D o r

 

Bahan bakar, merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia, karena selain untuk memasak makanan juga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang lain. Di awal kehidupan manusia, bahan bakar hanya digunakan untuk memanaskan makanannya, serta kebutuhan akan penerangan di malam hari maupun menghangatkan badan bila memang diperlukan. Setidaknya hal ini diabadikan dalam al-Quran, pada kissah nabi Allah Yusuf a.s. ketika berada di Sinai dalam perjalanan dari Madyan [tempatnya bersembunyi] menuju Mesir [tanah kelahirannya].

Entah berlangsung berapa lama penggunaan bahan bakar padat tersebut, hingga suatu ketika manusia mulai menggunakan bahan bakar cair, yang tidak terbatas hanya pada minyak yang kemudian populer dengan sebutan bahan bakar minyak atau BBM untuk berbagai keperluan penunjang kehidupannya. Saya masih menikmati perjalanan dengan kereta api tenaga uap yang berbahan bakar kayu atau batu bara, yang menimbulkan asap hitam mengepul di udara.

Bahan bakar padat untuk kebutuhan rumah tangga, terutama di Jawa, menggunakan kayu atau arang [yang berasal dari kayu juga] yang dibakar dalam tungku. Ada tungku yang asal dapat diletakkan kayu yang terbakar dibagian bawah, dan tempat memasak di atasnya. Ada juga tungku yang sudah direncanakan untuk memberikan aliran udara secara alamiah bagi kebutuhan proses pembakaran dan menampung abu hasil pembakaran, yang disebut anglo – yang terbuat dari gerabah. Mungkin kita masih bisa menemukannya di penjual nasi goreng atau mie jawa yang menjaga ketradisionalan proses memasak dengan berbagai alasan.

Penggunaan bahan bakar cair – bahkan berbahan gas, termasuk yang terlebih dahulu diubah menjadi gas – untuk penerangan sepertinya jauh mendahului penggunaan bahan bakar cair untuk keperluan masak memasak. Atau bahkan lebih dahulu masyarakat menggunakan bahan bakar gas dari pada bahan bakar cair, walau bahan bakar gasnya bukan berbasis minyak.

Mungkin masih ada yang ingat, adanya silinder besar yang bisa turun naik, yang di Surabaya letaknya dekat Setasiun Semut, di Jakarta letaknya dekat Pekojan [jl. H. Zainul Arifin], dan di Semarang dekat Sluke [kalau tidak salah lho ya], dan di Bandung malah lupa, yang menghasilkan gas kota, yang disalurkan ke rumah-rumah gedongan. Karena itu kita mengenal Perusahaan Gas Negara [PGN] – saudaranya Perusahaan Listrik Negara [PLN]. Kalau tidak salah [maaf sudah lama tidak diingat – karena tidak digunakan] walau sampai tahun 1982 masih memanfaatkannya di Bandung [untuk lab-lab di ITB].gas yang digunakan adalah karbon monooksida [CO] yang justru beracun.

Jadi sebenarnya, untuk kalangan terbatas, dan belum oleh masyarakat luas, penggunaan bahan bakar cair dan bahan bakar gas itu sudah berlangsung sejak sebelum kemerdekaan ini, dan kemudian merosot setelah kita merdeka. Bukan maksud untuk menjelekkan bangsa sendiri, tetapi memang begitu kenyataannya.

Saya akan sedikit bercerita tentang peralihan jenis bahan bakar yang digunakan luas di masyarakat umum, khususnya masyarakat awam atau rakyat jelata.

Saya masih mengalami dimana nenek menggunakan kayu dan arang untuk memasak, walau di kalangan masyarakat tertentu di kota besar [terutama daerah yang dihuni warga Balanda atau bekas hunian Belanda] sudah menikati bahan bakar cair [minyak tanah] dan bahkan gas kota [begitu disebutnya dahulu]. Bahkan juga ketika korek api masih langka [karena mungkin bahan bakunya dipakai untuk perang], sehingga masyarakat “memelihara api kecil” dan kemudian untuk memindahkannya digunakan batang bambu yang di ujungnya diberi belerang.

Lalu kemudian mulai menggunakan minyak tanah dengan menggunakan kompor yang bersumbu banyak, dan baru kemudian ada kompor elite dengan sumbu asbes yang melingkar [merk Butterfly],. Pada saat itu, memang tidak ada campur tangan pihak manapun, dan masyarakat secara perlahan tetapi pasti, walau agak lambat sampai di pedesaan, mulai beralih ke minyak tanah.

Kira kira pada akhir 1960-an, mulai diperkenalkan gas ELPIJI oleh Pertamina, yang sesungguhnya adalah pengucapan dari LPG – Liquified Petroleum Gases – sebagai hasil samping dari kilang-kilang yang menghasilkan BBM. Kemudian ada juga LNG – yang dihasilkan oleh kilang NGL di Arun, Aceh dan kemudian Bontang, Kalimantan Timur, yang sebagian besar untuk keperluan memenuhi pasar ekspor. Yang secara perlahan juga menyebar ke berbagai lapisan masyarakat menengah di Indonesia, dan terdistribusi sampai di perkotaan yang jauh – walau masih terbatas.

 

Biaya awal yang harus dikeluarkan untuk beralih menggunakan Elpiji guna membeli tabung dan kompornya, serta rasa ketakutan untuk menggunakannya, merupakan barrier dalam memperluas penggunaan gas ini di masyarakat. Begitu juga, bila membeli gas dalam tabung berisi 12 kilogram, juga mungkin masih dirasa berat. Maka, adanya gagasan memasyarakatkan penggunaan gas Elpiji dalam kemasan 3 kilogram, merupakan upaya yang harus diacungi jempol dari berbagai sisi pandangan. Hanya memasyarakatkannya “secara paksa” yang perlu dikaji ulang, terutama mengenai kesiapan penggunaannya dari sisi pengetahuan masyarakat.

Penggunaan listrik saja, yang sudah hampir berapa puluh tahun lebih awal, masih sering terdengar menjadi penyebab kebakaran, yang disebut dengan terjadinya arus pendek [korsleit]. Tetapi hampir tidak pernah dikaji, apa yang menyebabkan korsleit tersebut. Dari pengalamanku, di dua kali kebakaran di tetanggaku, penyebabnya bukanlah korsluit melainkan hubungan yang longgar dan penggunaan tee yang bersusun, atau kabel yang terlalu kecil dibandingkan dengan arus yang melewatinya. Asal ada kabel, langsung dipakai.

Di saat awal konversi ke gas 3 kilogram, rasanya aman-aman saja. Berarti tidak ada masalah teknik dalam hal tersebut. Baru setelah beberapa tahun [tidak terasa ya] mulai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebelum ini, beberapa bulan ketika program mulai diluncurkan, kejadian yang sering diberitakan adalah ketiadaan tabung 3 kilogram di pasaran, dan langsung saja yang disalahkan pemerintah cq Pertamina. Dan tidak pernah diteliti, apa penyebab sesungguhnya. Ketika mulai terjadi ledakan di mana-mana, kembali Pertamina dan pemerintah yang dituding memberikan produk yang tidak berkualitas kepada masyarakatnya. Masalah keausan dan salah pakai kiranya menjadi penyebab.

Dan ternyata, betapa banyak barang yang beredar di masyarakat yang tidak memenuhi ketentuan, yang tentu saja ada yang membuatnya. Barang berkwalitas rendah diedarkan demi memperoleh keuntungan finansial, tanpa memperhatikan keselamatan masyarakat. Dan ternyata, hilangnya tabung gas dari pasaran, karena dipindahkan ke tabung 12 kilogram, karena adanya perbedaan harga. Dan karena kekurangan tabung, maka ada yang berinisiatif untuk membuat tabung 3 kg yang murah, tanpa memperhatikan segi teknis keamanan.

Pertanyaannya, apakah “kejahatan” tersebut murni bermotif uang? Ataukah ada unsur politis untuk menjatuhkan pemerintah, dan membuat rakyat enggan dan tidak mau menggunakan gas, dimana ada unsur pembodohan masyarakat dan menggagalkan program pemerintah? Kalau jaman Bung Karno dan Pak Harto, mereka itu bisa dikenai pasal subversif [sudah nggak kenal lagi ya istilah ini] dan hukumannya –tidak lain- adalah mati.

Disinilah letak kelemahan dari pengambilan keputusan mengenai konversi minyak tanah ke gas, dimana tidak secara proaktif diantisipasi berbagai hal-hal negatif yang dapat muncul dengan berbagai motif, dengan adanya perbedaan harga per kilonya antara dalam tabung 3 kg dengan yang dalam tabung 12 kilogram dan 40 kilogram. Kalau kita beli bahan lain, dalam satuan kecil harga satuannya biasanya lebih mahal dibanding dalam ukuran yang lebih besar, tetapi tidak untuk gas Elpiji ini. Coba saja, kalau beli margarin kemasan 2 kilogram, harganya pasti lebih rendah dibanding dengan 8 x harga kemasan 250 gram. Sehingga terjadilah “kebo nyusu gudel“ dimana tabung 12 kg dan tabung 40 kg menyusu pada tabung 3 kilogram. Inilah yang dengan salah kaprah disebut dengan istilah “melakukan oplosan” gas Elpiji oleh para pewarta di semua setasiun televisi. Tetapi syukurlah kelemahan itu sudah diakui oleh Menko Kesra Agung Laksono pada hari ini, dan akan dilakukan upaya untuk menghilangkan penyebab kemelut konversi gas ini, yaitu disparitas harga satuan antara gas dalam tabung 3 kg dan tabung ukuran yang lainnya.

Tetapi yang cukup mencengangkan, adalah kenapa begitu mudah terjadi ledakan. Kalau yang terlihat di berbagai tayangan televisi, yang menyajikan gambar setelah terjadinya “ledakan”, sepenglihatan saya yang sudah udzur ini, tabungnya sepertinya masih utuh. Dan juga, menurut apa yang pernah diajarkan oleh guruku dan dosenku, syarat terjadinya ledakan gas, haruslah ada stoichiometri [perbandingan] yang memenuhi syarat antara gas bahan bakar/peledak dengan oksigen yang ada di udara sekitarnya. Sekali lagi, barangkali judul dan penyampaian beritanya agak kurang pas. Karena bukan ledakan tabung gas, tetapi menyalanya gas secara sekaligus. He he, lain kan?

Ketika masih di kelas 2 STM, pernah diadakan acara open house untuk menarik murid SMP agar masuk ke STM, seperti iklan televisi SMK Bisa yang sering ditayangkan saat ini. Saya bertugas untuk mendemokan nyala api dengan menggunakan gas hidrogen. Gas hidrogennya dibuat dengan bantuan pesawat Kipp, menggunakan potongan logam seng dengan asam sulfat atau HCl sebagaimana yang dilakukan oleh penjual balon terbang. Gagasannya, gas hidrogen akan terbakar karena adanya oksigen di udara. Gas dari pesawat Kipp dialirkan ke Erlenmeyer yang diberi tutup karet dengan tabung gelas yang mencuat keatas. Dicoba sekali dua kali, masih belum bisa menyala. Setelah ditunggu agak lama sedikit, mala dooor, Erlenmeyer pun hancur berantakan, dan pecahannya mengenai mukaku di beberapa tempat. Untung nggak ada yang kena mata. Maka pulanglah dengan mercurochrom – obat merah desinfektan, pengganti yodium tincture yang pedih, dan sekarang sudah digantikan oleh betadine hasil pengembangan untuk program luar angkasa – di wajah ini.

Kalau masyarakat sudah dilanda ketakutan, maka untuk memulihkannya akan membutuhkan waktu yang lama. Dan kalau kita lihat di siaran televisi, dimana diekspose masyarakat yang kembali menggunakan minyak tanah, bahkan kembali pada penggunaan kayu bakar, lalu kapan negeri ini akan maju? Walau kayu bakar adalah termasuk dalam golongan renewable resources.

Kalau di negeri lain [dan juga di negeri ini] orang sudah banyak memakai microwave oven atau kompor listrik dengan sistem induksi, apa masyarakat kita akan kembali ke jaman memasak dengan kayu lagi?

 

Semoga Allah swt menganugerahkan kecerdasan kepada bangsa kita.

 

Amien.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

09 Agustus 2010

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: