The Days After

 

Sampai tahun 1960, barangkali yang memiliki kulkas sebagai sarana menyimpan dan mengawetkan makanan, terutama sayur-sayuran, mungkin masih bisa di hitung dengan jari. Selain harganya yang belum terjangkau, juga pasokan listrik dari PLN belumlah mencukupi. Apalagi daya listrik mesin pendingin waktu itu masihlah sangat tinggi. Jauh melebihi daya listrik yang disediakan untuk rumah-rumah. Bayangkan, rumah berlantai dua dengan luas total lebih dari 200m2, daya terpasangnya hanyalah 100 VA saja. Dan lampu TL yang agak hemat energi [lumen/watt tinggi] masih agak jarang, belum lagi tegangan listriknya yang menurun dengan drastis bila sudah jauh dari gardu trafo. Sehingga pola memasak juga harus disesuaikan dengan keadaan tersebut.

Pada saat hari H, pasar tutup. Dan baru mulai ada penjual sedikit-demi sedikit pada hari-hari berikutnya. Biasanya pada H-1, para ibu-ibu sudah melakukan “penimbunan” sayur-sayur yang berupa buah [yang agak bisa tahan beberapa hari], misalnya blungko [kerai], kenthi, kubis dan mungkin kacang panjang serta klentang. Kangkung, bayam, dan sejenisnya tidaklah tahan lama, walau diletakkan di kamar mandi.

Bandeng yang hanya direbus dengan garam, tidaklah akan habis pada hari H, bahkan sampai berhari-hari sesudahnya masih tersedia. Bukan karena makanny asedikit-sdikit, tetapi karena memang persediannya banyak. Begitu juga otak-otak. H+1, biasanya “sisa” otak-otak [yang tanpa perlakukan ekstra masih akan bisa tahan selama 2-3 hari] akan dipadu dengan sayur asem [kelan kecut] berbahan blungko atau kacang panjang atau klentang. Atau sayur bening berbahan kenthi. Suatu paduan yang serasi dan menyegarkan, selain juga menyiapkannya cepat dan mudah, mengingat tamu yang berkunjung ke rumah masih banyak atau masih banyak orang yang lebih tua yang harus dikunjungi.

H+2 ketika pasar sudah mulai ada yang berjualan dari daerah-daerah di sekitar kota, walau masih terbatas pada kangkung. Dan penjual kelapapun sudah memulai buka. Lodeh blungko campur kangkung, akanlah sangat serasi dipadu dengan bandeng godok asin yang semakin merasuk garamnya ke seluruh tubuh. Apalagi jika yang tersaji adalah kepala bandeng, yang sudah mulai rapuh dan terberai antara daging dengan tulangnya. Yang suka berebut kepala bandeng adalah para remaja, sedangkan yang sudah dewasa lebih memperebutkan bagian perutnya ketika hari H.

H+3 mulailah dilakukan modifikasi agar tidak berhari-hari menyantap lauk yang sama, dan sudah mulai bosan menyantap bandeng godok asin, walau sudah disertai dengan kombinasi lain yang masih memungkinkan. Ketika pasar sudah mulai ramai, maka mulailah dilakukan upaya modifikasi atas “sisa” bandeng godog asin, yang biasanya tersisa bagian punggung atau ekor. Ada dua pilihan yang tersedia, tetapi biasanya dilakukan dua-duanya pada hari yang berbeda. Kotokan bandeng, dengan menggunakan bagian ekor, adalah pilihan yang jitu, karena bumbunya sama persis dengan lodeh, hanya dibuat lebih kentel. Dan mungkin membuat bumbunya dan memasaknya bisa sekaligus kemarin, hanya menghidangkannya pada H+3. Teman yang serasi adalah sayur bening kenthi atau bayam, sayur meneer dengan bahan kangkung.

Bagian punggung atau perut bandeng yang tersisa, biasanya dimodifikasi menjadi mangut pada H+3 atau H+4. [masih ingatkan kan bumbunya, yang bersama-sama disajikan beberapa waktu yang lalu?].

Habislah sudah otak-otak bandeng dan bandeng godok asin. Pada H+5 mulailah kehidupan normal kembali, dan sudah mulai menyiapkan diri untuk memasak ketupat beserta berbagai lauk pengiring-nya, antara lain petis lading. Apakah saat ini masih sama, ketika kulkas bisa dipenuhi macam-macam bahan makanan? Dan supermarket tetap buka?

 

Wa Allahu a’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

12 September 2010

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: