Ooh Malaya

 

Frasa ini adalah bagian syair dari suatu lagu yang sangat populer dikala itu, yang dinyanyikan oleh Said Effendi, yang juga terkenal dalam melantunkan lagu Seroja. Frasa itu adalah kalimat dalam lagu Semalam di Malaya, yang kemudian disesuai-paksakan menjadi Semalam di Malaysia. [Anak-anak sekarang mengenal lagu Seroja ini melalui buku cerita yang difilmkan sebagai Laskar Pelangi]. Begitulah kawasan itu dikenal sebagai Malaya, yang memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 31 Agustus 1957 dengan nama Persekutuan Tanah Melayu, dengan wilayah meliputi semenanjung Malaya dan Pulau Singapura. Dimana wilayah semenanjung itu meliputi beberapa kesultanan, dan wilayah yang bukan kesultanan, yaitu wilayah Penang dan Singapura.

Rumpun bangsa ini memang bersaudara dan satu keluarga dengan suku bangsa yang ada di Indonesia ini, dan semula memang merupakan satu wilayah kedaulatan di masa silam, penjajahlah yang kemudian membuat kita dan mereka menjadi berbeda. Kita dan mereka, sama-sama mengakui Hang Tuah beserta teman-temannya Hang Jebat, Hang Lekir, dan Hang Lekiu  [hehe Hang siapa lagi ya, di Kebayoran Baru hanya ada itu, entah di Perak Morokrembangan sana] serta Hang Kesturi adalah pahlawan kita dan juga pahlawan mereka. Sama-sama menggunakannya untuk nama Kapal Perang. Kalau Hang Nadim, yang dipakai sebagai nama bandara di Batam, sepertinya bukan dari kelompok Hang yang lima ini. Dan sepertinya kita dan mereka ya tenang-tenang saja, tidak saling memperebutkannya, dan saling melarang untuk menggunakannya.

Semenjak awal kemerdekaannya Malaya sudah “bermasalah” dengan kita. Pertama tentang irama yang digunakan dalam lagu kebangsaannya, Negaraku, yang dianggap menjiplak lagu keroncong Terang Bulan. Tetapi kemudian Bung Karno dengan elegan menyampaikan “silahkan bila mau menggunakannya”, dan bahkan seakan “melarang” kita untuk menyanyikan lagu Terang Bulan tersebut untuk menghormati saudara serumpun yang baru merdeka itu.

 

Negaraku,

Tanah tumpahnya darahku

Rakyat hidup bersatu dan maju

Rahmat bahagia Tuhan kurniakan

Raja kita selamat bertahta

 

Terang bulan,

Terang di pinggir kali

Buaya timbul disangkanya mati

Jangan percaya omongan lelaki

Berani sumpah tapi takut mati

 

Tetapi sepertinya Bung Karno mulai “gerah dan berang” ketika wilayah Serawak dan Sabah [yang berbagi wilayah dalam pulau Kalimantan] akan menjadi satu dalam suatu negara Malaysia. Dan suasana gerah dan berang tersebut diejawantahkan dalam Dwi Komando Rakyat, [DWIKORA] menggantikan Tri Komando Rakyat [TRIKORA] berkenaan dengan pembebasan Irian Barat. Dan semboyan Ganyang Malaysia terdengar hampir setiap hari dan setiap kesempatan, dengan Tengku Abdurrahman [Perdana Menteri Malaysia waktu itu] sebagai bulan-bulanan.

Indonesia sempat menyusupkan gerilyawan ke wilayah Kalimantan Utara yang dipimpin oleh Dokter Azahari [Paraku – Perjuangan Rakyat Kalimantan Utara, kalau tak salah], yang konon sebenarnya adalah pasukan KKo [Korps Komando – yang sekarang jadi Marinir], dan kita juga mengenal pahlawan KKo Usman dan Harun [yang asal Bawean, Gresik] yang disusupkan ke Singapura dan berusaha meledakkan McDonald di Orchard Road, Singapura. Dan kesemuanya itu, alhamdulillah kemudian berakhir, dengan perubahan drastis yang terjadi di Indonesia pasca ditumpasnya G-30S-PKI dengan turunnya Bung Karno dan digantikan oleh Pak Harto.

Sebagai dua buah negera yang sedang “berseteru”, maka upaya saling memengaruhi publik lawan sangat giat dilakukan, antara lain dengan media yang paling luas jangkauannya saat itu, yaitu siaran radio. Pemancar Radio Malaysia cukup kuat dibanding pemancar yang dimiliki oleh Radio Republik Indonesia waktu itu. Siaran Radio Malaysia sinyalnya dengan mudah ditangkap oleh pesawat radio yang ada pada waktu itu, diberbagai daerah yang malah mungkin siaran RRI tidak bsa ditangkap, misalnya di sepanjang wilayah perbatasan di sepanjang Sumatera dan Kalimantan maupun Sulawesi.

Mungkin karena kecemasan yang berlebihan atau memang beralasan, guna mengurangi pendengar Radio Malaysia di tanah air ini, sampai ada pihak [kalau tidak salah keputusan DPR, mungkin pakai imbuhan GR ya] yang memfatwakan bahwa haram hukumnya mendengarkan siaran tersebut. Jadi rupanya membuat fatwa demi kepentingan sesuatu, yang mungkin kurang bisa diterima oleh sebagian besar ummat, memang sudah menjadi suatu perkembangan yang sepertinya lazim di negeri ini. Suatu ciri khas dari siaran Radio Malaysia waktu itu, adalah pembukaannya dilakukan dengan melantunkan ayat-ayat suci al-Quran, yang pada saat itu tidak dilakukan oleh siaran RRI. RRI hanya melantunkan ayat-ayat suci al-Quran hanya pada siaran di Jumat pagi saja.

Sampai ada suatu dialog [sambil bergurau] di depan rumah pada suatu pagi, antara Bapak Koen dengan salah satu temannya yang ahli agama dan menjadi anggota parlemen pada waktu itu,

T          “Mendengarkan lantunan ayat al-Qur’an itu bagaimana hukumn ya?”

J           “Ya dianjurkan, dan diperintahkan diam serta khusyuk mendengarkannya”

T          “Kalau suaranya dari Radio Malaysia, bagaimana?”

J           “Wis tha Koen, padane gak ngerti bae

Dan keduanyapun saling senyum.

Memang mereka itu cerdik [bahkan boleh dibilang kelewat cerdik, sehingga sering nyerempet-2 lajur, menjadi tipuan], misalnya dalam acara pilihan pendengar yang populer dimanapun saat itu, seseorang meminta lagu untuk ditujukan kepada kerabatnya di tempat yang jauh [maupun dekat]. Sehingga pada suatu saat ada permintaan dari Abu Cholis, Metoko-Kemuteran, Gresik untuk seseorang di Malaysia sana. Orang Gresik yang mendengarkan semua tertawa mendengar sesuatu yang mustahil ini. Sebagaimana kita tahu, Abu Cholis [cak Alis] ini adalah seseorang yang membaktikan dirinya untuk membunyikan sirine [dan kemudian blanggur] sebagai tanda masuknya waktu maghrib di bulan Ramadhan. Rupanya mereka menggunakan data imigrasi yang mereka miliki, karena cak Alis ini memang pernah pergi ke Singapura pada suatu waktu sebelum itu, bersama Haji Djalali Oemarsechan-  abahnya Abah Anang. Tetapi saat itu ya sudah tua, dan tidak mungkin untuk benar-benar meminta suatu lagu dalam acara tersebut.

Dari tahun 1970-an hingga akhir abad XX, sepertinya hubungan berlangsung baik-baik saja antara negeri kita dengan negeri mereka, seperti sudah tidak ada lagi bekas-bekas atau sisa-sisa Ganyang Malaysia dahulu. Namun, akhir-akhir ini, entah oleh sebab apa, hubungan antara kita dan mereka begitu sensitif sekali. Ada sedikit sesuatu saja, sudah ramailah suasana di media massa, dan banyaklah demo yang dilakukan di mana-mana. Kalau memang benar sudah menyangkut masalah kedaulatan, masak iya sih, SBY yang tentara akan diam seribu bahasa? Ada sesuatu? Apa itu?

Kemarin, dalam suatu newsticker salah satu televisi swasta tertulis bahwa ada anggota DPR yang mengusulkan melarang penayangan serial kartun Ipin-Upin, dan meminta menggantinya dengan menyiarkan si Unyil saja. Asal jangan kemudian ada yang memfatwakan menonton serial kartun Ipin-Upin sebagai sesuatu yang haram. Tetapi walaupun difatwa-haramkan, anak-anak yang belum aqil-baligh, kan tidak apa-apa ya menontonnya, kan belum sebagai subyek hukum [?].

Semoga hubungan antara bangsa serumpun ini menjadi kembali harmonis. Untuk apa cekcok tiada henti. Semoga dengan ulang tahun kemerdekaan yang ke 65 bagi Indonesia dan yang ke 53 bagi Malaysia, kita dan mereka akan kembali akur-akur saja.

 

Semoga.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

31 Agustus 2010

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: