Membelanjakan ‘Uang Panas’

 

Tidak di kota besar, tidak di kota kecil, bahkan di pedesaanpun suasana lebaran sangatlah ditunggu-tunggu, terutama oleh anak-anak, khususnya anak-anak usia TK-SD. Salah satu penyebabnya, adalah karena adanya situasi yang sangat berbeda dengan hari hari biasa. Selain mengharapkan dapat mulai mengenakan pakaian baru, juga berbagai hal sangat diinginkan setelah sebulan penuh juga turut menahan keinginan. Apalagi pada saat lebaran, umumnya anak-anak memegang dana yang cukup – bahkan berlebih – untuk memenuhi apa yang diinginkan atau diidamkannya selama ini, dan juga beberapa “aturan” dilonggarkan oleh orang tua mereka.

Setidaknya ada dua sumber utama asal-muasal dari ‘uang panas’ tersebut. Bisa dari tabungan dan bisa dari hasil yang dikumpulkan pada hari itu, mengingat adanya kebiasaan di daerah tertentu untuk memberikan uang [angpauw] kepada anak-anak ketika berkunjung berlebaran ke rumah tetua atau tetangga. Atau tabungan mendadak sebagai hasil “upah’ yang diterima selama mengantarkan hantaran ke rumah tetangga atau kenalan orang tuanya.

Membeli makanan dan minuman yang selama ini ditahan untuk menikmatinya pada pagi dan siang hari, tentulah akan sangat ramai. Pada masa lalu, salah satu yang diinginkan anak-anak adalah es-blok [sekarang sudah tidak ada lagi], yaitu es yang berbentuk empat persegi panjang dan dibungkus dengan kertas, dengan adonan yang lebih istimewa dari pada es-lilin. Biasanya es blok mengandung susu sebagai bahan campurannya. Tentunya harganya lebih mahal, dan mugkin tak terjangkau pada hari-hari biasa. Ada dua produsen es lilin dan es blok pada masa itu, yaitu Pabrik Es Hongkong yang terletak di perempatan Pasar-Teratee-Kalitutup. Dan Pabrik Es Peking, yang terletak di belokan Keroman [Sindujoyo] dekat bale. Kalau dari namanya, sudah tahu bahwa pemilik pabriknya adalah China.

Atau es Shanghai, semacam es-teler jaman ini, yang beredar keliling dengan aneka isinya yang meriah, dengan warna hijau, merah, hitam, kuning dan putihnya santan. Mungkin ini model penyajian es dari daratan China, atau idenya dari suatu rumah makan yang namanya Shanghai. Es Puter, atau es Solo [mungkin karena yang jual orang Solo] dengan pikulannya yang anggun, dan gelas-gelasnya yang antik. Mungkin sekarang ini, semuanya sudah digusur oleh aneka ice-cream dengan berbagai merk, baik yang lokal maupun yang luar, dan tersedia sampai ke pelosok pedesaan. Bagi yang masih ingin menikmati yang tradisional di bidang per-es-an ini, cobalah ke Zangrandi di depan Balai Pemuda Surabaya. Masih bisa bertahan. Juga Ragusa di sekitar Masjid Istiqlal.

Meminum limun [soft drink] adalah sesuatu yang membanggakan. Betapa tidak, biasanya jauh di luar jangkauan. Merk lokal adalah ASIA dan GEDE yang pabriknya di Jalan Panglima Sudirman [sekarang], dan sudah tiada sampai ke bangunannya [padahal bangunannya antik lho]. Kalau yang merk nasional adalah F&N. Di luar itu belumlah ada. Kalau sekarang, anak-anak sudah meminumnya bermacam-macam, sehingga hampir tiada lagi kenikmatan meminumnya. Pada sauatu zaman, pernah terjadi kelangkaan gula menjelang hari raya, sehingga aneka limun [yang merupakan menu wajib di hari raya] dengan sendirinya menjadi langka dan sangat mahal. Kita bisa memperoleh satu krat limun dengan menyerahkan satu kilo gula pasir dan membayar sejumlah uang. Bila tidak memiliki gula, dengan sendirinya tidak dapat menghidangkan limun. Karena pabrik limun tidak bisa memperoleh gula di pasar bebas. Beer Kopi dan Frambozen adalah yang favorit, disamping jeruk.

Penjual makanan di hari raya juga ada, tetapi sangat terbatas. Dan kalau ada pasti dikerubutin anak-anak, yang membelinya tanpa menawar harga lagi. Yang penting bisa membeli. Hukum ekonomi.

Berpesiar keliling kota dengan becak atau dokar secara beramai-ramai, adalah suatu bentuk meluapkan kegembiraan dan menghabiskan uang yang ada. Dan suasana akan menjadi meriah dan ramai, bila mereka bertemu dengan teman yang lainnya, maka sorak sorai akan berkumandang diantara kedua moda angkutan yang berpapasan tersebut.

Hari kedua mulailah pergerakan yang lebih jauh sedikit. Manalagi sasarannya kalau bukan Surabaya. Dirinten [bahasa Belandanya, entah penulisannya bagaimana] alias Kebun Binatang Surabaya yang terletak di Wonokromo menjadi tujuan utama. Anak-anak biasanya pergi berombongan dengan diantar olah yang lebih tua atau orang tuanya. Dari Gresik menggunakan taksi [istilah angkutan waktu itu] selain bis. Mobilnya adalah sedan dari berbagai tahun, terminalnya di depan pasar Gresik. Jaman itu belum ada angkot. Angkot itu baru ada setelah tahun 1965, dengan mobil pick-up merk Toyota atau Honda yang dimodifikasi dan kemudian muncul Mitsubishi Colt yang legendaris itu.

Dari Pasar ke Jembatan Merah, lalu pindah moda menggunakan trem-listrik yang menelusuri jalanan menuju Tugu Pahlawan, Gemblongan, Tunjungan, Simpang Lonceng, Balai Pemuda, Panglima Sudirman, Keputran, Darmo sampai di Wonokromo. Pulangnya, sampai Tugu Pahlawan [Kebonrojo] belok melalui Kepanjen dan kembali bertemu di depan Hoofd Beureau [Hop Biro] yaitu Kantor Polisi setingkat Polwiltabes.

 

Sampai ada plesetan lagunnya Oslan Husien, Nangko Iyo menjadi

Idul Fitri dak nandi-nandi;

Ayo lungo nang Suroboyo;

Tutuk kono nang Wonokromo;

Tuku karcis rego sak rippis

…….

Dan seterusnya [dak wero, lali terusane]

 

Idul fitri tidak kemana-mana

Ayo pergi ke Surabaya

Samapai sana ke Wonokromo [maksudnya dirinten alias kebon binatang]

Membeli karcis harga Rp. 1,–

 

Mungkin Abah Toni atau Abah Rozy masih bisa menyanyikannya.

 

Penyakit yang swewring timbul di hari raya adalah “selokarang”, alias batuk pilek, akibat minum es, limun, dan makan emping belinjo. Ha ha, itu yang enak. Apalagi kalau belinjonya diolesi udang atau ditempeli simping. Wis, tiada tara. Juga asam uratnya. Jangan pakai otak ya makannya, pakai lidah saja.

 

He he, wis ngantuk. Pasar Bandeng e rame tha? Pirang kilo bandeng sing paling gedhe?

Wis tuku dolenan opo bae arek-arek?

 

Wa Allahu a’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

07 September 2010

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: