Perampokan

 

Akhir-akhir ini berita perampokan banyak muncul di layar kaca kita, baik perampokan toko emas, perampokan bank, perampokan nasabah bank, perampokan di jalanan dan juga perampokan di kantor, maupun perampokan di rumah tinggal. Kejadiannya pun terjadi di Jakarata, kota besar, kota kecil dan bahkan pedesaan. Perampokpun menggunakan berbagai senjata, mulai dari golok, badik, clurit, pistol, revolver, dan bahkan senjata otomatis yang sangat legendaris seperti M-16 dan AK-47.

Yang paling menarik adalah perampokan [sebenarnya pencurian] yang terjadi di Situbondo, dimana nasabah bank mengambil uang dari bank, lalu berhenti untuk berbuka puasa dan kemudian kembali berhenti lagi untuk pijat [karena badannya terasa lelah]. Entahlah, apa sebabnya mereka melakukan itu semua. Seharusnyalah seorang kasir atau bendahara mengetahui dan mematuhi aturan-aturan baku dalam membawa uang tunai. Bukankah beda antara perampokan dan pencurian adalah korbannya tahu apa tidak. Kalau korban mengetahui atau dilakukan terang-terangan, dan korban tidak berdaya karena berbagai sebab, disebut perampokan. Sedangkan kalau korbannya tidak tahu itu adalah pencurian. Para pewarta kita rupanya tidak lagi memperhatikan arti masing-masing kata tersebut.

Bukankah sudah banyak cerita sebelumnya, yang dari cerita itu seharusnya para nasabah bank yang membawa uang tunai [apakah mau setor atau habis mengambil] tanpa berhenti disembarang tempat walau itu merupakan suatu kebutuhan mendesak, misalnya mengisi bahan bakar [harus dicukupkan  untuk sampai kembali ke tempat asal], memompa atau mengganti ban kempes [yang mungkin sengaja dipasangi paku oleh calon perampok] ataupun oleh sebab lain. Selagi masih bisa jalan, jalan terus sampai berada di tempat aman, misalnya masuk kantor polisi atau tentara. Bahkan sering juga kita dengar, perampokan dilakukan ketika calon korban sudah sampai di kantor/ rumahnya, saat keluar atau menunggu pintu gerbang dibuka.

Saya dulu ketika masih di STM, beberapa kali disuruh Bapak Koen untuk menyetorkan uang ke bank. Ada kantor bank yang terletak di jalan Panggung [dari Terminal Jembatan Merah, melewati jembatannya, lalu melewati Pasar Pabean] – entah lupa bank apa namanya -, dan ke kantor Bank Koperasi Tani dan Nelayan [BKTN] yang terletak di Jalan Kaliasin – sebelah barat jalan – entah sekarang jadi apa. Saya dipesan agar tidak tolah-toleh dan tidak berhenti kecuali di banknya. Tahu nggak cara membawa uanganya? Dimasukkan ke dalam bekas kantong terigu, agar tidak menarik perhatian. Dan kata Bapak Koen, orang nggak akan mengira kalau kamu membawa uang. Alhamdulillah tidak ada kejadian apa-apa yang tidak diinginkan. Jadi perlu ada trik dan tip serta memperhatikan hal-hal tertentu untuk dipatuhi. Semoga keluarga kita selalu dalam lindungan Allah swt, dan dijaga dari berbagai perbuatan orang yang tidak kita harapkan.

Ketika saya masih sekolah di MINU Sukodono, mungkin tahun 1954, terjadi perampokan yang cukup menghebohkan di waktu itu, yang terjadi tidak jauh dari rumah di Garling. Dan bahkan kejadiannya adalah di depan rumah Bedilan sekarang. Perampokan sarang burung yang siap ekspor, dari keluarga pedagang pengumpul sarang burung tersebut. Samapai sekarang keluarga itu masih tinggal disitu, entahlah apakah profesi orang tuanya dulu masih dilanjutkan hingga sekarang.

Dan mungkin ketika saya masih di SMPN Gresik [entah masih SMP saja atau sudah SMPN I] juga terjadi perampokan dengan penganiayaan terhadap seorang wanita tua pedagang [melijo] perhiasan emas dan intan-berlian, yang perampoknya sangat dikenalnya. Jadi polisi dengan cepat dapat menangkapnya. Untuk menemukan barang bukti, polisi harus menguras sumur.

Entah apa motifnya, ketika saya sedang sekolah di SMP juga [kalau tidak salah], terjadi perampokan di Surabaya, yang pelakunya berasal dari Gresik dengan menggunakan sepeda kumbang alias bromfiet [belum ada sepeda motor bebek] yang dipinjam dari temannya di Gresik. Perampokan dilakukan bersama temannya dari Surabaya. Hendaknya cerita seperti ini menjadi pelajaran bagi semua orang, terutama keluarga kita, agar terhindar menjadi korban – baik berupa pencopetean, penipuan, pencurian, apalagi perampokan yang akan membawa trauma sepanjang masa. Na udzu bi Llahi min dzalik.

Saya sendiri pernah menjadi korban pencopetan, ketika sedang kuliah. Ketika itu mau pulang ke Gresik dengan naik kereta api. Membawa sendiri koper dan tas yang dijinjing di tangan kiri dan kanan. Sebelum berangkat sudah bersiap-siap, uang yang tidak seberapa dipisahkan di kantong celana kira dan kanan [untuk antisipasi, seandainya dicopet satu masih ada yang tersisa di satunya]. Maunya sebagai tindakan preventif. Tahu apa yang terjadi? Ketika masuk ke gerbong kereta, banyak juga yang mau masuk, dan terasa perut ada yang menggelitik. Setelah sampai di tempat duduk, dan meletakkan bawaan, kemudian memeriksa kantong, eee tahunya dua-dua kantong raib isinya. Tega amat ya.

Hendaklah kita selalu berhati-hati, di semua temat dan keadaan. Orang yang berniat jahat tidaklah mempertimbangkan tempat dan korbannya. Apakah di tempat kotor, netral atau di tempat yang suci. Pencurian di masjid, walau sebatas sandal, sepatu atau ransel atau tas sudahlah sering terjadi dan terdengar, ketika korban sedang melaksanakan shalat. Bahkan kotak amal yang ada di masjidpun dicuri atau dirampok. Bahkan orang yang sedang melakukan thawafpun bisa menjadi sasaran pencopetan, bahkan dengan modus berupa penyiletan tas atau kantong yang ada di ikat pinggang model jago silat itu [bahannya terpal tebal].

Di tanah suci, dan di dua masjid yang disucikan, yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, sering juga terjadi upaya meminta uang dengan menimbulkan rasa kasihan korban dan memanfaatkan sifat atau ajaran untuk memperbanyak amal selama melaksanakan ibadah haji, dengan modus menyatakan dirinya kehilangan uang serta paspor yang dimilikinya. Mereka beroperasi secara perorangan, bisa lelaki dan bisa wanita, dengan berpakaian ya seperti jamaah haji atau jamaah umrah. Karena kita berbeda bangsa dengannya, mereka biasanya menggunakan bahasa Inggris yang terbata-bata atau sudah mempersiapkann selembar kertas lusuh dengan tulisan dalam bahasa Indonesia atau Melayu. Mereka tahu dari pakaian yang kita gunakan, yaitu sarung dan kopyah hitam. Mereka umumnya dari anak benua Asia Selatan, tetapi tidak tertutup kemungkinan sekarang meluas dari daerah lain.

Mereka beroperasi di saat kita sedang menanti antara dua shalat dengan tetap dalam masjid, yang lazimnya antara Ashar-Maghrib dan Maghrib-Isya, dimana jamaah lebih baik menunggu di masjid dari pada pulang ke pemondokan. Mereka biasanya memulai dengan duduk disamping kita, ketika kita melakukan shalat sunnah. Dan ketika sudah salam, langsung mereka beraksi. Atau kalau kita sedang membaca ayat al-Quran, mereka tidak segan-segan untuk jawal-jawil mencari perhatian, dan agar kita menghentikan mengaji. Untuk “mengusirnya” bacakan ayat “Faidza quri’al Quranu, fastami’u lahu la’allakum turhamuun”. Jangan sampai keliru dengan “Summum bukmum ‘umyum fahum laa yarji’un”, bisa marah nanti dia kalau mengerti. Kalau anda tidak tega, dan akan memberi sekadarnya [entah tulus atau sekedar agar dia pergi] biasanya mereka akan “ngregani” dengan menyebut suatu jumlah yang relatif besar. Terserah anda.

Kalau yang meminta-minta sekedarnya, baik anak-anak atau yang tua-rentah, ya terserah anda. Semoga kita semua dijauhkan Allah swt dari berbagai upaya penipuan dan lain-lainnya yang akan menimbulkan kerugian.

 

Amien.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

21 Agustus 2010

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: