Chin, Chun

 

Di awal paruh kedua abad ke XX yang lalu, keadaan dunia baru saja selesai dilanda peperangan yang berkecamuk di belahan barat dan timur. Dan dunia boleh dikata terbagi dalam dua blok, yaitu blok barat dan blok timur. Perseteruan antara kedua blok tersebut, begitu seru, sehingga walau tidak terjadi perang terbuka seperti di akhir paruh pertama. Keadaan itu kemudian disebut sebagai masa perang dingin. Di antara keduanya, muncul ‘blok baru’, yang disebut non-blok, yang beraliran bebas dan aktif. Indonesia, termasuk kelompok yang ketiga, dengan rekan-rekan utamanya, Mesir dari Afrika, Yugoslavia dari Eropa, India dari daratan Asia, dan Indonesia. Sangatlah terkenal Gamal Abdul Nasser, Yosef Broz Tito, Pandit Jawaharlal Nehru, dan tentu saja Soekarno.

Di dalam kelompok blok timur, yang dipimpin oleh Rusia dan China, tidaklah begitu kompak. Mereka berdua saling berebut pengaruh. Tentu saja, negara Eropa Timur dan beberapa negara Afrika dan Amerika Selatan lebih dipengaruhi Rusia, sedangkan bebera negara Asia dibawah pengaruh China. Walau Indonesia adalah termasuk negara non-blok, tetapi partai komunisnya lebih berkiblat ke China. Setidaknya begitulah menurut para pengamat waktu itu, sebagaimana negara-negara Vietnam Utara, Korea Utara, dan lain-lain.

Perseteruan antara negara yang dijuluki tirai besi dan tirai bambu ini juga sering berlangsung secara terbuka. Syahdan pada suatu ketika, pemimpin Rusia Nikita Kruschev [yang pernah juga datang ke Indonesia] sedang mengadakan lawatan ke negeri China yang sedang dipimpin oleh Mao Tse Tung atau dalam ejaan baru ditulis sebagai Mao Zhe Dong [yang dikenal dengan sebutan Paman Mao], dan berpidato dalam suatu rapat umum, mungkin di Lapangan Merah atau Tien An Men yang terletak berada di sebelah selatan Forbiden City – alias istana Kaisar China masa lalu]. Karena masyarakat China yang hadir tidaklah mengerti bahasa Rusia, begitu pula Kruschev juga tidak mengerti bahasa China, maka diperlukan seorang penterjemah guna menterjemahkan pidato Kruschev tersebut.

Setelah Kruschev menyampaikan beberapa kalimat dengan berapi-api, sang penterjemah menyampaikannya cukup hanya dengan satu kata “Chin”, dan bertepuk soraklah seluruh hadirin dalam waktu yang cukup lama. Dan ketika Kruschev melanjutkan pidatonya lebih berapi-api setelah memperoleh tepuk sorak yang begitu meriah, maka penterjemahpun hanya menyampaikannya dengan satu kata pula “Chun”. Dan rakyat China yang hadir disana, lebih menyambutnya dengan tepuk sorak yang lebih gegap gempita. Sedang paman Mao hanya tersenyum senyum saja.

Ingatan ini kembali mengemuka di benakku, dipicu oleh berbagai berita yang muncul akhir-akhir ini berkenaan dengan keberadaan bukti percakapan antara Ari Muladi dan Ade Raharja. Juga mengenai ketidak-hadiran Kapolri pada hari Jumat dalam pelantikan dan serah terima jabatan di kepolisian.

Bertutur kata, apalagi menyampaikan pernyataan dalam bahasa lisan [dan juga dalam bahasa tulis], terutama oleh para tokoh [apalagi sedang dalam sorotan publik] hendaklah jangan sampai bisa ditafsirkan atau dipersepsikan bermacam-macam, atau menimbulkam multi tafsir. Sangat berbahaya, beda dengan pernyataan orang kecil, apalagi yang disampaikan secara bergurau.

Kejadian yang mendahului, atau situasi saat disampaikannya pernyataan tersebut, sangatlah memengaruhi penafsiran atau persepsi yang dapat ditimbulkan. Coba lihat pernyataan dibawah ini.

  • Di bulan puasa seperti sekarang ini, seorang tua memberikan nasihat kepada anak lelakinya yang baru saja menikah beberapa waktu sebelumnya dalam bahasa Jawa “Nak,engkok nek mangan bandeng waktu riyoyo bareng mertuwomu, ojok koen cuwek wetenge yo”. [mengingat bagian perut ikan bandeng adalah yang paling enak – bagi yang mengetahuinya].
  • Dalam pelajaran ilmu feqih, yang tengah membahas bab najis, sang guru menyatakan “Kita semua tahu anjing adalah binatang yang tergolong najis mugholadhoh, tetapi kyahi A kemarin terlihat mengusap-usap kepala anaknya”

Apa komentar dan tanggapan anda?

Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana hebohnya bumi pertiwi ini, ketika Pak Mahfud yang asal Sampang ini, memerintahkan untuk memutar semua rekaman hasil sadapan yang dimiliki oleh KPK dalam kasus Cicak-Buaya dalam sidang Mahkamah Konstitusi. Bukan saja heboh karena diputarkannya rekaman hasil sadapan tersebut, tetapi juga heboh dengan isi percakapannya dan siapa-siapa yang bercakap-cakap dalam rekaman tersebut. Ada petinggi kepolisian, kejaksaan, dan lain-lain dengan tokoh sentralnya Anggodo Wijoyo.

Dan kemudian, sepertinya biasa saja, ketika Kapolri dan Jaksa Agung dihadapan Komisi III DPR menyatakan bahwa mereka memiliki bukti adanya pembicaraan antara Ari Muladi [pihak Anggodo] dan Ade Raharja [pihak KPK] bahkan sampai puluhan. Tentu bukan saja orang awam, bahkan anggota dewan yang terhormat, dan anggota Tim Delapan, akan berpersepsi bahwa rekaman yang dipunyai adalah mirip atau serupa dengan hasil sadapan KPK, karena kepolisian memang memiliki perangkat dan wewenang untuk melakukannya. Bahwa Susno 2G, merasakan bahwa dirinya sedang disadap.

Tetapi semua orang menjadi terbelalak, ketika sidang pengadilan meminta rekaman itu [dengan persepsi rekaman pembicaraan] dihadirkan untuk diputar, ternyata yang dipunyai hanyalah CDR. Dalam beberapa hari, saya [dan mungkin juga masyarakat] mengira bahwa CDR itu adalah bentuk materi penyimpan datanya, yaitu kelas terendah dari berbagai CD, ada yang CDR, CDR-W, DVD-R dan sebagainya. Lho, kalau dalam bentuk CDR , kan ya tinggal ambil peralatannya untuk memutar. Ternyata CDR bukanlah cakram yang biasa kita gunakan di dunia perkomputeran, tahunya adalah singkatan dari Call Data Record, mungkin seperti yang dilampirkan dalam tagihan bulanan dari Telkom atau provider layanan komunikasi lainnya [bagi yang bayarnya belakangan, kalau yang bayarnya di depan si providernya cuwek saja sih].

Dan yang terakhir kali, pemberitaan di negeri ini dihebohkan lagi, beberapa hari setelah ditangkapnya Abubakar Baasir, ternyata Kapolri tidak diketahui dimana berada. Berita simpang siur terjadi dari pagi hingga sore. Bahkan keterangan dari Wakabid Humas POLRI pun, ternyata diragukan karena dibantah tegas Jubir Kepresidenan. Yang mencoba meluruskan adalah salah satu Penasehat Ahli Kapolri yang bernama Kastorius Sinaga [yang tugasnya kan bukan mengumumkan sesuatu ya] yang konon mendapat telpon dari Kapolri. Lho,mengapa tidak nelpon ke Kadiv Humas. Atau kalau sedang sakit parah, kan banyak ajudan yang bisa menelpon Kadiv Humas atau siapapun di Mabes Polri. Ada apa sebenarnya?

Kita bisa membohongi masyarakat, hanya dalam waktu sekejap. Dan untuk menutupi kebohongan yang dibuat, maka harus membuat kebohongan baru lagi, dan begitu seterusnya. Kalau tidak kebohongan itu akan terungkap. Sebaiknya kita tidak berbohong kepada siapapun.

Kembali ke cerita di bagian awal tulisan ini, konon chin itu artinya bohong, dan chun artinya lebih bohong lagi. Cerita ini berkembang dikalangan demonstran angkatan 66 di Bandung, untuk menggambarkan pidato-pidato tokoh orde lama di waktu itu, sebagaimana pidatonya Kruschev tersebut. Apakah  chin – chun ini akan selalu kita hadapi dalam kehidupan ini?

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

17 Agustus 2010

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: