CERITA PAGI – 06

La Shakka, suatu kata yang semula aku cari dari mana asal usulnya. Kata ini kubaca tercetak pada sobekan sebuah plastik pembungkus. Entah bungkus apa asalnya. Sehingga aku tidak bisa mengira arah pencarianku.

Kata tersebut memberi kesan unik, dan barangkali mendekati nama-nama dagang kelas internasional yang berasal dari pusat mode di Italia sana. Diantaranya adikku sendiri, sejak beberapa tahun silam telah menggunakan kata La Tansa untuk barang dagangan berupa aneka peralatan shalat dan haji bagi muslimah, dan kemudian dijadikan nama kiosnya. Ada pula kutemukan produk aneka sepatu dengan nama dagang La Raiba, di salah satu lantai Pasaraya Grande, di Blok M sana. La Tansa, juga akan kita temukan di tepi kiri jalan raya antara Sala dan Madiun, tepatnya di Mantingan di wilayah Pondok Pesantren Putri yang merupakan paralel atau satelit dari Pondok Modern Gontor [yang khusus pria].

Jika La Tansa – yang jelas berasal dari bahasa Arab – dengan mudah aku mengenali artinya sebagai Jangan Lupa, begitu pula La Raiba yang berarti Jangan Ragu, karena kata-kata itu merupakan penggalan kata dalam ayat al-Quran. Bahkan La Raiba muncul pada awal surat yang terpanjang, tepatnya pada surat al-Baqarah QS 2:2. Tetapi La Shakka, cukup membuatku penasaran. Memang beberapa merk dagang akhir-akhir ini ada yang menggunakan kosa kata bahasa Arab. Entah karena produknya berkaitan dengan kebutuhan muslimin dan muslimat, atau memang ada pasaran ekspor ke wilayah Timur Tengah, atau agar mudah diucapkan dan diingat.

Setelah beberapa waktu kemudian, aku baru menemukan bagian yang lebih besar dari bekas bungkus tersebut. Ternyata La Shakka adalah merk dagang [trade mark] pakaian, lebih khas lagi adalah bagian dari busana muslim, yaitu baju takwa yang marak dengan berbagai modelnya.

Sekarang akan lebih mudah untuk mengira, asal usul kata La Shakka tersebut, dan memang begitulah. Kemudahan datang, karena ternyata pada bagian sobekan pembungkus lainnya tertulis La Shakka dalam huruf aslinya, yaitu huruf Arab. Tetapi apakah gerangan artinya. Setelah mencoba me-retrieve [apa ya padan katanya yang pas], lalu tersenyum geli. Sebenarnya kosa kata tersebut telah terserap dengan baik dalam bahasa keseharian kita, yang ternyata memang sangat akomodatif. Berbeda dengan tansa dan raiba yang justru belum terserap sebagai kosa kata bahasa Indonesia. Tidaklah sulit untuk menemukan kata majemuk yang mengandung kata tersebut, hanya karena yang satu ditransliterasi dengan shakka sedangkan kita terbiasa dengan transliterasinya yang lain, yaitu syak. Yang lebih populer dalam kata bentukan “syak wasangka”.

Paduan kata seperti “syak wasangka” ini berasal dari dua bahasa yang dipadu menjadi bahasa keseharian [bahasa Melayu] yang kemudian menjadi baku dalam penggunaan bahasa Indonesia. Istimewanya lagi, penghubungnya juga menggunakan kata wa yang dalam bahasa Arab artinya dan. Memang kalau diucapkan ‘syak dan sangka’ agak janggal, lebih enak ‘syak wasangka’.

Tahukah anda beberapa kata yang lain, yang mirip-mirip seperti ini? Kadangkala kita sudah menganggapnya seperti kosa kata asli Indonesia, dan bukanlah kata serapan. Yah, persis apa yang anda pikirkan. Kata ‘lau’ dalam kata ‘jikalau’, sebenarnya adalah kata hybrid dari dua kata yang berlainan asalnya, tetapi mempunyai arti yang sama. Lau itu artinya ya jika. Dan ‘walau’, tentu arti asalnya adalah ‘dan jika’.

Memang banyak kata serapan yang kita miliki, yang menunjukkan bahwa bangsa kita memang bersifat akomodatif. Walau asalnya mencoba mencarikan padanan katanya dalam bahasa Indonesia, tetapi kemudian upaya itu akhirnya hilang sirna entah karena apa. Nenekku menyebut bioskop atau bahkan jadi biskop, dengan ‘gambar hidup’ yang merupakan terjemahan harfiah dari bio-scope. Kalau kita sekarang menyebutkan gambar hidup tentu akan ditertawakan oleh orang di sekitar kita. Begitu juga upaya mencarikan padanan kata dalam Bahasa indonesia untukkata-kata tertentu, sering terkendala oleh sikap masyarakat yang lebih dominan. Coba saja televisi, telepon dan lain-lain.

Money Changer, atau Money Exchange tentu lebih populer dibanding padanannya yang digunakan di negeri tetangga Malaysia, yang justru dipadankan dengan kosa kata Jawa, Pengurup Uang. Kita yang orang Jawa pun di Indonesia, lebih memilih menyebut Money Changer dari pada menyebut Pengurup Uang.

Banyak sekali kata serapan yang kita miliki, dari bahasa berbagai bangsa yang pernah bersinggungan dan datang ke negeri kita yang terbentang luas di khatulistiwa [khat ul istiwa] – yang sudah tidak perlu dicetak miring lagi – ini. Pompa, bangku, lampu, saku, loteng, boneka, seluwar, bis, pasar, wasit, wesel dan masih banyak lagi. Dan masih beratus bahkan beribu kata lagi bisa kita deretkan sebagai kata-kata yang sudah diserap dalam bahasa kita ini.

Apakah menggunakan kata asing itu lebih gagah dibanding dengan menggunakan kata asli kita sendiri? Gejalah kejiwaan apakah seperti itu? Bukankah kita lebih sering menggunakan “Ibu sedang on-line” dibanding dengan “Ibu sedang menerima telepon”. “Bapak sedang meeting” dibanding “Bapak sedang rapat”. “Sudah ada appointement?” dibanding “Sudahkah dibuat perjanjian?” Apakah pada generasi mendatang, entah berapa generasi kemudian, kata-kata yang masih dicetak miring tadi, mungkin sudah akan dicetak tegak?

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

26 November 2006

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: