M u d i k [2]

 

Mencari tempat istirahat sambil makan selama perjalanan mudik, memerlukan kejelian tersendiri. Jalan yang kita lalui hanya setahun sekali, paling-paling setahun dua kali – dulu saat lebaran di bulan Juni-Juli] tentu tidak memberikan banyak informasi dan pengalaman. Apalagi 30 tahun silam. Kalau sekarang, banyak rumah makan yang dapat kita temui, dan ada satu group yang menempatkan sederetan rumah makan dengan nama yang mirip pada jarak tertentu sepanjang pantura. Kalau masih belum terlalu mendesak, biasanya kita masih bisa pilih-pilih, tetapi kalau sudah mendesak karena kemacetan dan lain sebab, ya apa sajalah asal bisa mengenyangkan.

Terlalu kenyang, membuat banyak darah mengalir ke perut untuk mencernakkan makanan kita, terlalu lapar akan menyebabkan pasokan darah ke otak berkurang. Yang dua-duanya dapat menurunkan konsentrasi dalam mengemudi. Kalau yang hanya berfungsi sebagai penumpang murni [tanpa fungsi co-pilot] tentu bisa makan apa saja, dan habis itu, lep nyenyak tidurnya. Bahkan sampai dua roda mobil sengaja dilalukan di berm alias bahu jalan yang tidak muluspun, masih tetap lelap.

Bagian yang paling menjemukan adalah ruas antara Pati sampai Tuban, baik siang apalagi malam. Karena jarak antara satu desa dengan desa lainnya cukup berjauhan, dan tidak ada sesuatu obyek yang menarik untuk diperhatikan. Tetapi antara Tuban dan Gresik, baik lewat jalan Daendels maupun lewat jalan Tuban-Babat-Lamongan, suasananya sudah berubah.

Perjalanan etappe 2, dahulu kendalanya ada di penyeberangan yang akan penuh sesak dikala menjelang lebaran, karena banyaknya warga yang toron. Antrian mobil untuk masuk ke ferri, hampir tidak bergerak selama berjam-jam, diserobot oleh pasukan motor yang sulit diatur. Sehingga bila armada motor sudah mulai berkurang diwaktu sore, barulah antrian mobil bisa beringsut. Pernah ketika naik bis dari Jakarta ke Sumenep, mulai antri jam 8 pagi [berangkat dari Jakarta jam 10 kemarinnya] baru masuk kapal jam 16 sore. Untunglah disaat pengguna sepeda motor makin membludak ini, sudah ada jembatan Suramadu, kalau tidak entahlah bagaimana nasib penyeberangan Ujung-Kamal tersebut.

Sehingga harus diakali, kapan mulai antri di Ujung. Asal berani mengemudi di malam hari di jalanan Madura, yang enak adalah jam 21 ke atas. Motor sudah berkurang, dan jalananpun sepi. Pernah berangkat habis sahur, menyeberangnya lancar. Ee tahunya, sampai di Blega, bukan lagi seperti pasar tumpah di Tegal Gubug [Cirebon], tapi seperti pasar bandeng. Muda-mudi mejeng, becak, dokar dan angkot berhenti semaunya, muter, naik-turunkan penumpang, ngetem dlsb. Macet total tak beringsut. Karena pasaran menjelang lebaran. Dan ternyata di jalur utara juga begitu, tetapi tidak separah Blega, Galis dan Tanah Merah.

Sebenarnya prasarana jalan suah jauh lebih baik dibanding 20 tahun silam. Hanya saja penggunanya juga bertambah. Sayangnya pertambahan pengguna mengikuti deret ukur, sedangkan pertambahan prasarananya mengikuti deret hitung [walau nggak pas-pas amat sih]. Seandainya saja tidak ada krisis moneter, dan kemudian diikuti dengan reformasi yang kurang jelas ini, mungkin antara Jakarta hingga Surabaya, sudah tersedia jalan toll. Kalau tidak pakai keluar ditengah-tengah, bisa langsung joss, entah berapa jam waktu tempuhnya ya. Seandainya antara Cileunyi – Kadipaten, dan Pejagan – Pekalongan sudah ada jalan toll, sudah akan sangat mengurangi waktu tempuh. Apalagi bila kemudian Semarang-Solo, dan Solo-Mojokerto juga selesai, walau harus memutar ke selatan, tetapi akan sangat nyaman untuk mudik dengan mobil dari Jakarta ke Surabaya. Masuk dari Pasar Minggu keluar di Romokalisari atau Bunder.
Kapan ya. Semoga masih menangi.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

05 September 2010

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: