Mudik

 

Mudik tiga puluh tahun silam, apalagi 40 tahun silam, tidak seheboh sekarang. Memang keadaan telah benar-benar berubah. Pergerakan manusia telah menyebar dari tempat asalnya semula, dan kemudian di hari yang fitri ini, mereka berusaha kembali ke asalnya, dengan berbagai cara yang memungkinkannya. Bahkan kadang-kadang mengabaikan hal-hal yang utama bagi kepentingan dirinya, yaitu keselamatannya.

Bagi mereka yang masih menetap di tempat induknya berada, tidaklah memiliki pengalaman mudik ini. “Tak lengkap”, kata yang sering berjuang untuk mudik. Sebaliknya kata yang tidak merasakan perjuangan mudik “Ya enakan yang tidak pakai mudik”. Ya, sama-sama enaknya lah.

Seperempat abad yang lalu [1985], hampir tidak ada kementerian yang sibuk semenjak awal Ramadhan untuk menyiapkan segalanya agar perjalanan mudik masyarakat menjadi lancar. Dan perjalanan masih dibilang lancar. Pada hal jalan tol, baru ada Jagorawi saja, yang justru bukan jalan yang dilewati arus mudik. Sehingga sering timbul pameo, “makin diatur, dan makin banyak yang mengatur, justru makin tambah macet”.

Kecuali kapal laut, semua moda transportasi yang ada sudah pernah aku coba. Naik kereta api, naik pesawat terbang, naik bis umum, dan tentunya naik mobil dengan mengemudi sendiri. Mulai dari masih beranak dua, beranak tiga, sampai bercucu satu. Mulai dari mengendarai VW Safari, Daihatsu Charade, VW Combi, Chevrolet Luv, Toyota Hardtop, Daihatsu Hijet, Daihatsu Zebra, Toyota Corolla, Suzuki Vitara, dan APV. He he, sebagian mobil dinas, sebagian mobil pinjaman kantor, dan alhamdulillah sebagian mobil sendiri, baik yang dibeli kreditan maupun yang cash.

Perjalanan umumnya dibagi dalam dua etappe, Jakarta – Gresik, dan kemudian dilanjutkan satu dua hari kemudian Gresik – Sumenep, baik berangkat – maupun pulang. Kecuali perjalanan dengan APV pada Desember 2009 kemarin [walau bukan mudik lebaran] yang dilakukan dalam satu etappe, Jakarta – Sumenep. Tentu saja karena sudah adanya Jembatan Suramadu. Kalau istilah penerbangan, barangkali direct-flight, dengan hanya satu pilot saja [tetapi dengan berhenti beberapa kali untuk makan, shalat, isi BBM dan BAK, serta bila perlu BAB].

Yang banyak bervariasi adalah perjalanan dalam etappe satu, dulunya bisa langsung ditempuh dalam satu perjalanan. Setelah jalan mulai padat, dimana pernah berangkat dari Jakarta waktu sahur dan ashar baru sampai Celeng [Lohbener], Indramayu, maka sering kali berhenti satu malam di Semarang. Dan pulangnya berhenti semalam diTegal atau Pekalongan. Perjalanan waktu berangkat susananya lebih bersemangat, dibanding perjalanan waktu arus balik. Kalau sudah sampai Semarang, itu rasanya sudah merasa dekat sampai tujuan. Karena jalan sesudahnya relatif jarang ada kemacetan, kecuali bila ada kecelakaan lalu lintas.

Jalur pantura memang menjadi pilihan utama siapapun yang akan mudik, karena kondisinya memang sangat berbeda dengan jalur-jalur yang ada. Jakarta-Cirebon adalah bagian yang paling menentukan dalam route Jakarata-Gresik. Kalau sudah melewati kota Cirebon, rasanya sudah lega. Dahulu hanya ada satu pilihan menuju Cirebon, lalu ada perkembangan jalan tol Jakarta-Cikampek. Lalu ada pilihan lewat Subang-Cikamurang-Cirebon. Lalu setelah ada toll Cikampek – Bandung – Cileunyi, maka route Cadas Pangeran ke Cirebon menjadi pilihan alternatif yang menjanjikan, karena persentase jalan tollnya lebih tinggi. Suatu pilihan yang saya tempuh bersama Didik, 3 tahun silam. Walau jalannya agak sempit, tetapi jarang truk atau trailer yang panjang.

Dibuatnya jalan layang di beberapa kota yang dilintasi, serta dibuatnya jalan lingkar di banyak kota di Jawa Tengah, maupun jalan tol yang melingkari Cirebon dan Semarang sangatlah mengurangi hambatan dari perjalanan. Jangankan persimpangan sebidang, kendaraan yang ngetem, atau pasar tumpah, orang menyeberangpun bisa memicu kemacetan yang tiada tara. Tetapi disiplin pengguna jalan, adalah faktor yang paling dominan sebagai penyebab kemacetan. Betapa sering kemacetan yang sudah ada, bertambah tak terkendali karena ulah pengemudi yang menerobos antrian, jelek dari kiri maupun jelek dari kanan [‘jelek’ menggantikan kata ‘baik’ yang sering digunakan, karena dampaknya kan jelek ya]. Konon, pernah di suatu tahun, setelah saya lewat, karena ulah semacam itu, jalan menjadi macet total tidak bisa beringsut, maka untuk mengurai kemacetan tersebut, diperlukan helikopter untuk mengangkat beberapa mobil agar ada ruang gerak untuk bergeser. Rupanya setelah itu, perhatian pemerintah akan perjalanan mudik dan arus balik mulai meningkat.

Alas Roban, merupakan penggal jalan yang paling menyeramkan saat itu, jangankan malam hari, siang haripun juga sudah menyeramkan. Kalau siang hari, dengan jalan sempit, berliku dan tanjakan serta turunan yang curam, dan lalu lintas kendaraan gandengan yang tidak kuat mendaki [sehingga di kawasan itu banyak dijual ganjel dari kayu]. Pilihannya, harus cerdik dan sedikit berani untuk menyalip, atau terpaksa harus mengikuti truk yang merangkak di tanjakan dengan risiko kaunduran [bahasa Indonesianya apa sih?]. Suasana hutan jati di malam hari, serta berbagai cerita dan legenda yang menyelimuti wilayah hutan ini, menambah “keseraman” melaluinya. Apalagi dengan dijumpainya sosok manusia yang diam di tepi tikungan yang jauh dari tempat pemukiman. He he

Keadaan sekarang sudah berubah 180 derajat. Kawasan Alas Roban, justru menjadi penggal jalan yang paling nyaman untuk dilewati, baik siang atau malam. Kecepatan kendaraan bisa maksimal layaknya di jalan tol, hanya harus waspada akan sepeda motor yang berputar arah atau memotong jalan. Dibagian yang paling curampun, sudah dibuatkan jalur alternatif dengan kemiringan yang memadai, walau jaraknya lebih panjang [kalau tidak maka menjadi barang ajaib], dan apalagi hanya dikhususkan untuk kendaraan kecil dan sedang saja.

Hanya saja, jalan tol dimanapun belum memberikan sifat khusnul khatimah, karena umumnya saat mau membayar biaya tol [untuk sistem tertutup] selalu saja terjadi antrian panjang. Tentu saja tidak seharusnya menyalahkan volume lalu lintas, tetapi sistemnya juga harus dibenahi. Dan ini yang sepertinya belum tersentuh oleh pengelola jalan tol kita. Mereka selalu menghimbau agar kita membayar dengan uang pas, tetapi mereka menentukan tarif yang besarannya aneh bin ajaib. Kenapa tidak dibulatkan sehingga menjadi mudah untuk dibayar dengan pas. Coba lihat, ada tarif Rp 5.500, ada lagi Rp 38.500. Bulatkan saja, kalau kebawah takut rugi, kalau ke atas takut diomelin masyarakat. Paling-paling kan hanya satu bulan ramainya. Wong tidak ada pilihan lain koq.

Setelah keluar dari pintu tol, kita biasanya akan dihadang oleh perempatan atau pertigaan yang dipastikan ruwet dan amburadul penataannya. Apalagi dijaman ribuan kumbang [dulu sepeda motor itu disebut sepeda kumbang] yang memenuhi jalan arteri atau jalan bukan tol. Adalah suatu hambatan tersendiri dengan semakin banyaknya sepeda motor ini. Mungkin belasan tahun silam, ketika jumlah pemudik motor penumpangnya masih hanya dua orang saja, ada yang menyalipku dan ternya beberapa menit kemudian mereka sudah ditutupi dengan koran di tengah jalan. Tanpa ada kendaraan lain yang berhenti. Mungkin korban tabrak lari, atau terjatuh dengan sendirinya.

Mengantuk adalah bawaan manusia normal. Saya pernah karena saking ngantuknya di malam hari, begitu ada bahu jalan yang lebar langsung berhenti dan tidur. Setelah terbangun, baru tahu bahwa itu disamping kuburan. Ya terus tancap lagi. Yang aman adalah di kantor polisi atau pompa bensin, dan keduanya pernah saya lakukan waktu itu. Dari pada tertidur di mobil sedang mengemudi. He he. Semoga tidak terulang lagi. Semoga selamat sampai di tujuan, dan kembali dengan selamat.

 

Amien.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

04 September 2010

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: