Haji Samali

 

Entahlah siapa yang mengetahui sosok dengan nama tersebut. Yang jelas nama itu diabadikan menjadi nama penggal jalan yang menghubungkan Jalan Raya Pasar Minggu dengan Jalan Siaga Raya. Saya sendiri selama belasan tahun melewati penggal Jalan Haji Samali, setiap pagi dan petang di hari-hari kerja, disamping Jalan Ayub yang bermuara di jalan tersebut.

Beberapa tahun silam, jalan ini sempat menjadi ramai dan terkenal, setidaknya di Jakarta, sebagai kawasan penyedia parsel. Di masa jayanya, hampir sepanjang jalan ini yang panjangnya tidak lebih dari 1000 meter dan lebar 6 meter, didominasi oleh penyedia paket, baik dalam skala kecil maupun skala besar, yang kebanyakan justru bersifat dadakan. Hanya beberapa rumah sajalah yang tetap bertahan sebagai rumah tinggal. Apalagi di saat menjelang lebaran seperti saat ini, susananya sangat meriah dan banyak sekali mobil yang parkir hingga larut malam.

Yang memulai, biasanya yang bertahan hingga akhir. Dan ini berlaku pula dalam bisnis parsel di kawasan ini. Adalah Nabila [nama anak yang dijadikan nama usaha] yang memulai jasa atau usaha ini. Dan rupanya tetangganya melihat ramainya orang yang berkunjung ke perusahaan tersebut untuk memilih model parsel yang akan dihadiahkan ke rekan bisnis, pejabat atau kenalannya, dan kemudian menyaksikan pula betapa banyaknya hilir mudik mobil atau sepeda motor untuk mengantarkannya, maka banyak yang tertarik untuk membuka usaha yang sama tahun berikutnya.

Entah pula siapa [atau perusahaan mana] yang memulai memberikan parsel di hari raya Idul Fithri dan Natal/tahun Baru ini. Pada masa jayanya bisnis parsel ini, sebuah perusahaan bisa mengirimkan ratusan parsel dengan berbagai macam kelas. Dan dengan sendirinya, jasa pengantaran parsel juga ikut berkembang. Baik dengan pick-up box [agar tak rusak diterpa hujan] sampai ke mikrobus dan bahkan sepeda motor.

Isi parsel pun bermacam-macam, mulai dari makanan kering kelas bawah, aneka makanan kelas atas, makanan atau kue yang eksklusif, sampai berbagai hal yang bukan makanan – seperti peralatan yang terbuat dari kristal. Kepada siapa parsel itu akan dikirimkan, tentunya akan menentukan isi dari parsel tersebut. Untuk boss yang memiliki posisi menentukan, tentunya akan berbeda dengan kepada boss yang tidak punya posisi menentukan, dan seterusnya. Rupanya, pengiriman parsel model-model semacam itu dilandasi dengan berbagai pamrih, yang si pengirim sendiri yang tahu akan maksudnya. Walau tentu saja ada yang sifatnya untuk tetap menjalin hubungan silaturrahim yang telah terbentuk selama itu. Seperti  kata ‘pepatah’, “Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa yang tahu”.

Pembeli parsel mengetahui bahwa nilai barang yang ada dalam parsel, jauh dibawah harga yang harus mereka bayar. Pengemasan dan penataan parsel, yang membuat parsel seakan terdiri dari banyak ragam dan banyak pula, memberikan nilai tambah yang sangat tinggi. Mungkin bisa sampai dua kalinya, alias untungnya bisa 100%. Apalagi kalau barang dibeli dalam jumlah banyak. Kalau tidak tentulah bisnis ini tidak akan begitu menarik. Dan hal inipun rupanya disadari pula oleh penyedia parsel. Kemudian mereka menyediakan mentahannya. Juga di jalan Haji Samali. Ada keranjang, ada plastik, ada bunga, ada pita, bahkan sampai ada satu toko yang khusus menjual barang kristal Bohemia. Tetapi tidak ada yang jual makanan kering, biskuit, aneka coklat atau buah eksotis, karena calon pembeli lebih suka berbelanja langsung di berbagai supermarket besar yang lebih menjanjikan dan perputarannya cepat sehingga terhindar dari barang yang kadaluarsa.

Barang makanan kadaluarsa, adalah memang sesuatu yang harus diwaspadai. Kadang ini memang kekurang telitian penyedia parsel, tetapi ada pula yang kesengajaan. Semoga perbuatan mereka diampuni. Saya sendiri pernah mendapat parsel [dikala itu] yang salah satu isinya adalah produk coklat yang kadaluarsa. Karena kenal baik dengan instansi pengirimnya, dan demi nama baik mereka, saya beritahukan hal itu kepada pengirimnya. Reputasi mereka kan bisa jatuh, gara-gara sedikit barang yang kadaluarsa. Dan karena memang tidak diketahui sebelumnya, maka mereka memeriksa ulang semua parsel yang belum terkirim dan juga ditemukan hal yang serupa. Sebungkus coklat itu ditarik, dan diganti beberapa bungkus.

Sebagai komponen isi parsel berupa makanan kering tahan lama, yang paling disukai adalah makanan dalam kaleng yang juga dibungkus dalam dos. Mengapa? Makanan dalam kalengnya dikeluarkan dari dos, dan dosnya juga ikut dipajang. Sehingga parselnya kelihatan penuh dan banyak. Kalau ingin parsel yang berat, sehingga harus digotong oleh dua orang untuk menyampaikannya, maka pilihan isinya adalah berbagai minuman dalam kaleng. Bisa berkilo-kilo beratnya. Apalagi kalau dikemas dalam botol gelas.

Tetapi seiring dengan perubahan politis yang terjadi pada 1998, dengan adanya larangan menerima parsel bagi pejabat oleh KPK, maka jalan Haji Samali menjadi sepi. Tiada terlihat lagi keramaian yang pernah ada di tahun-tahun itu. Walau masih ada, beberapa yang tetap menjalani bisnis ini dengan skala kecil. Dan sang pelopor, Nabila Parcel, pun masih ada walau tak seramai dahulu.

Kalau kita telisik, dari manakah asal muasal kebiasaan kirim parsel ini? Mungkin akan menemukan kebiasaan mengirim kue atau nasi beserta lauknya di sepuluh hari terakhir Ramadhan yang ada di masyarakat pada masa 50-an tahun silam. Dan mungkin sampai sekarang masih berlangsung, tanpa terkena sentuhan aturan KPK.

Semasa di Kalianget dulu, ketika sudah lewat tanggal 25 seperti ini, biasanya sudah tidak akan memasak nasi dan lauk untuk buka ataupun sahur. Bukannya “ngenteni endoge blorok”, karena memang hantaran sudah mulai meningkat jumlahnya. Bahkan bisa sampai tak akan habis dimakan. Sangatlah bermanfaat teknik remixing – mengatur komposisi nasi dan lauk yang diterima, sehingga tidak bisa dideteksi produsen asalnya dengan memperhatikan asas koneksitas antara produsen asal hantaran dengan pihak yang akan dikirimi hantaran. Dan juga diantara yang dikirimi hantaran jangan ada yang saling mengenal. Bayangkan kalau si penerima kemudian ngerumpi dan bercerita “Saya dapat hantaran dari Ibu A, masakannya D,E,F”, lalu ibu yang lain lagi “Lho saya koq G, H, K”. “Koq lain-lain ya, apa tidak masak sendiri”.

Rupanya berbagai kebiasaan di masyarakat, seperti hantaran parsel ini akan selalu timbul dan tenggelam. Budaya lainnya yang sudah berubah, juga adalah saat perhelatan pengantin. Dahulu sekali, memang tidak ada yang memberi kado, hanya buwuhan saja. Kecuali kalau di undangannya dituliskan “Lillahi ta’ala” sebagai ganti “tidak terima buwuhan”.

Ketika muncul budaya resepsi, maka menyeruaklah budaya memberikan kado dalam berbagai barang. Sampai ada seseorang yang punya hajat, harus menyediakan truk-boks guna mengangkut kado dari gedung resepsi ke rumahnya. Pada masa itu, toko yang jualan pecah belah atau peralatan rumah tangga [taplak dan seprei], mencapai masa jayanya, seperti penyedia parsel di Jalan Haji Samali.

Lalu, mulai ada yang memberanikan diri dengan menuliskan kalimat “Tanpa mengurangi rasa hormat, mohon tidak memberikan tanda kasih berupa barang”. Lalu kemudian diganti dengan gambar celengan, sebagai harapan. Lalu kemudian, tanpa memberikan tanda apa-apa, orang sudah mengerti kalau sekarang ini budayanya ya memberi amplop. Begitulah jaman ini, selalu berganti.

 

Wa Allahu a’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

07 September 2010

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: