Gladiator Masa Kini

A gladiator (Latin: gladiator, “swordsman“, from gladius, “sword”) was an armed combatant who entertained audiences in the Roman Republic and Roman Empire in violent confrontations with other gladiators, wild animals, and condemned criminals. Some gladiators were volunteers who risked their legal and social standing and their lives by appearing in the arena. Most were despised as slaves, schooled under harsh conditions, socially marginalized, and segregated even in death. Irrespective of their origin, gladiators offered audiences an example of Rome’s martial ethics and, in fighting or dying well, they could inspire admiration and popular acclaim. They were celebrated in high and low art, and their value as entertainers was commemorated in precious and commonplace objects throughout the Roman world.

Pertandingan antara manusia melawan manusia lain atau melawan binatang buas, yang diselengga-rakan di satu tempat bernama Coloseum, berlangsung selama ratusan tahun sebelum Nabi Isa a.s. dilahirkan, dan terus berlangsung hingga beberapa dekade sebelum Rasulullah Muhammad s.a.w. yang dilahirkan di Mekkah al Mukarromah melakukan hijrah ke Madinah al Munawwarah, yang keduanya menjadi awal perhitungan kalender yang berlaku di dunia saat ini. Dan kemudian entah apa sebabnya, gladiator tersebut tidak diadakan lagi.

Berbagai motif melandasi berlangsungnya kegiatan atau atraksi tersebut. Bagi raja atau kaisar yang memerintahkan penyelenggaraan, tentu punya motif sendiri. Mungkin untuk memenuhi sesuatu bagian dari nafsunya, mungkin kesenangan melihat kesengasaraan orang lain, mungkin memberi kesempatan kepada orang lain untuk menunjukkan kemampuannya, mungkin untuk menimbulkan ketegangan [memacu adrenaline, menurut istilah sekarang] pada dirinya, mungkin pula hanya sekadar untuk mendengarkan sorak-sorai para penonton yang memberikan semangat kepada jagoannya masing-masing.

Bagi penonton yang tidak memiliki keterkaitan apapun dengan pihak yang diadu, mungkin akan sangat lain motifnya dengan penonton yang memiliki keterkaitan dengan salah satu pihak yang diadu, misalnya hubungan kekeluargaan, hubungan kekerabatan, hubungan kedaerahan, atau hubungan profesi atau hubungan kesamaan nasib atau kesamaan penderitaan. Atau hanya sekedar mencari kesenangan belaka, atau bahkan untuk mengisi kekosongan waktu yang mungkin waktu itu masih tersedia banyak sekali.

Bagi obyek yang diadu, tentu akan lain sama sekali. Kalau kontestannya adalah binatang buas, apa harimau atau singa, maka bisa dipastikan bahwa motifnya adalah menghilangkan rasa lapar yang sudah dideritanya, karena beberapa hari sebelum pertandingan berlangsung binatang tersebut hanya diberi makanan sekedarnya agar tidak lemah ketika diadu nanti.

Kalau obyek yang diadu orang? Tentu akan ada beranekaragam motif yang mendasarinya. Tergantung siapa dia. Kalau dia seorang ahli ilmu bela diri atau jagoan berperang, mungkin mengharapkan kenaikan citra diri atau penghargaan dari atasannya, atau untuk unjuk kebolehan akan kemampuannya kepada khalayak ramai. Atau mungkin untuk memperoleh bayaran, sebagaimana yang dikenal didunia modern sebagai seorang profesional. Tentu saja akan berbeda motifnya dengan seseorang yang sudah ditetapkan untuk menjalani hukuman mati karena sesuatu sebab, atau seseorang budak [yang masih ada pada waktu itu] dengan janji akan memperoleh kebebasan bila dapat memenangkan ajang gladiator tersebut. Dengan motif kebebasan akan kematian, atau kebebasan kehidupannya, tentu akan timbul dorongan motif yang paling tinggi pada diri mereka.

Bagi seorang terpidana mati, tentu saja ajang gladiator tersebut merupakan salah satu atau bahkan satu-satunya pintu untuk memperoleh kebebasan, walau dengan kemungkinan 100% atau 0%. Kalau menang akan hidup bebas sampai akhir hayat, kalau kalah ya mati lebih awal. Begitu juga bagi seorang budak, mungkin mereka berfikir dari pada sengsara seumur hidup, apa salahnya untuk mencoba kemungkinan [dengan kemungkinan 100% atau 0%] dalam suatu gladiator. Kalau menang ya hidup bebas sebagaimana layaknya manusia, kalau kalah ya mengahiri kesengsaraan lebih cepat.

Bagaimana dengan keadaan di sekitar kita saat ini? Di duapuluh hari terakhir ini, dan akan memuncak pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, kita akan menyaksikan banyak sekali arena “colloseum” di berbagai kota, dimana beradu nasib bukan hanya dua orang makhluk Allah swt, melainkan ratusan bahkan ribuan orang dalam satu arena. Mereka bukanlah memperjuangkan sesuatu yang bersifat hidup atau mati walau dengan risiko cedera bahkan sampai membawanya ke kematian, tetapi hanya sekedar “penyambung hidup” selama beberapa hari mendatang. Mereka tidak menyadari akan adanya kemungkinan kematian, sebagaimana yang dihadapi para gladiator, untuk berjuang memperoleh satu paket sembako atau beberapa lembar uang zakat/sodaqoh. Dana bila ingin dikatakan dengan lebih lugas lagi, mereka tidak akan mati bila tidak mendapatkan paket sembako atau uang zakat tersebut, tetapi mereka bisa mati untuk memperebutkan paket sembako atau uang zakat tersebut.

Kita masih ingat beberapa tahun yang lalu, yang terjadi di ex Rumah Yang Boo [jalan Yai Ageng Arem-Arem, Gresik] ketika seorang muzakky melakukan pembagian zakat sepulang shalat Jumat di bulan Ramadhan. Kita masih ingat pula beberapa tahun yang lalu, yang terjadi di Pasuruan, juga ketika seorang muzakky melakukan pembagian zakat. Dan berita di hari-hari ini, sudah dimulai adanya perebutan yang sampai menyebabkan orang-orang tua dan anak-anak menjadi korban terinjak-injak oleh sesama perebut. Kalau tidak diantisipasi dengan baik, bukanlah sesuatu yang mustahil bahwa akan jatuh korban lagi sebagaimana tahun-tahun yang silam. Naudzu bi Llahi min dzalik.

Transaksi antara muzakky dengan mustahik telah berlangsung lama sejak zakat itu sendiri diterapkan beberapa abad silam. Beberapa puluh tahun silam, pembagian seperti itu tidaklah banyak mengundang orang untuk serta berupaya memperolehnya, tentunya dengan berbagai pertimbangan. Mungkin masih ada rasa malu untuk ikut antri beredesakan seperti itu, baik malu pada dirinya sendiri [karena masih merasa ada orang lain yang lebih berhak untuk mengantri] ataupun malu dilihat orang lain, atau karena mereka sudah memperolehnya tanpa harus antri karena telah diantarkan secara langsung oleh muzakky kepadanya.

Keadaan sudah berubah dalam beberapa tahun terakhir ini, dan rupanya eskalasinya makin jelas setelah berlangsungnya krisis multi dimensi yang melanda tanah air dan bangsa kita di waktu itu yang juga membawa perubahan pada pola kehidupan bangsa ini. Orang boleh dikata tidak lagi punya rasa malu untuk melakukan pelanggaran yang nyata, apalagi punya rasa malu untuk memperoleh yang bukan“hak”nya, seperti yang terjadi pada pembagian sembako dan zakat. Dan tentunya, semangat untuk memperoleh haknya, akanlah semakin besar tanpa mempertimbangkan dan memperhitungkan risiko yang akan dihadapinya.

Kalau tidak ada arena “gladiator” semacam itu, dengan sendirinya tidak akan ada korban dalam penyelenggaraan pembagian sembako atau zakat yang hampir selalu terjadi di akhir bulan Ramadhan ini. Suatu niat baik, suatu perbuatan baik, bahkan penunaian kewajiban, seharusnyalah berlangsung tanpa menyebabkan malapetaka kepada pihak lain.

Semoga pada tahun ini tidak terjadi sesuatu hal yang tidak menggembirakan bagi siapapun di negeri ini, apakah karena memperebutkan seikat sembako atau beberapa lembar uang zakat / sodaqoh. Tetapi bukanlah dengan cara tidak membagikan sembako atau zakat/sodaqoh. Perbaikan caranya.

 

Amien

Saifuddien Sjaaf Maskoen

23 Agustus 2010

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: