Sampak GusUran

 

Dua atau tiga hari yang lalu, saya menyaksikan langsung penampilannya di acara pagi TV One, sangat menarik karena sangat berbeda dengan kelompok musik yang ada. Penampilannya dan gayanya, mirip-mirip Kiyai Kanjeng yang dipimpin oleh M.H. Ainun Najib, yang mungkin masih populer hingga saat ini. Selain mengkombinasikan alat musik tradisional dengan alat murik modern, GusUran yang berasal dari Pati ini juga menampilkan beberapa wayang kulit serta puisi dan shalawat dalam penampilannya. Adalah Anis Shaleh Baasyin yang memimpinnya. [Fahm yang langka juga].

Yang membuat saya tertarik dan terkesan adalah performancenya yang menampilkan kata-kata [nggak persis betul ya]

 

Wong bodoh kalah karo wong pinter;

Wong pinter kalah karo wong bejo;

Wong bejo kalah karo wong nekad;

Wong nekad kalah karo wong edan.

 

Kita bisa mengerti urutan yang disebutkan di atas, dan kita mungkin akan geleng-geleng kepala melihat urutan seperti itu. Benarkah seperti itu? Kalau betul, lalu buat apa susah-susah belajar atau sekolah atau kuliah agar menjadi pintar?

Sampai kepada baris “Wong pinter kalah karo wong bejo”, kita mungkin bisa menerima secara aklamasi. Betapa banyak orang yang pinter dalam suatu sekolah, namun ketika sedang menjalani ujian sedang “kurang bejo”, apalagi kalau sedang “tidak bejo”, maka hasilnya tidaklah akan optimal atau maksimal. Faktor kepintaran dan kebejoan, memang haruslah beriring untuk mencapai suatu yang maksimal. Karena itu banyak juga orang tua yang memberikan nama kepada anaknya dengan nama Untung, Bejo, atau Fauzan bahkan Fauzan Adzima, tentunya dengan harapan agar keberuntungan selalui menyertai anaknya kelak, dengan izin Allah swt. Pintar itu perlu, tetapi pintar saja memang tidak cukup, faktor bejo memang lebih dominan dibandingkan faktor kepintaran dalam menentukan keberhasilan.

Dalam menjelaskan baris ketiga “Wong bejo kalah karo wong nekad”, yang bagi kita mungkin agak sulit mencari contohnya dalam dunia nyata, sang pimpinan grup ini menjelaskan “misalnya ada orang yang bejo menemukan sesuatu barang di jalan, lalu ada orang nekad yang mengaku bahwa barang itu adalah miliknya, maka orang yang bejo tadi tentu akan menyerahkan pada orang tersebut – yang nekad ”. Orang nekad itu kan tidak pakai alasan atau pertimbangan, apalagi perhitungan akan berbagai risiko. Berani dan nekad dalam bahasa kita kan beda konotasinya.

Kita mengenal kelompok pendukung suatu kesebelasan yang sering menggegerkan daerah dimana mereka berada, karena hanya bermodalkan kenekadan mereka berani melakukan perjalanan jauh selama berhari-hari dengan menumpang apa saja, dan meminta paksa makanan disana-sini, agar bisa menonton pertandingan kesebelasan yang didukungnya. Siapa lagi kalau bukan si Bonek alias Bondo Nekad. Dan ternyata memang mereka selama ini “selalu menang”.

Selanjutnya, kata pemimpin GusUran ini, “Kalau orang yang nekad tadi ketemu dengan wong edan yang meminta barang tersebut, tentu akan menyerahkannya”.

He he. Sing waras ngalah, barangkali itu pedoman yang akan diikuti. Jadi nanti bila ada kelompok pendukung sebuah kesebelasan yang benar-benar bermodalkan keedanan, atau Bondan alias Bondo Edan, barulah Bonek akan nyerah.

Semoga tidak ada ya, dengan Bonek saja banyak pihak sudah dibuat repot dan perot. Apalagi kalau ada yang Bondan.

 

Wa Allahu a’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

19 September 2010

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: