Tampil Terampil

 

Tampil terampil tentu saja menjadi idaman setiap orang, dan juga idaman setiap orang tua bagi anak-anaknya. Tampil terampil sesuai dengan yang dibutuhkan dalam menunjang kehidupannya. Sesuai dengan kehidupan yang dijalani atau akan dijalaninya kelak. Tampil terampil di masa lalu, mungkin akan menjadi tampil tidak terampil saat ini. Dan begitu juga tampil terampil pada saat ini, mungkin akan menjadi tidak tampil terampil di waktu yang akan datang.

Coba kita melayangkan pikiran kita kembali ke awal abad XX, atau 100 tahun silam. Berapa banyak orang tua kita yang terampil membaca huruf Latin atau membaca huruf Arab? Adapula yang hanya bisa membaca tanpa bisa menulis? Atau kita bergeser ke 75 tahun silam, keadaannya tentu sudah berubah. Lebih banyak [walau masih sedikit] orang yang bisa baca dan tulis. Sehingga pada masa-masa itu, dikenal suatu pekerjaan yang bernama juru tulis, untuk menuliskan sesuatu yang dibutuhkan oleh orang lain. Misalnya menuliskan surat untuk seseorang yang jauh, dari seorang tua buat anaknya, karena si orang tua tidak dapat membaca dan menulis. Dan belum tentu pula si penerima surat tersebut [anaknya] bisa menulis, tetapi mungkin sudah bisa membaca.

Ketika sang orang tua kemudian menerima balasan surat dari anaknya, karena dia tidak bisa membaca, maka surat tersebut dibawa kepada sesorang yang bisa membacakan surat. Tetapi karena sang orang tua tidak ingin isi surat tersebut didengar oleh si pembaca surat, sang orang tua meminta si pembaca surat untuk menutup kedua telinganya, agar tidak mendengarkan apa yang dibacanya dan tidak mengetahui isi suratnya. He he

Yah, keterampilan membaca dan menulis, sudah merupakan suatu tuntutan semenjak beberapa puluh tahun silam, walau kita masih hidup dalam jaman penjajahan. Juga kebutuhan akan keterampilan berhitung secara sederhana untuk menjalankan transaksi jual beli, menghitung uang kembalian, dan sebagainya. Enam atau tujuh dekade yang lalu, sampai se abad silam, berhitungnya masih sangat sederhana. Sebutan akan nilai uang juga berbeda dengan sekarang. Saat itu dikenal istilah sen, gobang, kelip, ketip, setali alias tiga uang, limolas uang [lima belas uang], seringgit. Hanya sen saja yang mungkin masih dikenal, tetapi tidak lagi muncul dalam kehidupan nyata keseharian kita kini. Bahkan di awal 1950an, mata uang setengah sen pun masih ada.

Mungkin nanti bila redenominasi akan direalisasikan, maka kita dan anak-cucu-buyut kita akan mengenal lagi istilah lama itu, dan tidak mengenal lagi angka trilyun, milyard, dan juta dalam perhitungan sehari-hari. Itu artinya maju atau mundur ya.

Keterampilan berhitung yang sederhana, lebih mendasar kebutuhannya dibanding membaca dan menulis. Walaupun tidak bisa membaca dan menulis, tetapi mengenal perhitungan aritmatika sederhana, seperti tambah, kurang, kali dan bagi. Walau tanpa ditulis, alias dijalankan operasinya secara di luar kepala, yang dulu disebut mencongak. Tentu saja yang lebih mendasar adalah keterampilan berbicara.

Para pendidik di luar sana, memformulasikan bahwa keterampilan dasar selain berbicara yang harus dimiliki adalah 3 R’s [yang sangat dipaksanakan] untuk menyatakan aRithmatics, wRite dan Read. Apakah untuk saat ini dan masa mendatang kita cukup tampil terampil dengan hanya memiliki 3 R’s tersebut? Coba rasakan. Kalau tidak, lalu tambahan keterampilan apa lagi yang diperlukan? Lalu, kalau kita hanya memiliki keterampilan yang hanya tiga itu, akankah bisa menyongsong masa depan yang gemilang?

Untuk anak-anak yang dibesarkan di masa kini, apakah tiga keterampilan itu sudah mencukupi untuk keperluan menimba ilmu atau untuk keperluan mendukung kariernya dalam bekerja. Mungkin secara aklamasi akan bilang tidak cukup. Jangankan untuk mendukung karier, untuk memperoleh tambahan ilmu saja tidak. “Betul, betul, betul”, seperti yang sering diucapkan sepupu jauh kita Ipin, dalam serial kartun anak-anak Upin dan Ipin dari negeri jiran.

Di negara-negara yang maju dalam pendidikan generasi mendatang, ada yang menyebutkan keterampilan sebagai cross circular skills, ada common essential skills, yang pada dasarnya adalah keterampilan dalam

  • Berkomunikasi [tidak hanya sekedar berbicara, tetapi bagaimana menangkap aspirasi orang lain, dan juga menyampaikan pemikiran kepada orang lain dengan berbagai bentuk dan cara, bukan saja dalam bahasa sendiri tetapi juga dalam bahasa dunia];
  • Menggunakan matematika [tidak hanya sekedar bisa menyelesaikan soal-soal dalam kelas, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan bukan saja untuk sekedar jual beli dengan ping-poro-lan-sudo a.k.a x, :, +, – saja; dan
  • Menggunakan teknik informasi dan komunikasi alias ICT [tidak saja mengenal berbagai aplikasi komputer dan peralatan komunikasi, tetapi memanfaatkannya untuk memperoleh dan memanfaatkan berbagai ilmu yang bisa diperoleh melalui penguasaan teknologi tersebut, antara lain tetapi tidak terbatas dalam penggunaan berbagai aplikasi dalam Microsoft Office atau yang sejenis, internet, email, multimedia dan lain-lainnya].

 

Yang sudah selesai kuliah, dan mulai memasuki dunia kerja, apakah sudah menguasai hal-hal seperti itu? Persiapkan dirimu, kalau tidak engkau akan disalip oleh teman yang ada disampingmu, apalagi kalau disalip lewat kiri tanpa membunyikan tuter lagi [maaf tidak pakai kata klakson, karena itu adalah nama dagang]. Tidak ada kata terlambat untuk memulainya.

Tiga puluh tahun silam, ketika itu di Bandung, saya memiliki kalkulator legendaris Casio fx-120, yang kemudian tidak bisa dioperasikan alias rusak. Menurut banyak mahasiswa, konon ada yang bisa membetulkan kalkulator, di toko alat tulis di ujung Jalan Dalem Kaum. Maka pergilah kesana, dengan membawa kalkulator tersebut, dan ditinggal untuk diamblil 3 hari kemudian. Ketika tiba waktunya, saya mengambilnya dan ternyata benar kalkulator sudah bisa kembali digunakan. Saya minta kepada penjaga toko tersebut untuk bisa bertemu dengan yang mereparasi kalkulator tersebut guna mengetahui mengapa kemarin tidak bisa dipakai.

Dalam bayanganku, yang muncul nanti adalah seorang pemuda, ternyata yang keluar dari balik pintu adalah seorang yang sudah tua, jauh diatas usia saya waktu itu, bahkan usianya sudah sama dengan saya sekarang. Dengan jelasnya dia menguraikan apa penyebab tidak berfungsinya kalkulator tersebut, dan apa yang dia lakukan agar bisa berfungsi lagi. Seorang kakek, yang mampu memperbaiki peralatan dengan teknologi yang baru, yang mungkin baru muncul disaat dia sudah mencapai usia senja. Wow, semangat belajar untuk menggapai ilmu yang baru yang patut untuk diteladani oleh para generasi muda.

Betul-betul mengamalkan sabda Rasulullah saw, “Uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi”, “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga ke liang kubur”. Kalau yang “Uthlubul ilma walau fi Shin” tidak usah disangsikan lagi karena memang dia adalah dari sana [nenek moyangnya]. Sepupu jauhnya A Hong mungkin.

 

Terus mengasah diri agar selalu berada di depan, dan mampu tampil terampil sesuai dengan tuntutan zaman pada bidang yang kita geluti. Semoga Allah swt selalu menambahkan ilmu yang bermanfaat, dan merizkikan pemahaman atas segalanya kepada kita semua, sehingga kita dapat memberikan manfaat semaksimal mungkin bagi sekitar kita dan masyarakat luas.

 

Amien.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

21 Agustus 2010

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: