Kelor dan Klentang

 

Hampir semua kita pernah mendengarnya, kelor adalah sebutan untuk daunnya, dan klentang adalah sebutan untuk buahnya, yang berbentuk panjang, berpenampang segitiga, dengan banyak biji-biji di dalamnya. Orang di Madura menyebutnya dengan marongghi, dan hanya dimakan daunnya, dimasak seperti sayur menir di Gresik. Sedang kalau di Gresik, yang dimakan adalah buahnya yang masih muda, dimasak sayur asam, setelah dipotong-potong sepanjang jari telunjuk orang dewasa. Di daerah lain, yang lazim dimasak hanyalah daunnya, tetapi tidak semua daerah memanfaatkannya untuk sayuran sehari-hari, mungkin hanya untuk keperluan yang lain.

Adalah sangat mengejutkan dan mencengangkan, ketika peralihan tahun baru 1992 ke 1993 [kalau tidak salah], ketika transit di mbak Endang Paong di Singapura bertemu dengan buah klentang, yang rupanya banyak dijual disana, dipasok dari wilayah Johor di Malaysa. Rupanya, disana juga biasa dibuat lauk, kalau tidak, mana ada yang jualan. Di Bandung dan di Jakarta, kita tidak dapat menemukan klentang, karena mungkin tidak dikenal dan digunakan sebagai sayur mayur. Sehingga bagi orang asal Gresik, cukup mengangenkan makan dengan lauk sayur asem [ada yang menyebut kelan kecut] klentang.

Cerita yang berkembang di masyarakat Jawa, konon seseorang yang memiliki “ilmu” tertentu, akan hilang ilmunya bila disabet dengan setangkai daun kelor, atau sengaja memandikan jenazahnya guna menghilangkan “ilmu” yang masih terbawa. Mungkin karena itu, barangkali segolongan masyarakat tidak mengkonsumsinya sebagai makanan sehari-hari takut “ilmu” yang dimilikinya akan sirna. Atau ini suatu akal dari penjajah dahulu, agar masyarakat tidak menkonsumsinya. [terus terang, hal ini baru terfikir ketika mengetik ini, mengapa?]

Kala itu, mungkin tahun 1976, ada tamu dari Philipina yang diantar petugas UNICEF Jakarta ke Madura [PN Garam] untuk mempelajari tentang program iodisasi garam yang baru saja diterapkan kembali di Indonesia, setelah terhenti dengan sendirinya karena tidak lagi diproduksinya garam briket. Di perjalanan, sekitar Sampang, dimana jalan raya berada di tepi pantai, sang tamu yang dari Philipina menunjuk suatu pohon, yang saya kenal sebagai pohon kelor [yang berbuah klentang] dan disini [pulau Madura] disebut marongghi. Ternyata dia terkejut, karena di negaranya disebut maronggai [he he, hampir sama ya]. Dan dia menceritakan, bahwa daun pohon itu bagus untuk dikonsumsi karena banyak mengandung protein. Ya saya manggut manggut saja mengiyakan.

Sebenarnya, pohon kelor dapat tumbuh dengan baik di Jakarta dan sekitarnya, hanya saja masyarakat di sini tidak terbiasa untuk memanfaatkan daun maupun buahnya. Kita dapat menemuinya di beberapa rumah, dan juga di pedesaan sekitar Jakarta. Bahkan saya pernah menemukan pohon yang sedang berbuah [bahkan sudah tua] di pinggir jalan raya, di dekat rumahnya Didik Anang. Dan di rumah mBak Endang juga ada, tetapi tidak pernah berbuah, karena selalu diambil daunnya. Saya pernah mencobanya menanam di halaman sekolah, tetapi kemudian mati.

Pagi ini saya kembali terkejut, ketika membuka email yang berjudul “4 miracles Natural Remedies”, dimana salah satunya adalah tanaman Moringa. Melihat gambar dengan buahnya yang bergantungan, mirip dengan klentang; dan namanya mirip dengan marongghi, lalu meminta konfirmasi ke Umik, katanya “kayaknya bukan”. Kemudian seperti biasa saya memanfaatkan Google untuk menelusuri lebih lanjut tentang Moringa ini. Dan ternyata, subhan Allah, sangatlah kufur kita bila tidak memanfaatkan tanaman ini, yang begitu istimewa di tengah serba kekurangan sebagian penduduk dunia ini.

 

Wouw, betapa kayanya daun kelor itu. Entahlah, faktor tersebut apakah dalam volume yang sama, atau dalam berat yang sama. Tetapi apapun, kandungannya berlipat dari jeruk, pisang, susu dan wortel. Tetapi berapa banyak kita dapat mengkonsumsi daun kelor dalam sehari. Lalu apa ya harus dimakan setiap hari, atau setidaknya beberapa kali dalam seminggu ya. Ternyata memang kelor ini sudah dikenal dimana-mana, dan sedang digalakkan pemanafaatannya oleh UNESCO guna mengatasi kemiskinan dan kesehatan yang rapuh di berbagai daerah yang mengalami kemiskinan dan kekurangan gizi. Sepertinya, tidak ada salahnya jika kita juga menggalakkan pemanfaatan daun kelor ini bagi masyarakat kita, khususnya di daerah yang kurang subur dan kurang terpenuhi kadar gizinya.

Adalah cukup menarik untuk dikaji, adanya perbedaan nama yang sangat jauh antara di Gresik dan di Madura [yang hanya terpisah selat dan mayarakat keduanya cukup berkomunikasi] yaitu antara kelor/klentang dengan marongghi. Ternyata tiap daerah di Indonesia ini memang punya nama-nama yang beraneka ragam, tetapi hampir-hampir sama, misalnya

Alor, Maroenga, Motong; Bali, Kelor, Tjelor; Flores, Moltong; Java, Kelor; Madura, Marongghi; Moluccan Islands, Oho Gaairi; Roti, Kafok, Kai fok; Sumatra, Kalor, Kerore; Sumba, Kawona, Wona; Ternate, Kelo, Oege Kelo; Tidore, Kelo; Timor, Baoe fo, Maroenga; Other, Remoenggai, Sajor Kelor.

Daerah Alor dan Timor menamakannya hampir-hampir mendekati marongghi, dan ternyata nama internasionalnya memang Moringa. Ha ha. Madura sudah global dibanding Jawa yang masih kelor. Dimana sajakah yang mendekati nama marongghi didunia ini? Sebagian Philipina, sebagian India, Tamil, sebagian Tanzania, sebagian Somalia, Mauritius, Srilangka, beberapa negara Amerika Latin dan Guam. He he, mungkin pengaruh Portugis ya. Dan mungkin juga orang Madura [Sumenep] mengenal kelor dari orang Portugis yang punya Lojie di Lojiegantang [antara Sumenep dan Kalianget]. Karena dalam bahasa Spanyol dan Portugis adalah

Portuguese     Acácia branca, Cedra (Brazil), Marungo, Moringuiero, Muringa

Spanish                       Árbol del ben, Ben, Morango, Moringa

Tetapi, dalam literatur, yang dimanfaatkan untuk konsumsi sehari-hari adalah daunnya. Mungkin kurang populer memakan buahnya seperti yang di Gresik [tetapi di Singapura juga buahnya koq]. Dan India juga. Tidak ada salahnya kalau kita menggalakkan penanaman dan pemanfaatan kelor dan klentang bagi peningkatan gizi masyarakat, dengan cara mempopulerkan berbagai masakan berbahan baku kelor dan klentang. Konon tanaman ini sudah dibudidayakan untuk dipanen daunnya, setiap 35 hari sekali, dan dibuat tingginya setinggi pohon teh.

 

Wa Allahu a’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

15 Agustus 2010

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: