Pahandut

Generasi yang lahir di era orde-baru, mungkin tidak lagi mengenal kata yang menjadi judul ketikan ini. Dan mungkin juga generasi sebelumnya juga tidak ingat lagi, kalau memang kurang memperhatikannya. Pahandut adalah nama sebuah desa kecil, yang kemudian dipilih untuk menjadi lokasi ibukota Provinsi Kalimantan Tengah ketika dilakukan pemekaran di wilayah Kalimantan tersebut. Kemudian nama Pahandut diubah menjadi Palangka Raya. Sebenarnya hal yang sama juga terjadi di Sulawesi, ketika dibentuk Provinsi Sulawesi Tengah, dan memilih Palu – sebuah desa kecil – sebagai ibu kotanya – dan bukannya Donggala atau Poso yang sudah lebih berkembang pada saat itu.

Memilih desa kecil menjadi ibu kota provinsi yang baru dibentuk, rupanya suda terjadi semenjak jaman dahulu, mungkin dengan berbagai pertimbangan karena mengembangkan kota yang sudah ada – yang sudah menjadi ibu kota kabupaten – yang sudah terbentuk secara fisik, dan sulit untuk diubah suai lagi.

Adalah Amerika Serikat, yang ketika baru diproklamirkan kemerdekaannya dari jajahan Inggris – menetapkan ibu kota negaranya bukan di kota tempat dilakukannya proklamasi, melainkan memilih sebuah daerah yang jaraknya hampir sama dengan ibu kota ke 13 negara bagian yang ada, atau di tengah wilayah negara tersebut. Kalau sekaranag kan jadi 50 negara bagian, dan kalau akan diterapkan konsep semula, sepertinya ibu kotanya akan di lautan Pasifik.

Sewaktu gagasan memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan Tengah bergulir, saya tidak ingat atau tidak memperhatikannya sehingga tidak ingat. Dan baru tahu saat ini. Tetapi kalau pembentukan ibu kota provinsi Kalimantan Tengah di Pahandut yang kemudian diganti nama jadi Palangka Raya, saya ingat. Dan sewaktu di Kalianget, saya pernah serumah dengan seorang pensiunan overste [tahukah, apa itu? Kata lain dari Letnan Kolonel], yang pernah bertugas di sana, sewaktu pembangunan kota Palangka Raya. Beliau bercerita, bahwa betapa sulitnya membangun disana, karena tidak menemukan pasir dan kerikil yang biasanya bisa ditemukan dimana saja.

Pulau Kalimantan, memang memiliki aneka ragam kekayaan bahan tambang dan hasil hutan yang tiada tara. Karena itu gaya bangunan di pulau ini [aslinya] adalah dengan memanfaatkan kayu untuk struktur dan penutup bidang, rotan sebagai bahan pengikat bila diperlukan dan sirap atau rumbia untuk atapnya. Kesemuanya adalah komoditi lokal. Berbagai jenis kayu tersedia disana, mulai yang tidak tahan air dan mengambang di air, sampai yang tahan air dan tenggelam di air. Kita mengenal kayu ulin yang sangat khas dari daerah sini, dan mungkin juga kayu besi. Kita juga mengenal rotan [penjalin] dari berbagai ukuran / diameter. Kita juga mengenal kajang dan juga mengenal kantong purun. [He he, sejak kecil mengenal kata penjalin, tetapi baru terfikir saat ini kalau itu berasal dari kata kerja ‘jalin’, mendapat imbuhan ‘pe’ sesuai dengan fungsinya untuk mengikat atau menggabungkan dua unsur].

Kebetulan, Pahandut ini merupakan satu-satunya ibu kota provinsi di Kalimantan yang belum pernah saya kunjungi, walaupun saya pernah menjelajah sampai di Putussibau, dan Nunukan. Jadi tidak bisa banyak cerita tentang keadaannya. Tetapi kalau dilihat di kota Pontianak dan Banjarmasin, serta daerah-daerah tingkat duanya maupun kota kecilnya, memang semua bangunan menggunakan bahan baku lokal, kayu, rotan, serta dedaunan. Kalau ada di sekitar kita, mengapa harus mencari atau mendatangkan dari yang jauh? Itulah salah satu kearifan lokal yang banyak ditinggalkan saat ini.

Istana dan bangunan pemerintahan yang dibangun pada masa kejayaan masa lalu, semuanya menggunakan bahan lokal yang berasal dari hutan. Bahkan bangunan bertingkat pun, sampai 3 lantai masih bisa mereka buat dari bahan hasil hutan yang tersedia secara melimpah. Tetapi ketika arus modernisasi merambah sampai kemana-mana, dan menganggap sebagai suatu ketertinggalan bila tidak mengikutinya, maka orang mulai membangun menggunakan pasir, batu bata dan kapur, yang justru sangat sulit didapat disana. Dan justru yang memulai adalah bangunan pemerintah, mungkin ingin mengikuti standar di Jawa, yang diacu sebagai lambang kemajuan.

Bahan untuk membuat bata merah, yaitu tanah liat mungkin tidak bisa ditemui di pulau ini, begitu juga batu kapur karena proses pembentukan pulau ini mungkin bukan dari naiknya dasar lautan yang konon banyak mengandung kapur, seperti halnya pulau Sumatra, Jawa, Madura, dan pulau-pulau lainnya di Indonesia ini. Dan memang sering kali, keberadaan tanah liat dan batu kapur – yang kita kenal sebagai bahan baku pembuat semen – lebih sering berdampingan. Karena itu pabrik semen banyak tersebar di negeri kepulauan ini, kecuali Kalimantan.

Apalagi ketika jaman membangun menggunakan beton, dimana bahan bakunya adalah pasir, kerikil atau batu pecah dan semen serta besi beton. Beton adalah komoditas paling disukai oleh para arsitek karena dapat dibentuk sesuai dengan keinginan perancangnya, serta memiliki kekuatan tekan yang sangat memadai untuk struktur bangunan. Salah satu kelemahannya adalah rendahnya kekuatan tarik, tetapi dapat diatasi dengan menggunakan besi beton. Dan, subhanallah, konon pemuaian antara massa beton [kerikil, pasir, semen] hampir sama dengan pemuaian massa besi, sehingga struktur beton bertulang tidak akan banyak terpengaruh oleh suhu perubahan suhu, baik panas dan dingin.

Kesemua bahan tersebut perlu didatangkan dari luar pulau, atau bagian pulau yang jauh. Di pulau Kalimantan yang masuk wilayah republik ini, hanya di bagian tertentu Kalimantan Barat masih bisa diperoleh dalam jumlah terbatas batu split, hasil pemecahan batuan massif berukuran besar [boulder]. Kalau kita perhatikan gunung tertinggi di pulau ini, yaitu Gunung Kinabalu yang berada di wilayah Malaysia [Sabah] sangat berbeda dengan gunung di Jawa – Sumatra maupun kepualan lain republik ini. Rupanya batuan itu ada di pulau ini, tetapi dibagian selatan dan timur serta tengah tertutup oleh kekayaan alam yang lain, berupa gambut dan batubara.

Untuk membangun jembatan Barito di wilayah selatan, batuan dan pasir [abu batu] untuk struktur betonnya didatangkan dari wilayah Palu [Sulawesi Tengah], sedangkan ketika membangun gedung perkantoran kabupaten Nunukan keperluan tersebut diimpor dari Tawao yang berada di wilayah Sabah. Kalau nanti Pahandut, yang telah berubah nama menjadi Palangka Raya, akan dikembangkan menjadi ibu kota Republik Indonesia, dari manakah bahan bangunannya akan didatangkan? Dan berapa biaya tambahan yang harus ditanggung dalam pembangunan prasarana disana, bila dibandingkan dengan wilayah lain?

Kebutuhan pokok dari kehidupan, termasuk kehidupan manusia, adalah tersedianya air. Bagaimanakah ketersediaan air di wilayah ini? Apakah mungkin untuk mendukung kebutuhan kehidupan manusia modern dalam jumlah yang besar? Dan tentu juga kehandalan akan persediaan makanan dan kebutuhan hidup lainnya. Apa jadinya jika suatu pemukiman yang tidak memiliki kehandalan akan persediaan dan suplai kebutuhan pokoknya.

Kalaupun dikatakan di media massa, bahwa Bung Karno dulu sudah pernah berniat untuk memindahkan ibu kota ke Pahandut, mengapa tidak dilaksanakan? Apakah lupa. Atau setelah dipikir masak-masak, selaku seorang insinyur, kemudian menyadari akan berbagai kelemahan yang ada, baik pada masa pembangunan maupun sesudahnya, lalu diam-diam “melupakannya”.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

08 Agustus 2010

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: