Memilih Seseorang untuk menjadi Sesuatu

 

Banyak sekali kita jumpai berbagai tuntunan untuk memilih seseorang guna dipilih untuk menjadi sesuatu. Yaitu yang menggunakan pemenuhan persyaratan atau kriteria untuk memangku sesuatu tersebut. Yang paling terkenal, tentunya salah satu hadist Rasulullah saw mengenai bagaimana kita harus mempertimbangkan empat hal dalam memilih pasangan hidup. Sengaja saya tulis memilih pasangan hidup, dan bukannya sesuai teks aslinya memilih isteri – untuk mendukung kesetaraan gender, dimana wanita bukanlah sekedar sosok yang dipilih, melainkan juga punya hak untuk memilih –menerima / menolak  pilihan pria.

Secara tekstual saya tidak hafal, tetapi kira-kira begini isinya “Seseorang isteri dipilih karena empat perkara, yaitu kecantikannya, kekayaannya, keturunannya dan agamanya. Tetapi pilihlah yang karena agamanya” [ya maksudnya begitulah].

Untuk mencari seorang pemimpin guna memimpin sesuatu orang sering menisbahkan pada empat sifat utama yang dimiliki oleh Rasulullah saw yaitu shiddiq, tabligh, amanat, dan fathonah. Tanpa ada kecenderungan untuk mana yang lebih harus diutamakan. Mungkin dari urutan penyebutan akan memberikan isyarat akan pembobotannya, tetapi mungkin juga tidak.

Secara bahasa masa kini, dalam memilih seseorang untuk menjadi sesuatu, termasuk memilih seorang pemimpin, diperlukan adanya kriteria dan adanya pembobotan atas masing-masing kriteria tersebut. Walau tidak dilakukan secara formal dan secara eksplisit, proses penentuan berdasarkan kriteria dan pembobotan itu [sebenarnya] sudah dilakukan secara implisit di dalam benak atau otak orang yang akan menentukan pilihan, dalam bentuk atau urutan yang mungkin tidak terstruktur dan bisa dijelaskan kepada orang lain.

Pada masa dahulu [beberapa dekade yang lalu] proses penentuan pemilihan seperti itu, umumnya dilakukan secara kualitatif, dan belum dapat dilakukan secara kuantitatif dan besaran angka-angka yang nyata. Tidaklah terus berlangsung seperti itu, ketika kemampuan menghitung berbagai hal yang rumit dan berskala besar dapat dilakukan dengan cepat berkat adanya peralatan komputer, yang walau semakin kecil ukuran fisiknya tetapi kemampuan melaksanakan perhitungannya menjadi semakin aduhai.

Keadaan menjadi berubah, setidaknya setelah secara global Prof. Thomas Saaty memperkenalkan program aplikasi komputer berbasis DOS bernama Expert Choice yang dibuat berdasarkan bukunya Analytical Hierarchy Proces, lebih dari 20 tahun silam. Tanpa mengetahui dan mampu pelaksanaan perhitungan berdasarkan rumusan matriks yang rumit dan melelahkan [kalau dilakukan secara manual], seseorang – atau bahkan sekelompok orang – dapat melakukan penentuan pilihan secara musyawarah dan mufakat sebagaimana amanatkan oleh asas negara kita.

Alhamdulillah, saya dahulu mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh sang profesor dan kawan-kawannya di STEKPI, Kalibata dan memiliki program aplikasi aslinya. Setelah pergantian sistem operasi ke Windows, jadi tidak punya lagi. Coba cari siapa yang bisa memperolehnya, namanya Expert Choice.

Program aplikasi ini bekerja dengan kita menyusun berbagai kriteria [dan anak kriteria yang memungkinkan], bisa sampai tujuh kriteria dan bersusun secara hierarkhi sampai tujuh turunan. Entahlah kenapa membatasi sampai tujuh, mungkin karena dia orang Lebanon jadi terbawa budaya Arab untuk menyebutkan yang banyak dengan tujuh. Atau pula terpengaruh dengan sab’ah minal matsani [tujuh yang berulang]. Kalau kriterianya lebih dari tujuh, itu ada indikasi bahwa diantaranya adalah ada yang seharusnya sebagai sub-kriteria.

Dan setelah semua kriteria dan sub-kriteria kita tetapkan, kemudian di bagian paling akhir kita tetapkan berbagai pilihan atau alternatif yang ada.

Setelah itu, masing-masing kriteria dibandingkan satu terhadap yang lain, dan begitu seterusnya dengan sub-kriteria [bisa beberapa turunan], sehingga pada pilihan atau alternatif yang juga dibandingkan satu sama lainnya. Pilihannya bisa “mana yang lebih disukai, lebih penting dan lain lain” sesuai topiknya. Membandingkannya bisa secara numerik atau juga secara verbal. Dan bisa dilakaukan secara bersama-sama dalam suatu forum, karena itu tadi saya sebutkan bisa dilakukan secara musyawarah dan mufakat. Tetapi biasanya, he he, siapa yang keras suaranya itu yang akan menang.

Dan program aplikasi ini akan langsung memeriksa apakah pilihan kita itu konsisten atau tidak. Kalau tidak konsisten [dengan angka inkonsistensi > 0,1] kita bisa memeriksa ulang dan memberikan masukan yang baru, atau membiarkannya karena memang keadaannya seperti itu. Terakhir kali, dia akan memberi tahu kita, dari alternatif pilihan tersebut, mana yang memiliki bobot lebih tinggi untuk dipilih.

Saya tidak tahu, apakah staf Presiden menggunakan cara-cara seperti ini dalam menentukan pilihan atas berbagai calon yang akan dipilih untuk menduduki jabatan tertentu. Kalau Panglima TNI, sepertinya itu giliran atau arisan antara ketiga angkatan yang ada. Tetapi untuk Kapolri dan Jaksa Agung, kiranya cara ini akan cocok untuk diterapkan. Misalnya, panelis di Metro TV pagi ini mengemukakan beberapa kriteria bagi Jaksa Agung saat nanti, antara lain

  • Keberanian;
  • Integritas;
  • Kapabilitas;
  • Akseptabilitas; dan
  • Kemauan untuk memperbaiki

 

Kalau secara sederhana [misalnya hanya satu turunan kriteria saja] dan bisa kita bobot secara langsung [misalnya memberikan bobot terbesar pada “agamanya”, dalam contoh memilih pasangan hidup] masalahnya bisa disederhanakan dalam aspek perhitungan, tinggal mengalikan bobot dengan nilai, lalu menjumlahkan hasil perkalian. Siapa yang memperoleh nilai tertinggi, dialah yang dipilih.

Siapa yang punya atau bisa mencarikan program aplikasi ExpertChoice tersebut? Aku tunggu ya. Karena pasti akan banyak manfaatnya, setidaknya untuk mempelajari atau memahami proses pengambilan keputusan dengan metode Analytical Hierarchy Process ini. Juga untuk merangking pegawai sebagai dasar untuk melakukan promosi, memilih mobil, memilih rumah, dan lain-lain keutuhan sehari-hari yang kompleks.

Sebagai ilustrasi, di jaman perang dingin antara Rusia dan Amerika Serikat, pernah Rusia menembak jatuh pesawat Korean Airline milik Korea Selatan [yang sekutu Amerika Serikat], dimana opini dunia waktu itu kesalahan ada pada pihak Rusia. Tetapi ternyata Amerika Serikat tidak melakukan apa-apa, alias NO ACTION. Ternyata pilihan itu didasarkan pada hasil Analytical Hierarchy Process atas beberapa pilihan yang ada, misalnya tindakan diplomatik, tindakan militer, dan NO ACTION. Ternyata NO ACTION yang terbaik berdasar berbagai kriteria dan bobot yang diberikan. [Ini ada di bukunya Thomas Saaty tersebut].

Ayo kita pelajari bersama, tidak ada ruginya koq.

Mengumpulkan ageman.

 

Wa Allahu a’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

27 September 2010

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: