Mercon

Keberadaannya sering kali berkaitan dengan hari raya, atau hari-hari penting lainnya. Kelihatannya, sesuai dengan asalnya, dan perayaan yang menggunakannya, terkait erat dengan penemu mesiu di jaman dahulu, yaitu China. Dan kita tahu, pada perayaan tahun baru China bunyi petasan sangatlah membahana. Juga pada tahun baru negeri-negeri di sekitarnya. Yang paling terkenal, perayaan tahun baru Tet di Vietnam pada masa itu, karena dibarengkan dengan penyerangan besar-besaran pejuang Vietnam yang disebut Vietcong ke pusat-pusat pertahanan Amerika di sana. Tentara Amerika menyangka bunyi dar der dor itu adalah suara letupan aneka mercon atau petasan dalam rangka perayaan tahun baru, padahal bunyi mesiu senjata Vietcong.

Walaupun dilarang oleh negara, tetapi pembuatan mercon dan pembeli mercon tetap saja banyak ditemui pada bulan puasa apalagi menjelang hari raya Idul Fitri nanti. Entah dari mana keterkaitannya, karena di wilayah dimana agama Islam banyak dipeluk, sepertinya tidak ada yang membunyikan petasan untuk merayakannya. Dan anehnya juga, justru pada bulan Ramadhan sudah ramai diriuhkan oleh bunyi petasan ini, terutama seusai shalat tarawih.

Macamnyapun beraneka ragam. Ada yang berbunyi karena pengaruh tekanan, dan ada yang karena nyala api. Yang karena pengaruh tekanan, adalah mercon bantingan – yang bentuknya seperti kelereng, berisi batuan kecil dan campuran mercon dibungkus dengan kertas – yang akan berbunyi apabila dibanting atau jatuh tidak sengaja dari ketinggian tertentu. Yang lain adalah bahan pentolan korek api yang disisipi kertas penggoresnya, yang diletakkan dalam suatu “silinder” dan ditekan dengan memukul atau menjatuhkannya.

Silinder bisa berupa lubang kunci dan kemudian ditutup paku, yang diletakkan diujung batang kayu atau bambu, yang akan berbunyi bila dipukulkan. Bentuk lain, adalah bagian pentil sepeda [yang melekat di ban dalam, diletakkan di sebuah mainan seperti roket, yang kemudian dilempar ke udara. Ketika jatuh maka berbunyilah mercon tersebut.

Yang klasik adalah mercon bumbung, dinamakan seperti ini karena memang menggunakan bambu yang berongga dan panjang. Ada pula yang menggunakan pipa besi bekas taing listrik. Mercon jenis ini menggunakan bahan peledak minyak tanah atau karbid [kalsium karbida – CaC2]. Yang membuat bunyi ledakan adalah terbakarnya gas yang terbentuk pada tabung tersebut.

Mercon bumbung berbahan minyak tanah, memerlukan pemanasan, dengan menyulutnya beberapa kali terlebih dahulu, sebelum bisa menghasilkan dentuman. Penyulutan tersebut akan mengubah minyak tanah menjadi gas. Sedangkan mercon bumbung yang menggunakan karbid, dilakukan dengan memasukkan bongkahan kecil karbid kedalam bumbung, dan menambahkan sejumlah air. Setelah dirasa cukup terbentuk gas asetilen sebagai hasil reaksi, maka dentumanpun terjadi. Jika sudah tidak memberikan dentuman, maka sisa air dan kapur hasil reaksi dibuang, dan diisi lagi.

Sepertinya mekanisme itulah yang terjadi pada dentuman yang diakibatkan oleh kebocoran tabung atau selang tabung gas 3 kilogram. Hanya saja yang berfungsi sebagai “bumbung” adalah ruangan dapur dimana terjadi kebocoran tersebut. Sayangnya mendahului bulan puasa ya. Semoga selama puasa ini, dengan telah dilakukan berbagai upaya oleh berbagai pihak, tidak lagi terdengar bunyi dentuman “mercon hijau” tersebut.

Yang memainkan mercon tersebut umumnya anak laki-laki, sedangkan anak perempuan umumnya memainkan kembang api maupun yang tetes atau mercon sreng yang melesat ke udara seperti roket. Maksimal mercon sreng yang pakai bunyi dor di atas.

Entah mengapa, pada bulan puasa permainan anak-anak justru banyak yang menggunakan api bahkan ledakan, pada hal di asal budaya petasan itu sendiri, hanya dilakukan pada “lebaran atau hari raya” nya. Mungkin tidak sabar menunggu, atau mencari kesibukan menunggu maghrib atau setelah tarawih.

Damar kurung, misalnya. Apakah untuk memberikan suatu nuansa yang terang, sebagaimana terangnya hati yang diharapkan muncul selama bulan Ramadhan tersebut. Di daerah tertentu, seperti Priangan, ada tradisi untuk memasang lampu dan penerangan lainnya di halaman rumah pada 10 hari terakhir Ramadhan, katanya untuk memberitahu jalannya malaikat dalam menyampaikan anugerah seperti Lailatul Qadar. Di akhir 1980-an, ketika perjalanan mudik lewat jalur selatan saya menyaksikan di sepanjang jalan banyak dijumpai lampu-lampu yang dipasang di halaman atau ditiang bambu di pagar sehingga suasananya sangat meriah. Tetapi tidak tahu apa maksudnya, baru tahu setelah beberapa tahun kemudian dari cerita mereka yang dibesarkan disana.

Dan salah satu yang mungkin sudah sulit untuk dilakukan, adalah memasang [in plant] batu korek api pada dasar kelompen. Selain kelompennya sudah jarang yang memakai, juga mencari batu korek apinya juga susah. Biasanya dimainkan ketika jalanan sudah agak sepi, sepulang tarawih atau ketika berangkat shalat subuh ke masjid jamik.

Mercon yang paling populer, tentunya mercon yang berbentuk silinder. Mulai dari yang berdiameter 3 mm yang disebut rawit sampai yang diameter 5 cm atau bahkan lebih. Ada yang direnteng, dan ada pula tetap satu-satu. Banyaknya kecelakaan, kadang kala karena yang dikira dem atau busung, kemudian setelah didekati untuk dilihat, malah justru meledak. Atau ada yang bergaya Rambo, memegang petasannya, dinyalakan dengan puntung rokok, kemudian dilempar, tetapi melemparnya terlambat. Dor di tangan.

Dulu ada seseorang yang ingin menggunakan mercon untuk menjahili seseorang dengan memecahkan kaca suatu toko, menggunakan mercon. Tetapi tentu tidak ingin diketahui oleh orang lain apalagi yang empunya. Ada yang menyarankan untuk menggunakan mercon yang gede, diletakkan di tepi kaca yang jadi sasaran, lalu meledakkannya. Waktu itu, belum ada lakban atau perekat lain yang praktis untuk maksud tersebut. Lalu untuk memberikan tenggang waktu untuk “melarikan diri” setelah menyalakan sumbunya, bagaimana? Diusulkan untuk menggunakan obat nyamuk [sekarang disebutnya obat anti nyamuk] yang disambungkan ke gulungan sumbu merconnya. Dan beberapa malam kemudian, dilakukanlah “teror” tersebut, dan berhasil. Semoga Allah swt memberikan ampunan kepada yang memiliki gagasan, yang menyarankan caranya, dan yang melakukan peledakan mercon tersebut.

 

Entah apa lagi mainan anak-anak di kala bulan puasa pada tahun tahun mendatang.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

11 Agustus 2010

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: