“SISI GELAP” SUATU KEMAJUAN TEKNOLOGI

Perkembangan teknologi yang terjadi semenjak zaman dahulu, hampir selalu memiliki “sisi gelap”, tetapi lebih banyak lagi sisi terangnya. Kalau hamr dalam al-Quran disebutkan walau memiliki manfaat, tetapi mudharatnya lebih banyak dari manfaatnya, yang tentunya berlawanan dengan kemajuan teknologi, yang bisa kita bilang lebih banyak manfaatnya dibanding mudharatnya.

Tekonologi dalam mempertinggi kadar suatu zat yang terlarut dalam suatu larutan, ditemukan dengan cara menguapkan larutan tersebut dan kemudian mendinginkan uap yang terjadi, sehingga diperoleh suatu cairan yang memiliki titik didih lebih rendah dalam konsentrasi yang tinggi, bahkan mendekati kemurniannya atau setidaknya 99,9% persen. Walau ada larutan yang tidak bisa mencapai kemurnian seperti itu, karena adanya anomali dalam larutan tersebut. [Maaf, kalau kalimatnya menjadi rumit]. Kita mengenalnya sebagai proses destilasi. Dan teknologi ini, berlangsung sampai sekarang, dan manusia memperoleh manfaat yang tiada tara dari penemuan teknologi ini. Yang menemukan tekonologi ini, konon adalah para peneliti dan ilmuwan Muslim pada masa itu, yang selalu berusaha dengan motivasi sangat tinggi karena perintah Allah swt dan tuntunan nabi-Nya Muhammad saw.

Di alam raya, teknologi ini selalu berlangsung setiap hari, berupa penguapan dari air dipermukaan bumi [yang mungkin tercemar dengan berbagai zat, barang haram, barang najis dlsb] dan kemudian didinginkan di atas sana, menjadi cairan air yang murni setara aqua destilata atau disingkat aquadest.

Tahukah kita, bahwa pada awalnya [entah siapa yang memulai] minuman keras atau hamr diperoleh dari proses fermentasi alami, perubahan karbohidrat menjadi alkohol dari berbagai macam buah-buahan yang mengalami “pembusukan” oleh jasad renik [mikro organisma] yang berlangsung secara alami. Proses tersebut berlangsung dan berhenti dengan sendirinya sampai tercapai keseimbangan, diantara penyebab berhentinya karena jasad renik tersebut tidak lagi bisa mempertahankan tugasnya – bahkan kehidupannya sendiri alias mati. Dan seperti biasanya, manusia mencoba meniru apa yang terjadi dan berlangsung secara alamiah tersebut bagi kepentingannya, dan bahkan mempelajari proses tersebut guna mengenali dan memperbaiki untuk memperoleh manfaat lebih alias added value.

Di sisi lain, konon para peminum hamr [yang menginginkan dirinya bisa lebih cepat mabuk bila meminumnya] yang merasa kurang puas dengan kadar alkohol yang diperoleh dari proses fermentasi alami tersebut, melihat adanya peluang untuk meningkatkan kadar alkohol dalam hamr dengan adanya teknologi destilasi tersebut. Para peminum hamr [entah yang di masyarakat Islam atau non-Muslim] kemudian melakukan destilasi atas hamr yang berkadar alkohol rendah menjadi lebih bahkan sangat tinggi, seperti yang kemudian disebut sebagai whyski atau whisky [mana yang betuk ejaannya, maklum tidak karib dengan kosa kata tersebut]. Bukankah ini merupakan “sisi gelap”suatu kemajuan teknologi?

Lain dengan di negeri tercinta ya, yang melakukannya dengan mencampur hamr dengan berbagai hal lain, yang bukan saja menjadikannya hilang akal [kalau memang punya akal], hilang ingatan, bahkan mencapai puncaknya dengan hilang nyawa. Ini juga sebenarnya menggunakan teknologi pencampuran, teknologi pelarutan yang dalam bahasa Belanda-nya dosebut oplos [ejaannya sudah lupa juga, karena sewaktu kuliah tidak digunakan, tetapi ketika di Kalianget justru mengenalnya].

Penemuan dinamit atau TNT [tri nitro toluene] – kalau yang ini masih ingat lho – , juga tidak lepas dari “sisi gelap”suatu kemajuan teknologi. Dan itu kelak disadari oleh penemunya Alfred Nobel, yang kemudian melakukan “taubat” dengan memberikan Hadiah Nobel bagi orang-orang yang berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya bidang kedokteran, fisika, kimia dan kemudian diperluas dalam bidang sastra dan perdamaian. Yang berlangsung hingga kini, dari hasil royalti penggunaan dinamit tersebut. Dan tentunya masih banyak lagi penemuan teknologi yang memiliki sisi gelap dari penerapannya, atau setidaknya ada pihak-pihak yang memanfaatkannya bukan untuk tujuan asalnya.

Masih segar dalam ingatan saya, ketika televisi masih hitam putih dan saya masih di Kalianget, [artinya sudah 30 tahun yang lalu] Prof. Dr. Ing. Iskandar Alisjahbana yang saat itu menjabat Rektor ITB, yang menggambarkan dalam suatu grafik [karena itu masih teringat – contoh mengapa penting penggunaan mind-map -], bahwa suatu sistem [termasuk teknologi] selalu memiliki sisi disadvantage. Dan disadvantage yang ada, itu nanti akan menimbulkan suatu sistem atau teknologi baru, yang tentunya masih akan memiliki disadvantage atau bahkan disadvantages, dan begitu seterusnya. Begitulah kemajuan sistem dan teknologi justru itu dipicu oleh adanya disadvantage.

Kalau kita melihat mobil pada awal kelahirannya, mungkin sulit. Tetapi kiranya masih bisa melihat [bahkan pernah mengalami mengendarainya] mobil yang sangat sederhana dari sisi teknologi. Salah satu diantaranya, adalah Landrover Seri I, yang dikembangkan pada saat berkecamuknya Perang Dunia ke II dan terakhir di produksi pada tahun 1957. Versi terakhirnya, pernah saya kendarai sebagai mobil dinasku – yang oleh kawan-kawanku diberi julukan “montore bajingan” – sangatlah sederhana sekali. Konon sebagaimana diklaim oleh produsennya, bisa dibongkar / diperbaiki bodi dan mesinnya hanya dengan menggunakan sebuah obeng dan kunci pas saja. Bayangkan sekarang, sebuah HP yang harus dibuka dengan berbagai macam obeng. Saat ini, bukan saja obeng ‘-‘ dan ‘+’ atau obeng kembang atau obeng Philips saja, tetapi bermacam-macam profil, yang mungkin tidak lagi diberikan nama untuk mengenalinya.

Bandingkan mobil Landrover Seri I tersebut dengan Landrover yang sekarang. Atau dengan mobil-mobil merk lainnya. Tentu sudah sangat berbeda sekali. Kalau ada yang mau menulis, tentu akan sangat menarik sekali. Hayo, siapa.

Jadi sisi disadvantage atau sisi gelap suatu sistem atau teknologi, akan memicu suatu perkembangan baru, demi kenyamanan dan manfaat bagi manusia. Jangan sampai karena ada disadvantage atau mudharat pada sistem atau teknologi, lalu kemudian sistem atau teknologi itu dilarang. Allah swt Yang Maha Kuasa, tentu mampu untuk menghilangkan hamr dari muka bumi ini semenjak dahulu dan untuk selama-lamanya, tetapi itu tidak dilakukan, dan hanya memberikan larangan dengan memberikan peringatan bahwa mudharatnya lebih banyak dari manfaatnya.

He he, seperti halnya BlackBerry yang lagi diributkan saat ini. Apakah karena teroris [atau pejuang menurut versi mereka] menggunakan tekonologi tersebut dalam aksinya, lalu teknologi enkripsi yang dioperasikan oleh RIM ini harus dilarang digunakan dimana-mana? Karena pemerintah setempat terganggu kepentingannya, karena tidak mampu menyadapnya demi alasan keamanan negara, lalu kemudian melarang dioperasikan di negera tersebut.

Mungkin sangat benar apa yang dikatakan Roy Suryo pagi ini di TVOne, “Kalau tidak bisa menyadapnya, ya cari cara agar bisa menyadapnya [tentu dengan mengembangkan sistem atau teknologi]. Ada yang bisa koq”. Karena itu saya teringat uraian dari profesor tersebut. Yah, mungkin sekarang masih sulit untuk menyadapnya. Tetapi dengan perkembangan baru, tentu tidak lagi.

 

Fa inna ma’al usri yusro. Inna ma’al usri yusro.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

06 Agustus 2010

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: