Quotum

Adakah yang mengenal kata ini? Generasi muda saat ini mungkin kurang akrab dengannya, tetapi ummat Islam dewasa yang hidup di tahun 1950-an saya kira sebagian besar mengenalnya. Terutama mereka yang tergolong calon jemaah haji Indonesia.

Di tahun lima puluhan pada abad ke XX, jumlah calon jemaah haji setiap tahunnya cukup besar sehingga melebihi kemampuan pemerintah untuk memberangkatkannya. Saat itu jumlah jemaah haji dibatasi oleh kemampuan pemerintah dalam menyediakan dana dan fasilitas transportasi yang akan digunakan untuk mengangkut jemaah haji dari bumi pertiwi ke tanah suci dengan menggunakan kapal laut yang ada.

Saat itu kemampuan pemerintah menyediakan devisa sangatlah terbatas, terutama pada masa zaman Ekonomni Terpimpin dibawah pemerintahan Bung Karno. Dimana saat itu, terjadi kurs resmi dan kurs gelap yang memiliki perbedaan cukup besar. Berangkat haji pada saat itu ibarat memperoleh hadiah yang sangat besar dari pemerintah. Bagaimana tidak, biaya ongkos naik haji [ONH] yang dibayarkan oleh seseorang jauh lebih kecil dibandingkan dengan living-cost yang akan diterimanya di tanah suci nanti.

Perjalanan dilakukan dengan kapal laut, katanya 2 minggu baru sampai di Jeddah. Dan pemerintah membentuk suatu Perseroan untuk memiliki kapal sendiri guna pengangkutan jamaah haji, dengan membeli kapal-kapal bekas, antara lain dengan nama Tampomas, Le Havre Abeto, Belle Abeto dan entah apa lagi. Dananya dari sebagian ONH tersebut. Saya tidak tahu pasti, mungkin kapalnya berbeda hanya namanya saja yang dipakai, sehingga digunakan nama Tampomas II – yang tenggelam di perairan Masalembo beberapa dekade yang lalu. Kapal-kapal yang lainnya mungkin sudah menjadi besi tua.

Direktur Utama dari perseroan tersebut, adalah seorang perwiwa menengah CPM, kalau tidak salah adalah anak dari pengarang cerita roman yang berlatang belakang tanah Minangkabau, mungkin Marah Rusli, yang mengarang Siti Nurbaya. Kalau tidak salah, karena mismanagement perusahaan pelayaran tersebut akhirnya gukung tikar.

Seseorang yang mendaftar untuk naik haji, harus menunggu sampai bertahun-tahun, bahkan tidak jarang yang keburu meninggal sebelum berangkat, karena yang mendaftarpun sebagian besar sudah berusia senja. Ada yang sampai delapan, sembilan atau bahkan sepuluh tahun baru bisa berangkat. Saat itu, seseorang baru bisa berangkat setelah memperoleh kuotum atau dibunyikan kotum. Jumlahnya ditentukan oleh pemerintah, satu kabupaten dapat berapa kuotum. Kalau tidak salah, orang yang telah mendaftar paling banyak, mendapat prioritas pertama untuk memperoleh kuotum. Kalau sisanya tidak cukup untuk satu kelompok, barulah diadakan undian yang diikuti oleh sekelompok pendaftar dengan tahun yang sama. Atau mungkin tanpa pengelompokan seperti itu, karena saya pernah ikut menyaksikan undian seperti itu [entah pada tahun berapa] yang dilakukan di gedung Bioskop Kencana [yang letaknya di dekat perempatan dimana Wak Truno berjualan ayam hidup]. Satu gedung itu penuh sesak, mulai dari pagi sampai sore. Mungkin cara yang pertama, karena disitulah saya mengenal kata kategori yang membedakan berapa kali seseorang calon jamaah telah mendaftarkan diri.

Jamaah haji waktu itu, banyak yang tua-tua dan juga buta akasara latin, tetapi bisa baca huruf arab atau untuk tulisan pegon. Tetapi ada juga yang tidak tahu apa-apa. Bahasa Indonesia juga tidak bisa.

Pada awalnya, awal 1950-an, jumlah yang mendaftar masih sedikit. Saat itu, yang mendaftar “diuji” pengetahuannya tentang dasar-dasar keagaman dan juga pengetahuan umum. Saya masih ingat bagaimana ibuku menanyakan kepada mereka satu persatu, siapa nama presiden, apa nama negara kita dan lain lain. Untuk calon jamaah haji wanita, dilakukan di rumah. Entah yang calon lelaki dilakukan dimana.

Pesawat udara, belum digunakan untuk pengangkutan jamaah haji. Seingatku, jemaah haji udara yang pertama dari Gresik, adalah Aa’ –sebagaimana saya memanggilnya – atau KH Noersjamsi. Mungkin tahun berikutnya, serombongan keluarga muda dari Gresik berangkat dengan menggunakan pesawat terbang, yang kalau tidak salah antara lain pasangan H. Bakri Samad, H. Basuni Ibrahim, H. Achwan, H. Toha Ilyas, H. Dimyati -?- [toko Asia], dan H. Chasan [julukannya Tete] yang dalam perjalanan pulang meninggal di udara antara Jeddah dan Ranggon, sehingga kemudian pesawat mendarat darurat di Ranggon, dan dimakamkan disana. Konon kalau jemaah haji dengan angkutan laut, bila meninggal dunia dalam perjalanan, maka akan dimakamkan di laut dengan cara menceburkannya. Dan kemudian angkutan udara tersebut ditiadakan lagi. Sampai kemudian di awal tahun 1960an, H. Farid Alwi Isa dan isteri melakukan perjalanan haji dengan pesawat udara, yang mungkin diistilahkan saat ini, dengan menggunakan paspor hijau [alias bukan diurus oleh pemerintah].

Pada zaman itu, kemudian perjalanan haji bisa memilih lewat laut atau lewat udara. Sampai suatu saat, hanya perjalanan dengan udara saja yang diselenggarakan oleh pemerintah. Pada zaman orde baru, karena sistem devisanya terbuka, dan ONHnya tanpa subsisi pemerintah, artinya semua biaya ditanggung jamaah haji, dan keadaan prasarana dan sarana sudah mulai membaik, perjalanan haji tidaklah lagi ada kuotumnya. Mendaftar tahun ini, ya berangkat tahun itu juga. Bagi orang-orang tertentu – terutama pejabat pemerintah – ada fasilitas untuk berangkat paling akhir dan pulang paling awal, sehingga hanya meninggalkan tanah air tidak lebih dari dua minggu.

Melihat ada peluang seperti itu, banyak punya kalangan swasta yang tergiur oleh perjalanan haji dengan waktu yang singkat tersebut. Peluang ini tentu saja tidak dibiarkan oleh mereka yang memiliki naluri bisnis tinggi. Mereka menyediakan layanan ONH Plus, dimana penyelenggara meminta / mengatur keberangkatan se akhir mungkin, selama di tanah suci tidak menggunakan fasilitas yang disediakan pemerintah, dan kemudian pulangnya menggunakan penerbangan reguler [membuang jatah pulangnya yang akhir].

Setidaknya sampai saat saya naik haji di tahun 1991, setelah Kuwait gagal dianeksasi oleh Irak, masih bisa mendaftar langsung berangkat. Entah mulai tahun berapa, diterapkan penggunaan kuota tersebut, dan kenapa menggunakan istilah kuota bukan kuotum. Kuota adalah bentuk jamak dari kuotum, sebagaimana datum dengan data. Dan mungkin istilah itu digunakan agar masyarakat tidak “trauma” dengan pengalaman kuotum di masa lalu.

Ada perbedaan yang mendasar dari penerapan kuotum dahulu dengan kuota saat ini. Kalau kuotum ditentukan oleh pemerintah karena keterbatasan devisa yang dimiliki pemerintah Indonesia, tetapu kuota ini ditetapkan oleh Organisasi Konferensi Islam, karena keterbatasan fasilitas di Tanah Suci, mengingat jumlah jamaah dari negara Islam lainnya juga meningkat, seiring dengan peningkatan kemakmuran yang memungkinkan muslimin dari berbagai negara untuk menunaikan perintah Allah swt untuk menunaikan ibadah haji. Saat ini kuota ditetapkan sebesar 1 per mil dari penduduk muslim di suatu negeri, dan tahun ini 2010 Indonesia memperoleh kuota 211.000 jamaah haji.

 

Semoga semua jamaah haji tahun ini diterima hajinya dan dijadikan Allah swt sebagai haji yang mabrur.

 

Amien

Saifuddien Sjaaf Maskoen

09 Agustus 2010

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: