CERITA PAGI – 08

 

Arus mudik dan arus balik sempena perayaan iedul fitri atau lebaran di Indonesia telah usai sebulan yang lalu. Kita menyaksikan berbagai tayangan di televisi – yang merupakan siaran pantauan secara khusus, bahkan disiarkan secara “live” – ataupun melalui liputan surat kabar, bagaimana padatnya arus lalu lintas antar kota. Ibarat pancaran letusan kembang api, yang menyebar dari berbagai pusat kota – terutama Jakarta dan sekitarnya, dan ibu kota provinsi lainnya – menuju daerah asal para mukimin. Bila ada sedikit aral dalam perjalanan, apakah dikala perjalanan ke udik [mudik] atau dikala ke hilir [arus balik mudik], maka dengan cepat terjadi penumpukan yang sering kali kemudian sulit diurai.

Seminggu silam, fenomena seperti itu – perjalanan mudik dan arus balik – juga terdjadi di bagian benua lain, yang posisinya hampir diametral dengan tanah air kita, yaitu ketika masyarakat Amerika Serikat merayakan Thanksgiving Day. Tetapi – lagi lagi dari siaran televisi – kita melihat fenomena yang juga diametral. Ketika perjalanan arus balik, di beberapa negara bagian terjadi hujan salju yang cukup lebat sehingga menimbulkan aral bagi para pemudik tersebut di beberapa jalur inter-state, seperti Route 66 yang terkenal [‘pantura’ negerinya Bush]. Bukanlah pengguna jalan menjadi menumpuk di satu titik secara tidak teratur [seperti mbako enak, seperti tembakau yang dipergunakan oleh para nenek sebagai pengusap mulut setelah makan sirih beserta ramuan lainnya – nginang], melainkan tetap berada pada jalurnya dengan jarak antara bumper-to-bumper yang masih bisa dilewati kerbau atau sejenisnya. Dan tak ada sepeda motor.

Apakah hanya budaya mengemudi atau memandu kendaraan saja yang berbeda? Ataukah ada sesuatu yang lebih dalam, yang berakar pada diri masing-masing penduduk yang berbeda?

Keruwetan yang ditimbulkan oleh para pengendara kendaraan, baik mobil maupun [terutama, lebih tepatnya] pengemudi sepeda motor, kiranya perlu mendapat perhatian serius dari kalangan birokrat pengatur lalu lintas. Baik antar kota, dan terutama dalam kota Jakarta – yang merupakan kota dengan penduduk dan jumlah kendaraan per meter persegi terpadat di negeri ini. Padahal mayoritas penduduk Jakarta [dan juga Indonesia] adalah orang Jawa, yang dahulu dikenal memiliki pedoman “alon-alon waton kelakon” atau “alon-alon asal kelakon” yang kemudian go international sebagai “slowly but sure”. Apakah ageman seperti itu sudah sirnah? Atau sudah di over-ride oleh falsafah hidup yang lebih modern, seperti “siapa cepat, dia dapat” sebagai dampak dari berbagai iklan penjualan murah berbagai produk, atau pemberian hadiah yang disertai tambahan keterangan “selama persediaan masih ada” atau “hanya untuk 100 orang pertama”

Kita sepertinya menyaksikan pergeseran tata-nilai yang tertayang secara jelas dan nyata dalam kehidupan di jalan raya setiap hari, terutama pada pagi hari dan berulang pada sore dan petang ketika arus menjadi sebaliknya. Dan inilah yang terlihat oleh para anak didik kita, yang dikhawatirkan akan dikira bahwa itulah yang seharusnya mereka teladani dalam menjalani kehidupannya kelak.

Orang berebut jalan, tanpa mengindahkan keselamatan dirinya sendiri, apalagi keselamatan orang lain. Mereka bertindak seakan jalan tersebut adalah miliknya sendiri, tanpa orang lain memiliki hak yang sama. Jika arus kendaraan terhenti, maka setiap celah akan diisi, baik oleh mobil maupun oleh sepeda motor, sehingga tak ada lagi celah yang bisa dilalui. Mereka seakan memiliki kebebasan untuk bertindak apapun, bahkan menjalankan kendaraannya dalam arah berlawanan. Mereka rupanya baru beralih dari tahapan ‘dependence’ menjadi ‘independence’. Mungkin karena terkekang terlalu lama, sehingga mengejawantahkan rasa merdeka yang mereka miliki saat ini menjadi kebablasan. Dalam istilah ilmu pengendalian, disebut overshoot. Sayangnya tidak ada satu mekanismepun dalam masyarakat atau aparat yang mampu menghilangkan overshoot tersebut, atau sekedar meredamnya.

Mereka bertindak tanpa memikirkan dampak tindakannya pada orang lain. Mereka belum sampai pada tahap ‘interdependence’, dimana sudah mampu mengenali bahwa apa yang dilakukan seseorang tentu akan memiliki keterkaitan dan dampak pada orang di sekitarnya. Entah butuh berapa dekade lagi atau bahkan berapa generasi lagi, untuk bisa berpola pikir seperti itu. Dan anehnya juga, bila ada orang yang mencoba berlaku sedikit arif, dengan tidak ikut-ikutan serobotan seperti mereka, maka bunyi tuterpun akan bertalu-talu memecah suara deru gas motor dan mobil yang sedang pada posisi gigi netral atau bahkan setengah kopling.

Yang aku ceritakan disini, bukanlah sekedar pengemudi sepeda motor yang memang baru saja lepas dari ketergantungannya pada kendaraan transportasi umum, seperti bis kota, mikrolet, APK atau apapun namanya. Tetapi juga mereka yang berdasi dan menumpang mobil mewah, baik yang disertai pengemudi atau dikemudikan sendiri oleh orang berdasi atau berblaser sambil menempelkan hand-phone di pipi kirinya. Apakah mereka yang disebut terakhir itu termasuk yang baru bebas dari ketergantungan pada kendaraan umum?

Jika hal yang terjadi di Jakarta ini, juga melanda kota-kota di daerah, apalah jadinya negeri ini nanti. Belum lagi aral dan rintangan yang ditimbulkan oleh berbagai kegiatan penataan moda lalu lintas di Jakarta, baik pembangunan jalur bus-way, terowongan maupun jembatan layang, yang menyumbang semakin sempitnya lebar jalan yang masih sempit.

Apapun penyebabnya perilaku yang timbul di jalan raya, kiranya dapat diredam bahkan dihilangkan dengan pendidikan watak, character education, atau pembentukan akhlak yang karimah. Marilah kita mulai dari diri kita sendiri, kemudian dalam keluarga kita sendiri, kemudian dalam keluarga yang lebih besar [ dalam komuniti kita], kepada anak-anak didik kita, kepada orang tua mereka, dan kepada masyarakat di sekitar kita. Biarlah mereka berlaku seperti apa yang mereka mau, kita jangan terbawa menjadi ikut-ikutan dengan mereka. Semoga Allah menumbuhkan kehendak dan kekuatan pada diri kita untuk berbuat baik, dan memperhatikan dampak perbuatan kita pada orang lain. Interdependence, not just Independence.

 

Wallahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

01 Desember 2006

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: