CERITA PAGI – 10

Setidaknya dua pekan terakhir ini, pemberitaan diributkan oleh dua hal, yang sama-sama menyangkut hubungan antara anak keturunan Adam dan anak keturunan Hawa, alias menyangkut hubungan antara lelaki dan perempuan. Yang satu jelas-jelas halal dan dibolehkan oleh agama, walau umumnya ‘kurang disukai’ oleh sebagian kaum perempuan. Yang satu lagi, belum jelas duduk persoalannya. Tetapi lebih mendekati berbau hal-hal yang tidak dibenarkan oleh aturan agama. Yang satu, tentang menikah lagi atau poligami, dan yang satu lagi berkenaan dengan yang diistilahkan sebagai ‘nyolong dendeng’ [istilah kuno untuk selingkuh].

Tanpa bermaksud untuk mempengaruhi dan mencampuri hal-hal seperti itu, apalagi berkeinginan untuk itu. Naudzubillahi min dzalik. Coba kita pikirkan dengan tenang, melalui beberapa contoh dan pendapat yang dapat kita temui di masyarakat.

Sewaktu masih kuliah di Bandung, kami tinggal bersama beberapa teman mengontrak sebuah rumah, dan mengelola kehidupan sehari-hari secara bersama. Hitung-hitung latihan untuk menapaki kehidupan kelak kemudian hari. Untuk keperluan house-keeping [keren ya istilahnya], yang sangat sulit untuk dilakukan oleh para bujang yang sibuk dengan kewajiban belajar, kami mengupah seorang wanita setengah umur, yang merupakan tetangga rumah. Dia bersuamikan seorang petugas keamanan [Hansip, di wilayah Coblong]. Ternyata kemudian, bahwa si bibi yang bertugas menjalankan house-keeping di rumah kami itu, adalah isteri kedua dari bapak Hansip tadi. Dan lebih mengejutkan lagi, ternyata si bapak Hansip ini beristeri empat, dimana salah satunya adalah bibi yang bekerja pada kami. Hebaat bukan. Dan konon, kesemua isterinya bahagia. Dan semua membelanjai si bapak hansip tadi. Apa tidak lebih hebat dari pemiliknya Ayam bakar Wong Solo.

Beberapa minggu yang lalu, saya juga bertemu dengan seorang teman lama – yang dulunya pernah kost selama 3 tahunan di rumahku, ketika masih kelas 6 SD dan SMP – ketika dia takziyah berkenaan wafatnya adik iparku. Terakhir bertemu kira-kira 10 tahun silam, tetapi pernah beberapa kali kontak lewat telepon atau sms. Biasa, sebagai orang yang sudah berumur, saling menceritakan tentang kesehatan dan larangan maupun kebiasaan makan. Dia bercerita, bahwa dia masih bisa makan sate kambing sampai 30 tusuk dalam sekali santap. Juga, katanya baru saja menikmati gulai kepala kambing. Sedang aku, dulu juga sangat favorit akan makanan itu – walau tak sebanyak dia – tetapi sekarang sudah sangat mengurangi. Dengan seloroh aku nyeletuk “Rumahmu kan besar dan pintunya ada tiga, rumahku kecil dan pintunya cuma satu”. Maka tertawa terbahak-bahaklah kita [walau sedang berduka], termasuk salah satu isterinya yang mendampingi dia saat itu [nggak tahu yang nomer berapa, mau nanya koq kurang enak, karena baru tahu saat itu]. Dan sang isteri yang sedang piket tersebut hanya tersenyum sipu-sipu saja.

Lain lagi cerita yang kudapat dari seseorang yang lama tinggal belajar dan bekerja di Mekkah al-Mukarromah. Suatu ketika ada seorang TKI yang bertugas sebagai sopir bis mengalami kecelakaan lalu lintas, dimana bisnya menabrak mobil lain yang menyebabkan seorang lelaki tewas. Karena ada nyawa yang hilang, maka si sopir sudah membayangkan hukuman apakah yang akan diterimanya sesuai dengan hukum yang berlaku disana. Proses pengadilanpun mulai berjalan. Di dalam hukum yang berlaku disana [sebagaimana dalam hukum Islam], seseorang yang diancam hukuman mati dapat dibebaskan apabila keluarga yang wafat memaafkan dan si terdakwa membayar sejumlah uang duka bagi keluarga yang ditinggalkan. Ternyata keluarga korban, mau memaafkan dan membebaskan dari hukuman dengan syarat, jikalau si sopir Indonesia tadi mau mengawini janda yang ditinggalkan dan mengasuh anak-anak korban. Dia bergembira karena bisa bebas dari hukuman mati atau hukuman berat lainnya, dan tidak harus membayar sejumlah uang, bahkan memperoleh ‘hadiah’ menikahi janda si korban. Nggak tahunya, ternyata si korban tadi isterinya tiga, dan anaknya banyak. Mungkin dari pada mati seketika, lebih baik mati perlahan-lahan, pikir si sopir. Maka diterimalah syarat tersebut, dengan membayangkan bagaimana dia nanti sebagai sopir harus menghidupi tiga isteri dan belasan anak. Ee, ngaak tahunya, si korban ini adalah hartawan yang kuaya-raya [sengaja ditulis kuaya, bukan salah ketik], yang peninggalannya cukup untuk menghidupi tiga isteri dan belasan anak yatim tadi. Bahkan sampai ke cucunya sekalipun. Dari bujangan beralih status beristeri tiga dan beranak banyak hanya dalam sekejap. Wa allahu a’lam, tentang kebenaran cerita ini. Tetapi yang cerita ini kelasnya ‘kiyahi’ lho. Apa ada yang mau jadi sopir bis di Arab?

Konon, pada umumnya paradigma wanita Arab itu sangat berbeda dengan wanita Indonesia. Mereka itu bangga bersuamikan seorang lelaki yang beristeri banyak. Karena hal itu berarti bahwa suaminya adalah seorang lelaki yang bisa diandalkan. Dan mungkin juga, bahwa justru para wanitalah yang merasa perlu dipoligami. Berbeda dengan disini, yang sudah kadung tertanam dalam benaknya, hindari poligami. Hampir semua wanita yang kutemui setelah press-release oleh dai kondang dari Gegerkalong [yang juga ternyata bikin geger kolong], yang semula mengidolakan dai tersebut secara tiba-tiba berbalik arah, 180o. Dari mengidolakan, menjadi tidak lagi mengidolakan, walau tidak sampai membencinya. Semoga. Karena membenci seseorang – apalagi sesama muslim dan orang yang berilmu lagi, kan sangat tidak dianjurkan – bahkan dilarang oleh agama.

Tadi sore, sempat kulihat sepintas di TV, ibu-ibu PKB dan Muslimat [NU group] entah dari daerah mana, dan entah siapa yang menggerakkan, berdemo menolak poligami. Hati-hati kuwalat sama kiyahinya lho. Bukankah banyak kiyahi NU yang justru berpoligami? Dan kalau melawan kiyahi bisa tidak terbawa masuk sorga lho [kata mereka]. Para pemimpin [yang laki-laki] kemudian langsung memberi aba-aba untuk menolak upaya SBY guna merevisi PP 10 [yang hanya berlaku di kalangan pegawai negeri], dengan membuat PP baru yang mengetatkan poligami yang berlaku bagi seluruh warga negara. Hasyim Muzadi berkomentar, Ali Masyhan Musa di wawancarai secara live di Metro TV. Mantan Wapres, Hamzah Haz juga menjadi sorotan. Masyarakat kita memang sering terjebak, lebih meributkan barang yang halal [tetapi tidak disukai oleh sebagian orang], dibanding menyelesaikan pelanggaran yang jelas-jelas haram [tetapi lebih sering dibiarkan, dan dianggap biasa].

Jangan sampai kita berapi-api menolak sesuatu yang sesungguhnya dibolehkan oleh ketentuan Allah. Kita harus bisa membedakan mana yang ketentuan Allah, dan mana yang kemauan hati. Jangan sampai kita terbawa pada upaya untuk melawan ketentuan Allah. Itu yang harus kita jaga. Bukanlah kita sudah berikrar sami’na wa atha’na [kami mendengar dan kami mematuhi] semua aturan Allah yang disampaikan oleh rasul Muhammad saw. Kita juga sudah berikrar untuk memasuki dan memilih Islam secara kaffah [atau menyeluruh]. Bukan memilih yang kita sukai saja dan menolak yang tidak kita sukai. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang seperti itu.

Ada dua ketentuan Allah, [bukan hasil ijtihad, ijma’ atau qias para ahli ilmu feqih] yang bisa dibilang sebagai dua buah kutub yang sangat berseberangan. Kedua ketentuan itu adalah tentang talak [thalaq] dan tentang lelaki yang menikah lagi walau sudah punya isteri [poligami]. Kita yakin Allah sangat mengetahui manfaat dan madharat dari ketentuan dan aturannya yang ditetapkan bagi manusia.

Kalau aturan talak, dalam penjelasannya sering diimbuhkan penjelasan “sebagai perbuatan halal yang paling [pakai paling lho] dibenci oleh Allah swt”. Bahkan ada juga yang menambahkan “arsy akan berguncang bila ada seseorang yang bercerai”. [Bayangkan, berapa kali goncangan di arsy dalam sehari karena perbuatan para selebritis Indonesia? Apalagi ditambah selebritis lainnya, dan lain lain. He he]. Karena itu, dengan sendirinya banyak orang Islam yang akan berusaha sedemikian rupa untuk menghindari perceraian atau talak. Bahkan dilengkapi pula dengan aturan, bagaimana cara untuk rujuk [kembali kedalam suatu tali ikatan pernikahan lagi, seperti semula], walau ada batasnya .

Mengapa ya, dalam aturan poligami koq tidak ada yang mengimbuhi keterangan tambahan seperti pada talak? Bolehkah kiranya para ahli hukum agama, memberikan imbuhan berupa ijtihad, ijma’ atau qias tentang ketentuan poligami tersebut, sehingga masyarakat menjadi tidak mudah melakukannya [walau halal]? Sebenarnya, aturan tambahan itu sudah jelas, yaitu “harus mampu berbuat adil”. Yang konon hal ini akan ditafsirikan dengan bermacam-macam pendapat, yang memiliki kecenderungan untuk membenarkan diri sendiri atau diri seseorang untuk melakukannya. Tetapi rupanya belum seampuh ‘menggoncang arsy’.

Kedua aturan tadi [thalaq dan matsna, wa tsulasa, wa ruba’] mempunyai dasar hukum yang sangat kuat, sebagai sesuatu yang halal. Tetapi tidaklah sesuatu yang halal itu, selalu harus dilakukan. Dalam artian dua-duanya bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Tetapi hanyalah suatu escape clausul atau upaya jalan keluar dalam keadaan yang sangat sangat memaksa [sengaja diulang, bukan salah ketik].

Memang kehidupan di dunia ini aneh [paradoks]. Ketika seorang perempuan dinikahi oleh seseorang yang sudah bersuami, memang terjadi dua perubahan dalam satu waktu. Ada seorang perempuan yang berubah dari ‘tidak ada yang mengurus menjadi ada yang mengurus’ – yaitu perempuan yang jadi isteri ke-n [dimana n>1 dan n<=4, biar agak matematis lah]. Dan ada seorang atau beberapa orang yang merasa ‘berkurang haknya atau [kasarnya] jatahnya’. Tetapi tidak ada wanita yang jadi ‘terlantar’. Dan yang biasanya ribut, itu adalah orang-orang yang tidak menjadi subyek atau obyek dari suatu predikat tersebut. Tetapi orang lain yang tidak ada sangkut pautnya. Kirim SMS, minta supaya SMS tersebut disebarkan, dan lain lain. Bahkan, sampai tingkat menteri dan kepala negara bereaksi, karena dianggap ‘tidak mementingkan hak perempuan’.

Tetapi, ketika ada seorang wanita diceraikan, [dan ini jumlahnya jauh lebih banyak] artinya ada seorang wanita yang kehilangan pengasuh atau pelindungnya, hampir para wanita bisa menerima dan diam seribu bahasa. Tentunya itu tidak berarti lebih menyukai melihat orang lain dicerai dari pada melihat orang lain dinikahi, bukan.

Mengenai cerai mencerai, ada suatu cerita yang diberikan oleh guru ilmu fiqih ketika aku di MIT dulu, guna memberikan ilustrasi tentang aturan at-thalaaqu marratain [talak itu dua kali saja], dan apabila sudah talak yang ketiga maka tidak dapat kembali sebagai ruju’. Bila akan dinikahi lagi, harus sudah pernah dinikahi [dan harus dukhul dulu] oleh orang lain, dan di ceraikan, dan menunggu sampai masa iddah-nya usai. Ada seseorang yang mulutnya terlalu mudah untuk mengatakan “aku cerai engkau”, sehingga habislah batas yang dibolehkan oleh agama. Maka si lelaki – yang masih mencintai isterinya – menyuruh orang lain untuk menikahi mantan isterinya itu dengan syarat, setelah dukhul harus diceraikan. Setelah pernikahan dengan mantan isterinya berlangsung beberapa hari, dia menagih syarat tersebut kepada lelaki. Apa lacur, ternyata si lelaki membatalkan secara sepihak kesepakatan sebelumnya, dengan alasan sederhana “uenak e”. Jadilah si mantan suami itu ngawa sepanjang hayat.

Berhati-hatilah kita bersikap. Jangan sampai kita keliru dengan mengambil sikap menentang ketentuan yang ditetapkan oleh Allah swt, seperti tentang thalaq dan matsna, wa tsulasa, wa ruba’, hanya karena dorongan emosi dan nafsu belaka. Semoga Allah mengampuni jika ada kesalahan dalam pengungkapan ini.

 

Wa allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

06 Desember 2006

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: