Tony Soehartono

Saat itu dunia pertunjukan masihlah sangat langka, dan masyarakat yang baru terbebas dari berbagai perasaan yang mencengkeram akibat revolusi fisik, sangat mendambakan hiburan. Kalau sekarang hiburan semacam itu sepertinya sudah menjadi sesuatu yang biasa, bisa kita temukan sehari-hari dalam berbagai bentuknya, seperti yang dilakukan oleh Limbad yang membawa kokok-beluk alias dares alias burung hantu.

Gresik, di saat itu juga memiliki public figure yang dikenal sebagai Samson Indonesia, dengan badannya yang gempal dan rambutnya yang panjang terurai. Dia bisa menahan ditarik kuda dari sisi kiri dan kanan, perutnya digilas dengan roda Jeep, dan lain-lain. Dan mengadakan pertunjukan keliling ke daerah-daerah, entah sampai mana saja. Namanya adalah Pak Riduwan, tinggalnya di Karang Bolet, belakang bioskop Kencana. Memang dia orangnya keker, dan punya hobbi menunggang kuda. Pada acara arak-arakan Bintang Pelajar 1973, pak Riduwan ini dengan senang hati menerima permintaan kita untuk menjadi sais dari “Kereta Kencana”nya pak Haji Ajis [kakeknya Om Nana, Toko Solo] yang ditarik oleh dua ekor kuda hitam gede miiknya sendiri. Cara mengendali kudanya bukan dengan duduk seperti kusir dokar jurusan Pasar Gresik-Brak Giri, tetapi dengan berdiri dan bertelanjang dada dengan rambut terurai tertiup angin sore.

Anak-anak kecil dan pemuda pemudi bersorak-sorai melihat “kereta kencana” yang tidak pernah dilihatnya lalu lalang di jalan-jalan kotanya, yang berisi penumpang anak-anak kecil murid Asmaaiyah yang berpakaian aneka daerah Nusantara. Sedangkan para orang tua bernostalgia, teringat masa lalu, ketika “kereta kencana” itu masih berlalu lalang di jalanan kota Gresik waktu itu. Entah siapa yang menaikinya ya, tidak pernah menanyakan ke nenek waktu itu.

Nama Tony Soehartono ini, begitu terkenal di daerah kita, setidaknya pada akhir 1950-an, dan juga di beberapa daerah di Jawa Timur, atau entah sampai kemana. Pahlawanpun bukan, pujangga pun bukan, tidak seperti dua pahlawan asal Pulau Bawean yang dihukum gantung di Singapura karena melakukan pemboman di McDonald, Orchard Road ketika berlakunya era Ganyang Malaysia pada waktu itu, pada awal 1960-an. Dia hanyalah seorang musafir kelana.

Yah, setengah abad telah berlalu, tetapi mungkin masih ada yang ingat. Bahkan seseorang di Gresik, begitu terpukaunya dengan sosok Tony Soehartono sampai memberikan nama kepada buah hatinya dengan nama yang sama, tetapi tulisannya agak berbeda, yaitu Toni Suhartono bin Ahmad Noersyamsi. Orangnya ada di Jakarta sekarang. Tetapi dia tidaklah berprofesi sebagaimana Tony Soehartono yang diidolakan oleh ayahnya.

Tony Soehartono mengadakan pertunjukan di Aloon-aloon. Dan sebelum hari-hari pertunjukan, dia mengadakan atraksi akrobat naik sepeda motor Harley Davidson dengan berbagai gaya berkeliling kota, yang waktu itu masih sebatas Perempatan Wak Truno, Perumahan Rakyat dan Perlimaan Pilang [GNI]. Ada pertunjukan melompati api, dikubur dalam tanah selama beberapa waktu dan lain lain. Juga melakukan berbagai atraksi dengan mata tertutup. Tentu saja sangat memukau. Jangankan dengan mata tertutup, dengan mata terbuka saja kita tidak bisa melakukannya.  Entahlah ilmu apa yang dikuasai oleh Tony Soehartono tersebut. Dan ketika saya di Kalianget, mendapat cerita bahwa dia meninggal ketika mengadakan pertunjukan di Aloon-Aloon Sumenep, karena lupa meminta kepada teman seperguruan agar tidak mengganggunya. Wa Allahu a’lam. Kalau ajal sudah tiba, tidak akan bisa dimajukan atau diundurkan walau sesaat, bukan.

Waktu terus berputar, dan perkembanganpun terus terjadi. Setelah peristiwa pemberontakan
G-30-S/PKI, bermunculan banyak organisasi yang mendalami dan mengajarkan ilmu bela diri, dengan menggali berbagai ilmu bela diri yang dahulu telah dikuasai oleh para pendahulu kita. Diantaranya kemudian ada yang bernama Beladiri Tangan Kosong “Merpati Putih”, yang melalui latihan pernapasan untuk menggerakkan berbagai potensi yang tersembunyi dalam diri manusia. Melalui latihan olah pernapasan ini, pesertanya mampu merealisasikan berbagai kemampuan yang selama ini terpendam dalam dirinya. Mengkonsentrasikan kekuatan fisik, yang kemudian sering diperagakan dengan memecahkan balok es, batako, bahkan sampai besi cor tangkai pompa [bukan besi beton lho, apalagi yang U-32], bukan saja dengan tangannya, melainkan juga dengan jidatnya. Bahkan setelah mencapai tingkatan tertentu, akan mampu untuk melihat dengan mata tertutup, seperti yang dipertontonkan oleh Tony Soehartono tersebut. Dan kemampuan ini kemudian banyak dipelajari juga oleh kalangan militer, termasuk anggota pasukan elite negeri ini Kopassus, yang dulunya benama RPKAD lalu Kopassandha.

Yang sering diperagakan adalah melakukan sesuatu dengan mata tertutup berbagai aktifitas yang memerlukan mata sebagai sumber penglihatan. Tetapi entahlah, mengapa tidak pernah [atau juga dilakukan tetapi saya tidak tahu] melakukan melihat isi suatu benda yang tertutup [misalnya isi sebuah koper atau doos] dengan mata terbuka? Sehingga bila hal ini dilatihkan kepada petugas penjaga X-ray conveyor scanner di bandara, sehingga bila ada ketiadaan listrik, calon penumpang tidak perlu menumpuk seperti yang terjadi di Bandara Soekarno-Hatta beberapa waktu yang lalu. Atau digunakan oleh peserta Kuis Super Deal 2 Milyar, untuk melihat apa yang ada dibalik Tirai-1, Tirai-2 dan Tirai-3 untuk menghindari memperoleh Zonk, dan mendapatkan hadiah yang terbesar yang ditawarkan.

Konon untuk mencapai kemampuan tersebut, tidaklah diperlukan bakat-bakat tertentu yang dimiliki seseorang, asal rajin mengikuti berbagai latihan secara rutin dan bersungguh-sungguh. Dan tentu saja diperlukan waktu yang cukup lama. Tetapi saat ini, di dunia yang serba instan, muncul fenomena baru yang disebut sebagai pengkatifan otak tengah. Dimana dengan hanya dilatih dalam waktu tidak lebih dalam dua hari pertemuan, anak-anak sudah bisa melakukan kegiatan dengan mata tertutup, selayaknya kegiatan itu dilakukan dengan mata terbuka, seperti membaca, melihat warna, naik sepeda dengan berbagai halangan dan lain-lain. Itulah yang dipertontonkan di televisi. Tetapi menurut pimpinan lembaga yang melakukan pelatihan, dia sendiri tidak bisa melakukannya. Karena proses pengaktifan tersebut hanya effektif dilakukan pada anak-anak sampai batas usia tertentu saja. Tidak effektif untuk orang dewasa.

Semua orang menyadari, sebagaimana yang sering disampaikan oleh para ahli, bahwa manusia ini hidup hanya menggunakan sebagian kecil saja dari potensi kemampuannya yang dikaruniakan oleh Allah swt. Katanya, sampai beberapa tahun yang lalu, kebanyakan orang hanya menggunakan salah satu sisi dari otaknya, ada yang dominan kiri atau dominan kanan. Sehingga untuk mengoptimalkan kerja otak, maka dilakukan pelatihan untuk mengaktifkannya secara bersamaan atau bergantian dalam bentuk multi tasking, mungkin. Karena kalau hanya satu sisi yang digunakan, maka sisi yang lainnya akan mengganggu bagian yang sedang bekerja. Katanya lho.

Para ahli terus mencari tahu bagaimana sebenarnya cara kerja otak manusia ini, karena dengan mengetahuinya, mereka berharap akan mampu mengoptimalkan kinerja dari otak manusia ini. Dengan berbagai kemajuan dalam pembuatan peralatan, dalam beberapa tahun terakhir ini banyak terkuak hal-hal yang selama ini masih merupakan misteri dari cara kerja bagian tubuh yang ada di kepala kita ini. Bahkan dari Indonesia juga muncul peralatan untuk memantau kerja otak, yang bentuknya seperti helm dengan banyak kabel, yang beberapa waktu berselang diperagakan di televisi. Bagaimanakah sesungguhnya cara kerja bagian tubuh ciptaan Allah swt ini?

 

Wa Allahu a’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

23 Agustus 2010

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: