Tanda Tanda Orang Munafik

Pagi ini ketika membaca Harian Kompas edisi hari ini, mata terbelalak oleh dua artikel, yang satu ada di halaman 12 tentang pendidikan karakter di sekolah kita, dan yang kedua ada di halaman berapa gitu, tentang Rama yang mengalami kebutaan. Sungguh menyayat hati.

Selama ini di sekolah, sering dibahas selain mengenai akhlak masyarakat, juga tentang akhlak anak-anak, dan pelajaran akhlak itu sendiri. Apa yang diberikan, bagaimana memberikannya, dan sebagainya. Tentu saja yang tua-tua, mencoba membandingkan antara dahulu dan sekarang dalam memberikan pelajaran akhlak ini. Sepertinya sekarang ini, pendidikan karakter atau ahlak tersebut tidak diberikan secara khusus [eksplisit], melainkan “terselip” atau “diselipkan” dalam berbagai mata pelajaran seperti Agama, Kewarganegaraan, dan Pancasila. Dan sebagai pelajaran – bukannya pendidikan – dimana anak murid harus menghafalkan sehingga bisa menjawab soal-soal yang diberikan oleh sang guru ketika ulangan atau EHB. Tetapi model seperti ini, juga rupanya dilakukan di luar negeri, yang diistilahkan sebagai “infused” atau diinfuskan kedalam berbagai mata pelajaran yang ada. Dalam mempelajari sesuatu, menurut keilmuan pengajaran dan pendidikan yang ada, ada tiga aspek yang harus dicakup secara seimbang [menurut Bloom yang dikenal sebagai Bloom’s Taxonomi -1957-, yang kemudian direvisi oleh muridnya Anderson pada 2001], yaitu Cognitive, Affective, dan Psychomotoric. Dalam bahasa lain bisa dikatakan, diketahui oleh otak yang ada di kepala [Head], dirasakan oleh hati [Heart] dan dilakukan oleh tangan [Hand].

Mau diajarkan secara khusus sebagai mata pelajaran yang eksplisit, atau mau diajarkan secara implisit melalui banyak mata pelajaran, ataupun mau diajarkan secara ekspliti dalam suatu mata pelajaran dan diperkuat secara implisit [infused] pada berbagai mata pelajaran , sama-sama baiknya. Tetapi tentu ada yang terbaik diantara pilihan-pilihan tersebut. Para pendidiklah yang tahu. Sebutannya dulu ada pelajaran Akhlak, Budipekerti, dan mungkin sekarang Pendidikan Karakter. Apapun namanya, apapun caranya, yang penting bagaimana agar anak-anak didik dapat bertindak dan berperilaku sesuai nilai-nilai yang mulia menurut agama, tradisi dan budaya setempat.

Masih ingat samar-samar, entah benar semuanya atau ada yang meleset, mohon nanti diluruskan ya. Bahwa Rasulullah saw bersabda bahwa “Tanda-tanda orang munafik, adalah bila berjanji dia ingkar, bila berkata dia bohong, dan bila dipercaya dia khianat”. Yang aku ingat sebenarnya adalah “faidza wa’ada akhlasa, faidza hadasa kadzaba, faidza’tumina khaana”. Begitulah salah satu hadis Rasulullah yang diajarkan kepada saya lebih dari setengah abad silam.  Alhamdulillah masih teringat sampai saat ini. Mungkin kalimat yang kuingat tidak benar betul, tetapi pokok-pokoknya masih teringat lah.

Hadis ini tentu saja begitu padat, dengan menghindari tiga hal tersebut, maka berbagai hal yang mungkin terjadi atau dilakukan seseorang akan terjaga dengan baik. Tidak ingkar apa yang dijanjikan, tidak berkata bohong, dan tidak berkhianat atas kepercayaan yang diamanatkan. Mungkin negara kita Indonesia, tidak akan seperti sekarang ini, jika semua ummat tidak melakukan tiga hal tersebut. Masalah berbohong, sangat mudah terjadi mulai dari anak-anak hingga orang tua, dalam berbagai bentuk dan kesempatan. Ella, beberapa waktu yang lalu sempat mengadakan talk-show distasiun radio swasta yang membahas tentang perilaku berbohong pada anak dari tinjauan psikologi dan perkembangan anak. Mungkin juga perlu diperbanyak pembahasan tentang hal hal seperti itu, yang menyangkut kenapa anak dan orang dewasa tidak menepati janji dan juga berkhianat atas apa yang diamanatkan kepadanya. Dalam berbagai bentuknya di kehidupan ini.

Suka menonton acaranya Andy, pria asal Maluku yang dibesarkan di Surabaya/Jawa Timur di salah satu stasiun televisi swasta? Ya, nama acaranya Kick Andy, siarannya malam hari, tetapi kemudian diulang pada sore hari. Hari itu, acara Kick Andy mengemukakan tentang penemuan seorang mahasiswa yang melakukan penelitian untuk tugas akhirnya, dengan membuat alat yang bisa mengkonversi suatu file [entah apa tidak dijelaskan apa Word dari Microsoft, atau PDF dari Acrobat] menjadi tonjolan-tonjolan sesuai dengan huruf Braile yang bisa diraba oleh seorang tuna netra yang sudah terlatih membaca buku dalam huruf Braile. Tentu saja penemuan ini sangat hebat, karena para tunanetra tidak perlu membacanya di buku [menjadikannya paperless], dan bisa membaca segala bacaan yang sudah dalam bentuk file elektronik [e-book]. Dalam kesempatan itu, diminta untuk mencoba adalah saudara Rama, yang datang dengan berpenampilan seperti kesatria samurai dengan pedangnya dan juga suling yang dimainkannya dengan sangat indah dan syahdu. Diperkenalkan juga pada waktu itu, bahwa walaupun mengalami hambatan penglihatan saudara Rama ini sebagai anak muda yang berprestasi, yaitu mampu mengisi ilustrasi musik dari program permainan Nintendo.

Terus terang saya sangat mengagumi kemampuannya itu, dan langsung berpikir, bagaimana caranya dia bisa mengisi ilustrasi musik dari suatu games Nintendo, yang tentunya bila pedang bertemu pedang akan menimbulkan efek suara apa, kan harus pas. Bagaimana dia bisa mengetahui hal itu? Apakah ada software yang bisa membantu orang buta bisa melihat gambar di layar komputer? Saya bangga akan kemampuannya, dan terus terang heran bin takjub akan apa yang telah dilakukannya itu.

Hari ini, saya menemukan jawabannya. Dan sungguh diluar dugaan, dan jawabannya justru adalah sangat mengecewakan. Bagaimana tidak kecewa habis, ternyata saudara Rama ini telah membohongi masyarakat atas prestasi yang dicapainya itu. Masya Allah. Semoga Allah swt mengampuni kesalahannya tersebut, dan juga masyarakat yang telah merasa dibohongi juga memaafkannya. Entahlah apa yang menyebabkan dia berbohong, mungkin perlu dianalisis oleh pakar-pakar psikologi. Tentu ada pemicu yang membuatnya harus melakukan kebohongan itu. Mungkin untuk mengejar atau memperoleh sesuatu yang selama ini diidam-idamkannya dan belum terpenuhi. Siapa punya salah. Apakah masyarakat berkontribusi dalam memicu seseorang untuk melakukan suatu kebohongan dalam mencapai apa yang ingin digapainya. Atau untuk mempertahankan apa yang telah dicapainya? [yang seperti ini bukan untuk saudara Rama].

Walaupun pengakuan akan kebohongan itu  dilakukannya setelah salah seorang menemukannya. Sungguh berat pengakuan yang telah diberikan itu. Dan saya yakin tidak semua orang akan mampu melakukannya, walaupun orang itu tergolong orang besar, yang memangku jabatan tinggi. Dalam hal kemampuan dan kemauannya untuk mengakui kebohongannya, saya sangat salut. Asalkan pengakuan itu dilakukan secara tulus, dan bukannya pengakuan dilakukan karena sudah tidak berkutik karena bukti yang cukup kuat dan tak terbantahkan, atau karena sudah tidak mampu untuk menciptakan kebohongan baru guna menutupi kebohongan yang telah dibuat.

Kalau para pemimpin kita mau belajar dari saudara Rama ini, mungkin keadaan negara kita ini akan segera berubah dengan ijin Allah swt. Betapa banyak kebohongan yang tercipta atau sengaja diciptakan untuk mencapai suatu tujuan atau untuk mempertahankan suatu kondisi, betapa banyak janji yang tidak ditepati dan betapa banyak pula amanat yang telah dikhianati, pada berbagai tingkatan, mulai dari pemimpin di akar rumput sampai pemimpin di pucuk pohon, pada berbagai bidang, adminsitrasi, pemerintahan, perdagangan, politik  dan sebagainya. Semoga Allah swt mengizinkan perbaikan dan kebaikan akan segera terwujud di negeri tercinta ini.

 

Wa Allahu a’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

20 Agustus 2010

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: