The Simplest and The Easiest

 

Untuk santap pagi sesudah shalat Ied, banyak orang menyiapkan berbagai menu, sesuai dengan kebiasaan daerah masing-masing. Di daerah tertentu, potong ayam atau potong sapi merupakan sesuatu yang sepertinya setengah wajib. Dan untuk itu ada yang menyiapkannya sepanjang tahun dengan cara mengadakan arisan daging sapi. Setiap bulan membayar tertentu pada seorang “pengumpul” lalu ketika akan lebaran memperoleh sejumlah daging sapi.

Ketupat dengan berbagai asesori, banyak berlaku di berbagai wilayah nusantara ini. Lauknya bisa bermacam-macam, dan sepertinya opor ayam maupun sayur godog dengan bahan pepaya muda menjadi menu utamanya. Waktu pertama kali merantau ke Bandung dan Jakarta, dan tidak mudik pada saat lebaran, sempat terkejut juga, koq sudah banyak orang yang menjual kantong / selongsong ketupat di akhir bulan puasa. Di Gresik dan Madura, ketupat baru dibuat pada hari ketujuh setelah lebaran, yaitu pada saat Riyoyo Kupat atau Telasan Topak [setelah puasa 6 hari di bulan Syawwal].

Untuk masyarakat Gresik, makan pagi setelah shalat ied tak akan dilaksanakan tanpa adanya bandeng sebagai menu utama. Tidak ada ayam atau daging sapi yang terhidang di meja. Ataupun aneka sayuran yang menyertainya. Bagaimanakah bandeng disiapkan untuk menjadi masakan utama tersebut? The simplest and the easiest way. Percayalah. Anak balitapun akan bisa menyiapkannya. Nggak percaya, inilah cara memasaknya

Bandeng di potong menjadi beberapa bagian, umumnya menjadi tiga [kepala, badan, ekor] atau kalau sangat besar, kuali atau belangalah yang menjadi faktor pembatas. Kalau bisa dimasak utuh, itu lebih baik. Lalu dibersihkan bagian perutnya. Dibersihkan, bukan berarti isi perutnya dibuang. Yang dibuang hanyalah empedunya saja, dan mesti hati-hati jangan sampai pecah, atau malapetaka yang kita alami [akan menjadi pahit]. Isi perutnya, yang disebut wedhel, dipisahkan untuk dimasak terpisah atau bersama-sama [tergantung selera]. Bandengnya pun tak usah disisiki, atau dibuang sisiknya. Kita biarkan sisiknya tetap melekat pada kulitnya, yang memantulkan cahaya kesucian.

Siapkan belanga dengan air yang sudah mendidih, masukkan potongan bandeng dan tambahi garam. Wis. Terus panaskan dengan api sedang atau kecil, sehingga garam merasuk kedalam daging bandeng. Ready to serve in the next morning. Tentu dipanasi setidaknya tiga kali sehari, sampai tiba saat disajikan. Dan juga di hari-hari sesudahnya, bila masih ada sisa. Akan tambah yahuuuud.

Mungkin ini suatu perlambang tersendiri, makanan yang serba putih [nasi putih, bandeng yang tetap berwarna putih] disaat kita kembali kepada fithrah yang suci [yang sering dilambangkan dengan warna putih]. Apa enak? Kalau belum mencoba dan merasakan, tidak akan tahu betapa nikmatnya. Kenapa tidak mencobanya di idul fithri yang sudah tinggal beberapa hari lagi ini?

Lalu apa keistimewaan lebaran, kalau hanya dengan menu makanan seperti itu? Pada ikan bandeng-nya. Bandengnya, bukanlah bandeng biasa, melainkan very superior class. Bukan bandeng yang biasa disajikan oleh perusahaan catering untuk menu makan siang di kantor, yang satu kilo isi tiga atau empat, bahkan lima [alias anak bandeng]. Bandengnya, berukuran sekitar 3 [tiga] kilogram per ekor, atau bahkan lebih berat. Seberat bayi manusia yang baru dilahirkan. Bandeng dengan ukuran seperti ini, dibagian perutnya terdapat lemak yang bisa mencapai tebal 1-2 cm [senti-meter, bukan mili-meter]. Makin besar bandengnya, makin asyiiiik menyantapnya. Ayo coba, cari bandeng gede.

Disitulah keistimewaannya, dan untuk itu ada pasar khusus yang diselenggarakan di Gresik semalam sebelum malam takbiran.

 

Allahu Akbar, wa liLlahilhamdu..

Saifuddien Sjaaf Maskoen

10 September 2010

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: