CERITA PAGI – 07

 

Bagaimanakah sikap anda jika melihat ular di dekat anda? Walau ular itu kecil, dan tidak berbisa sekalipun, apalagi jika ular itu lebih besar [panjang] dari kita dan berbisa pula. Sudah pasti kita akan melakukan sesuatu, sebagaimana prosedur tetap [istilah birokratnya adalah “protap”] yang sudah terprogram dan melekat dalam benak kita. Membunuhnya, bila mungkin, adalah tindakan yang paling kejam yang mungkin kita lakukan. Mengusirnya selagi bisa, atau justru sebaliknya, hindari dan larilah menjauh, sebagai tindakan yang paling lemah yang bisa lakukan. Tidaklah terfikir sama sekali oleh kita pada umumnya, untuk bertindak tangkap, pelihara atau manfaatkan.

Begitulah pola pikir yang sudah melekat dalam diri kita, sesuai dengan berbagai informasi dan pengalaman – baik  pengalaman orang lain, apalagi bila itu pengalaman diri sendiri. Konon ada tip bila kita pergi ke India, jangan sekali-kali membunuh ular. Walaupun ular itu sedangmengejar seseorang yang berlari. Apalagi bila ular itu adalah ular kobra yang paling berbisa. Jahat benar tip ini, ya [setidaknya itulah yang ada di benak kita], sesuai dengan pola pikir kita. Mengapa?

Ceritanya ada seorang wisatawan [enakan pakai turis, kan yang merupakan kata serapan] mancanegara – yang sering disingkat wisman – melihat peristiwa seperti itu, yaitu orang Hindia di kejar ular kobra, dan dibunuhlah ular kobra itu. Tahu apa yang terjadi kemudian? Si wisman tadi dilaporkan ke polisi dengan dakwaan telah membunuh ular peliharaan si India yang sedang dilatih berlari. [Apa ular disana juga diajak jalan-jalan pagi seperti anjing peliharaan dari jenis ras-ras tertentu seperti lazimnya dilakukan orang-orang kaya di negeri ini?]. Cerita tadi tidak memberitahu, apakah memang itu ular peliharaan, atau memang ular liar yang mengejar si India – hanya akal-akalan si India untuk mendapatkan uang dari si wisman tadi.

Pola pikir orang India dalam melihat ular, sepertinya menarik untuk dikaji. Artinya jika kita menemui sesuatu yang “asing”, yang dianggap “berbahaya”, kita jangan semena-mena “memusuhinya” dan berusaha “menumpasnya”. Tetapi justru “manfaatkan”. [Nggak tahu, penulisan dengan banyak tanda petik ini, melanggar aturan kaidah penulisan bahasa Indonesia apa tidak. Menulis sendiri, bingung sendiri ya. Mungkin dengan dicetak secara tebal atau bold akan lebih pas].

Ada kecenderungan melihat sesuatu yang asing, dalam artian tidak lazim atau tidak biasanya terjadi, itu dianggap sebagai suatu bencana atau memiliki sifat berbahaya. Sehingga gejala atau fenomena itu harus dihilangkan, dan dikembalikan seperti keadaannya semula. Tanpa mau mencari kemungkinan melihat yang tidak lazim tadi sebagai suatu berkah, hikmat atau manfaat [atau apapun namanya atau kita menyebutnya, sebagai hal yang bersifat positif] yang dikaruniakan oleh Allah swt. Jika kita melihatnya dari sudut pandang yang berbeda seperti itu, mungkin kehidupan kita akan tenang, damai dan sejahtera, dan bahkan penuh ampunan dan karunia.

Kalau tidak salah, ada firman Allah swt dalam al-Quran yang kira-kira maksudnya seperti ini, “sering kali sesuatu itu dianggap buruk oleh manusia pada hal sesungguhnya adalah baik, dan begitu pula sebaliknya, sering kali sesuatu yang dianggap baik oleh manusia pada hal sesungguhnya tidak begitu”. Dalam bahasa lain, manusia itu [ya kita-kita inilah, siapa lagi] sering terlalu cepat mengambil kesimpulan secara terburu-buru berdasarkan apa yang dirasakan oleh pancainderanya ditambah pemikiran yang dangkal, yang hanya ditinjau dari satu sisi saja. Tidak meninjaunya dari berbagai sudut, dengan mempertimbangkan untung-rugi [cost and benefit atau advantage and disadvantage kata orang Inggris dan para ahli yang kebarat-baratan, atau manfaat serta madhorot kata santri] serta dampaknya dalam jangka panjang – bukan hanya dampak yang dirasakannya saat ini.

Coba lihat di sekeliling kita. Lumpur Panas Sidoarjo, dan yang terakhir Lumpur Dingin Banjarmasin. Yang satu niatnya mencari minyak atau gas alam dapatnya lumpur campur air bercampur gas [sedikit] 125.000 m3 per hari, dan yang satunya maunya cari air bersih dengan membuat lubang dengan pipa pralon ¾” dapatnya semburan lumpur yang diameter di permukaannya [lubang bibir sumurnya, katanya sampai 5 meter]. Dan kedua-duanya, dianggap sebagai bencana sehingga harus ditutup dengan cara apapun. Yang terungkap hanya “harus ditutup”. [Di kota asalku Gresik, lumpur itu punya dua arti. Yang satu nama desa penghasil ikan di pesisir kota, dan yang satu sebutan untuk nama penganan yang sangat lezat, seperti bingka-nya Pontianak. Kalau bingka-nya Banjarmasin itu wingko. Biasakan kan , huruf “w” jadi “b” dan “o” jadi “a”, vv –alias bolak balik – dalam pertukaran bahasa antar daerah di Indonesia].

Kalau semenjak awal penanganan Lumpur Panas paradigmanya bukan bencana, mungkin ceritanya akan lain. Jangan sampai hal yang sama nanti akan berlaku di Lumpur Dingin. Bukankah material letusan Gunung Galunggung semula dinyatakan bencana, tetapi ternyata kemudian menjadi pasokan utama bagi pembangunan di Jakarta? Bukankah pembangunan di Jawa Tengah dan DI Jogjakarta pasir dan batuanya hasil muntahan Merapi? Bukankah Semeru sebagai pemasok material yang sama untuk Jawa Timur? Kalau pasir dan batuan dari wilayah Tangerang atau Sulawesi bisa disebut sebagai non-renewable resources, maka lahar muntahan gunung berapi adalah sebagai renewable resources sebagaimana layaknya minyak jarak dan minyak sawit yang akan dijadikan substitusi bagi bahan bakar mesin diesel.

Teknologi yang dikuasai manusia saat ini [walau di Indonesia masih dianggap terbatas], insya Allah akan mampu mengubah ‘bencana’ menjadi ‘barokah’. Lumpur Dingin Banjarmasin, bila ditampung dan dipisahkan tidak tertutup kemungkinan akan menjadi pasokan air bersih bagi masyarakat sekitarnya, dan akan mengubah lahan gambut yang asam menjadi lahan aluvial yang subur.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

28 November 2006

 

 

Catatan:

Bagaimana kabar semburan airdan gas di Balungpanggang / Benjeng yang terjadi akhir tahun 2012 yang lalu ya.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: