jadi ramai. Ha ha

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

19 Agustus 2010

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: