CERITA PAGI – 09

 

Interdependence, not just Independence. Yah itulah kira-kira yang harus kita upayakan. Kalau di jalan raya saja –  yang antara satu dengan yang lainnya tidak saling mengenal dan tidak ada hubungan kerja atau kesamaan pandangan, visi, dan misi saja – perbuatan seseorang akan memberikan dampak kepada yang lain, tentunya dalam suatu kelompok, suatu organisasi, atau suatu tim dampak itu akan semakin nyata.

Sebuah kendaraan yang berhenti mendadak dan seenaknya [basanya jenis angkot atau kendaraan umum sejenis], tentu akan membuat pengemudi yang dibelakangnya akan gedandapan [terkejut dan kemudian melakukan sesuatu secara reflek]. Kalau pengemudi yang dibelakangnya tergolong sabar, ya sudah sambil berucap “ya dia kan cari uang”. Kalau pengemudi yang dibelakang agak jengkel, setidaknya akan membunyikan tuter dengan nada kesal. Kalau bertemperamen agak keras, mungkin akan berteriak memaki-maki. Kalau bertemperamen keras, mungkin akan berhenti di sampingnya dan memaki-maki sampai puas, serta menyebabkan arus lalu lintas akan tergangnggu.

Tidak mau berhenti di kala lampu hijau sudah berganti menjadi kuning [apalagi pada saat berubah dari kuning ke merah] tentu akan menyebabkan terhambatnya arus dari arah yang lain. Dan lebih-lebih bila itu merupakan buntut dari kendaraan yang berturut-turut, dan kemudian terhenti di tengah perempatan atau pertigaan. Tentunya akan lebih parah pada persilangan sebidang [bisa pertigaan atau perempatan, dan juga ‘perempatan lima’] yang tanpa dijaga oleh sang petugas lalu lintas. Dan akan menjadi lebih parah lagi bila pengatur lalu lintasnya adalah kernet [kenek] dari metro mini atau kopaja, yang hanya akan mengatur demi kepentingan sopirnya sendiri. Yang akan memberhentikan semua kendaraan yang lain, dan jika dua sudah lewat, arus lalu lintas dibiarkan tambah kacau, “Emangnya gue pikirin”.

Dan berbagai perbuatan lain, yang sering kita temui. Karena ulah seseorang [dalam bentuk apapun] yang tidak bertanggung jawab [hanya berdasarkan rasa kemerdekaan untuk berbuat saja] akan menyebabkan banyak orang lain mengalami kesulitan.

Menahan atau menunda menggunakan hak diri sendiri, karena memperhatikan kepentingan orang lain, kiranya perlu kita ajarkan kepada anak-anak kita, serta anak didik kita. Kalau tidak dibiasakan sejak usia dini, tentulah akan susah untuk menerapkannya dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari yang akan ditemuinya nanti. Berbaga hal yang lain, juga turut berpengaruh pada pembentukan sikap seperti itu.

Kita lihat yang menjadi tayangan pada beberapa hari terakhir ini, antrian minyak yang panjang mengular. Dimana masyarakat konon, harus mengantri mulai dini hari untuk sekedar mendapatkan 5 liter minyak tanah. Apakah mereka semua sudah kehabisan minyak dirumahnya? Ataukah hanya karena melihat tetangganya antri, maka dia ikut-ikutan antri, karena didorong oleh rasa takut tidak kebagian minyak bila membutuhkannya. Tidak tertutup adanya kemungkinan hanya didorong oleh rasa takut kehabisan minyak.

Perasaan takut pada berbagai hal, memang dapat memperburuk berbagai situasi yang sebenarnya biasa-biasa saja. Dan secara psikologis akan mengubah paradigma berpikir banyak orang, dan membuat orang akan cenderung melakukan pelanggaran atas berbagai aturan yang ada. Lihat saja perilaku orang yang mulanya dihinggapi rasa takut jika anak-anaknya kelak akan mengalami kesulitan hidup, yang kemudian mengubah pola hidupnya dengan menempuh berbagai jalan pintas. Mulai dari korupsi untuk menghimpun dana guna anaknya, lalu merasa keenakan dan kemudian menghimpun untuk anak dan cucunya, dan berkelanjutan seakan dia akan hidup selama-lamanya.

Tujuan suatu kebijakan [yang bermaksud baik] bisa menjadi rusak akibat timbulnya rasa takut ini. Mengingat adanya orang-orang tertentu yang tidak dapat memakan jenis makanan tertentu karena alasan kesehatan, misalnya alergi, asam urat tinggi, kolesterol tinggi, pemicu kenaikan tekanan darah dan lain sebagainya, atau sebab lain. Tentu pihak pengelola kantin akan membagi jumlah yang harus disediakan dalam dua jenis pilihan yang ada, bukannya menyediakan setiap macam sejumlah jatah yang harus disediakan. Tetapi karena ada yang takut tidak memperoleh yang lebih ‘enak’ [setidaknya menurut dirinya] akan pilihan lauk yang disediakan di kantin, maka dia berupaya untuk mengambil makanan lebih dahulu, ketika pilihan masih ada. Dan karena yang seperti dia ini banyak, akibatnya, rekannya yang membutuhkan jenis makanan tertentu [sebagaimana alasan penyediaan dua macam tadi] menjadi tidak kebagian.

Parahnya lagi, yang lebih ‘merusak tatanan’, justru dia-dia itu tadi, demi untuk mengatasi rasa takut akan tidak dapat sesuatu yang diinginkan, bahkan tidak merasa telah melanggar aturan ketika makan terlebih dahulu sebelum waktu yang ditentukan,. Mungkin dia-dia itu [karena kalau disebut mereka, khawatir dikira jumlahnya banyak sekali] lupa bahwa dirinya adalah seorang guru atau pegawai dalam suatu sekolah, dimana apapun jabatannya dan tugasnya, akan dicontoh oleh anak-anak yang sedang menuntut ilmu. Pepatah ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’ kiranya masih valid pada abad ke 21 ini, bukan? Ataukah sudah obsolete?

Konon sifat memiliki rasa kelimpah-ruahan, [abundance mentality] artinya tidak takut kehabisan akan dapat menjauhkan kita dari sifat berebut. Dan kalaupun, kemudian harus menerima konsekwensi dengan tidak memperoleh atau tidak kebagian apa yang diinginkan, tidak lalu kemudian ikut-ikutan. Melainkan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah swt, yang Maha Kaya, Yang Maha Berlimpah nikmat dan karunianya. Tidak dapat memperolehnya sekarang, insya Allah akan mendapat yang lebih baik dan lebih banyak di waktu yang akan datang. Bukankah Allah swt menjamin rizki setiap makhluk yang melata di muka bumi ini? Masihkah kita ingat akan kisah seorang pejuang yang merintih kesakitan, ketika akan ditolong kemudian menyilahkan penolongnya untuk mencari rekannya yang mungkin lebih perlu ditolong dari pada dirinya sendiri. Walaupun kemudian ketika si penolong kembali ke tempatnya, dia sudah gugur. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Dan insya Allah anda tak akan mati karena tidak ……..

 

Wallahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

02 Desember 2006

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: