Montore Bajingan vs “Montore Lakon”

 

Dalam ketikanku yang lain, saya menyebut istilah Montore Bajingan  sebagaimana sebutan yang diberikan untuk mobil dinas Landrover Seri I yang saya pakai. Sebutan ini bermula dari adanya tayangan film di televisi, dimana dalam cerita tersebut pihak yang jahat [dalam istilah perfilman lokal disebut bajingan] menggunakan Landrover Seri I sebagaimana yang saya pakai, sedangkan pihak kepolisian Inggris [yang dalam istilah perfileman lokal disebut lakon] menggunakan mobil Landrover seri terbaru [saat itu 1973] yaitu Seri III, sebagaimana mobil dinas yang dipakai temanku. Jadilah sebutan tersebut, “montore bajingan” dan “montore lakon” menjadi populer di kalangan terbatas kami.

Saya sendiri baru tahu kemudian, kalau mobil dinasku dulu itu begitu sederhana, dan bisa dibongkar – tidak saja direparasi – hanya dengan satu jenis obeng dan satu ukuran kunci pas [bukan kunci Inggris yang bisa diubah-ubah ukurannya], kecuali kalau bukan roda lho ya. Memang sangat sederhana dan fungsional sekali. Bahkan indikator lampu richting saja tidak ada, karena menyala dan matinya lampu richting langsung terlihat oleh si pengemudi. Seingatku hanya speedometer yang ada, indikator lain sepertinya tidak ada. Apakah dinamo mengisi aki atau tidak, berapa suhu air pendingin, apalagi tachometer yang menunjukkan kecepatan perputaran mesin. Indikator isinya tangki bensin pun [aku lupa-lupa ingat] apakah ada atau tidak. Pada hal kan vital ya. Tapi tak usah khawatir, bisa diatasi dengan nyogok dengan galah setiap mau berangkat. Beres kan.

BBM langsung dipompa ke karburator, dimana dicampurkan secara alamiah dengan udara sebelum mengalir ke ruang pembakaran, dimana akan terbakar setelah dipantik dengan bunga api yang timbul karena aliran listrik dari kowel [coil] yang meningkatkan voltagenya, dan melalui platina di distributor yang berfungsi sebagai switch untuk membagi ke masing-masing busi pada setiap silinder sesuai dengan urutan yang ditentukan. Hanya saat itu, untuk memompakan BBM sudah menggunakan pompa listrik. Mungkin ini satu-satunya komponen yang paling sophisticated dalam mobil tersebut. Dan justru yang paling canggih itulah, yang sering rewel [setidaknya untuk si montore bajingan yang aku pakai].

Mungkin tak terbayangkan apa yang pernah terjadi pada montore bajingan ini, dimana ketika kami di Surabaya akan pulang ke Kalianget. Kebetulan ada pejabat yang menggunakan mobil lain [yang masih muda usianya] juga akan ke Kalianget. Jadi saya ikut di mobil dinas yang lain dan berangkat belakangan. Montore bajingan, dengan anak buahku berangkat lebih dahulu. Saat melewati jalan Perak Barat, di kejauhan [depan Masjid Mujahidin] terlihat montore bajingan berhenti di tepi jalan, dengan kap mesinnya terbuka. Kata pengemudinya, “tiba-tiba mobil tidak berjalan walau mesinnya masih hidup”. Saya minta untuk menstaternya kembali dengan persneling masuk di gigi satu [kan paling-paling loncat dan mati lagi], ternyata mobilnya tidak loncat. “Kruk asnya putus” saya bilang. [Kruk-as adalah poros utama, yang mengubah gerak kian kemari dari torak menjadi gerak berputar, dan terhubung dengan roda gila serta kopling yang akan meneruskan tenaga putar ke serangkaian gigi persneling]. Semua terperangah seakan tidak percaya. Kruk-as koq bisa putus. Semoga tidak pernah ada yang akan mengalaminya.

Bandingkan dengan mobil sekarang, tentu sangat jauh berbeda fasilitas yang ada dalam suatu mobil. Tidak usah dengan mobil yang meah-mewah yang banyak dipamerkan pada IIMS yang baru saja ditutup. Tetapi dengan mobil kelas montore lakon saja, buatan tahun terakhir. He he. Mulai dari mana? Tentu saja dari sistem yang paling vital, yaitu mesinnya sendiri.

Berbagai kelmahan atau disadvantage dari sistem atau teknologi masa lalu, satu-per-satu mulai digantikan dengan sistem atau teknologi yang lebih baru, yang mungkin saja masih memiliki disadvantage.

Karburator bukan lagi sebagai alat pasif tetapi suatu sistem yang aktif, dalam meneruskan BBM atau campuran BBM dan udara kedalam silinder yang akan membakar campuran BBM dan udara tersebut. Hampir tidak kita kenal lagi istilah “banjir” sehingga mobil susah atau bahkan tidak mau dihidupkan. Dan berbagai sistem telah diaplikasikan untuk maksud menghemat bahan bakar dan memperbaiki kinerja mesin. VVTi adalah salah satu diantaranya. Dan boleh dikata dengan sistem yang baru ini, jika ada kerewelan, ya tinggal buang dan ganti, tidak bisa kita otak-atik lagi.

Untuk mobil-mobil berkapasitas [ber-cc] besar, sering juga memanfaatkan gas buang untuk memperbaiki kinerja mobil, dengan apa yang disebut turbochraged atau kompressor. Sistem ini memanfaatkan panas dari gas buang, dengan memasukkannya kembali ke ruang silinder untuk dibakar ulang. Teknologi ini semula diterapkan di mesin-mesin besar, seperti mesin kapal yang ribuan daya kuda. Maka jangan harap mobil kecil yang diistilahkan sebagai city car akan menggunakan teknologi ini.

Kalau dulu hanya ada dua katup untuk setiap silinder, yaitu katup isap dan katup buang, maka jaman sekarang jumlah katupnya lebih banyak, ada yang 3 katup atau 4 katup per silindernya. Sehingga pada tahun 90-an banyak ditemui tambahan tulisan pada mobil-mobil baru 12 valves atau 16 valves, sebagaimana banyak kita temui tulisan VVTi pada mobil sesudah tahun 2000an. Entah apa lagi yang akan dituliskan pada badan mobil untuk menunjukkan sistem atau teknologi baru yang diterapkan.

DOHC, beberapa tahun lalu juga merupakan perbaikan dari SOHC. Double Over Head Camshaft yang kalau tidak salah ada kaitannya dengan katup-katup tadi, dialah yang bertanggung jawab untuk membuka dan menutup berbagai katup tersebut. Kalau semua mobil baru sudah menggunakan teknologi tersebut, maka tidak lagi dituliskan. Jadi yang dituliskan, adalah ibarat iklan dan menunjukkan keunggulan yang dimiliki mobil type tersebut.

 

Platina sudah lama tidak digunakan lagi. Semuanya diganti dengan sistem pengapian secara elektronik, yang tidak lagi menggunakan banyak moving-parts sehingga lebih tangguh dan tidak perlu perhatian lagi alias maintenance free. Tetapi kalau ada rewel-rewel, ya buang dan ganti saja. Proses pengapian juga diperbaiki dengan menggunakan timing belt, yang memiliki umur pakai tertentu, mengikuti jumlah kilometer atau tahun digunakannya. Hendaknya kita berhati-hati dengan yang satu ini, terutama kalau membeli mobil bekas. Saya pernah punya pengalaman, mesin mendadak mati. Tentu secara refleks akan mencoba menghidupkannya. Setelah beberapa kali mencoba, gagal ya menyerah. Panggil montir. Eee tahunya, timing belt-nya putus. Dan karena distarter berulang-ulang, berakibat banyak klep yang bengkok, untuk belum sampai ke stang yang menghubungkan torak dengan kruk-as, akan bisa lebih parah. Tetapi ya harus turun mesin. Hati-hati lho. Harganya tidak seberapa, kalau telat ganti bisa fatal. Tanda-tandanya, kinerja mobil sebelumnya tidak stabil, antara lain panasnya mesin seringkali meningkat.

Kalau faktor kenyamanan, sudah jelas sekali berbeda antara montore bajingan dengan montore lakon. Jangan ditanya lagi, baina as samaa’ wa as sumur. Begitu juga faktor keselamatan, dari berbagai sisinya.

Penghapus air di kaca depan [wiper] tidak hanya satu kecepatan, tetapi sudah menjadi standar semua mobil dengan berbagai moda intermittent, pelan dan cepat, dan bahkan diberikan semprotan air untuk meningkatkan daya pembersihan. Bukan saja untuk kaca depan, kaca belakangpun diberi wiper lengkap dengan semprotan air. Dan bahkan ada yang lampu depannya pun diberi wiper.

Kita sekarang mengenal sistem pengereman ABS, bukan asal bapak senang, tetapi anti block system, sehingga mobil tidak meluncur tak terkendali ketika direm habis. Secara otomatis, pengereman akan dilakukan oleh sistem secara otomatis on-off bergantian, sehingga roda mobil tetap berputar, dan mobil tidak selip. Dan kalau sampai ada benturan, ada kantong yang akan mengembang, sehingga jidat penumpang yang berada di depan tidak akan sampai terantuk kaca atau dada terantuk setir.

Sandaran kepala, bukan saja memberikan kenyamanan, tetapi juga dapat menghindari patahnya leher ketika terjadi hal yang tidak diinginkan. Dan tentu saja seat-belt, yang seringkali kita abaikan dan malas menggunakannya. Hanya takut kepada polisi yang akan menilang, dan lupa akan keselamatan diri sendiri.

Lampu mobil, juga berubah dengan sangat drastis. Dari sisi jenis lampu yang digunakan, mulai dari lampu pijar hingga sekarang ke lampu halogen yang memiliki lumens sangat tinggi dan tingkat keputihan [bukan pek-tai lho ya] yang tinggi, dimana akan sangat membantu pengemudi di waktu malam [tetapi menyilaukan pengemudi di arah yang berlawanan].

Hampir lupa, mobil jaman dulu, pengalihan gigi persneling ke gigi satu tidak dapat dilakukan bila mobil masih berjalan. Bisa dimasukkan ke gigi satu hanya bila mobil dalam keadaan berhenti. Belum all synchromesh. Terbayang kan bagaimana sulitnya bila mobil sedang menanjak lalu nggak kuat dan harus sampai dioper masuk ke gigi satu, iya kalau tidak melorot. Sehingga perlu sedia ganjel. Kalau jaman sekarang, sudah all synchromesh.

Dan jangan juga lupa, perhatikan kaca spion yang ada di kanan kiri, selain yang ada di tengah. Bukankah juga sudah banyak berubah. Selain bisa disetel posisinya dari dalam secara mekanis atau elektrik, sekarang ada juga yang langsung bisa nutup agar tidak memenuhi jalan yang sempit begitu mobil berhenti dan mesinnya dimatikan, dan kembali pada posisi semula bila mesin dihidupkan. Kunci pintu pun begitu, mulai dari yang tidak bisa dikunci, pakai kunci mekanis, pakai remote control walau masih bisa pakai kunci biasa, dan sekarang bisa dikunci walau tidak punya lubang kunci.

Tetapi tentu saja kecanggihan sistem dan teknologi tersebut, menyebabkan mobil dipenuhi dengan sub-sistem yang sifatnya sekunder atau bahkan tersier, dan tentu saja akan menyebabkan harganya semakin mahal. Tetapi kalau ada produsen mobil yang membuat mobil secara basic, tanpa berbagai embel-embel, mungkin takut akan tidak laku juga. Karena kalau yang membeli mobil sangat sederhana dan asal bisa jalan tersebut mengeluhkan sesuatu, khawatir mendapat jawaban dari penjualnya “rego selawe njaluk enak” analog dengan jawaban tukang becak di Surabaya “bayar selawe njaluk selamet”.

Mungkin Kijang generasi pertama yang dipakai untuk angkutan pedesaan waktu itu, dimana bodinya tidak ada lengkungan sama sekali [hanya potongan pelat yang disambung-sambung] adalah mobil dengan prinsip asal bisa jalan dan bersifat sangat basic. Bandingkan dengan generasi terakhirnya yang disebut Innova.

Barangkali kalau ada yang membuat film, dimana bajingannya menggunakan Kijang generasi pertama, dan lakonnya menggunakan Kijang Innova, akan seru juga ya. Atau malah kebalik, bajingannya menggunakan Kijang Innova dan lakonnya menggunakan Kijang generasi awal.

Entahlah, sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, kayak apa bentuk dan ragam fasilitas dalam sebuah mobil.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

06 Agustus 2010

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: