CERITA PAGI – 05

 

Sudah nggantung untu [secara harfiah berarti menggantung gigi, sesuatu yang dikatakan bila kita harus menunggu santapan berikutnya karena masih menunggu dilayani ketika kita menambah makanan – tanduk dalam bahasa Jawa Tengah, dan embuh dalam bahasa Jawa Timuran, atau tambuo dalam bahasa Minangnya] ya, kepengin mengetahui cerita cak Nun [Emha Ainun Najib] disalah satu tausiyahnya di Radio DELTA? Ketika aku menjalani trayek Pasar Minggu – Telaga Kahuripan, yang dipenuhi oleh injakan pedal rem dan pedal kopling silih berganti [mungkin itu juga pemicu kelelahan pada lutut kiriku yang dulunya hanya beberapa kali seminggu menginjak pedal kopling, tetapi meningkat menjadi beberapa ratus kali sehari], banyak sekali memperoleh kesempatan mendengarkan tausiyah pendek yang disampaikan lewat 99,5 FM dan kemudian menjadi 99,1 FM tersebut.

Konon, menurut cerita si ‘kiyai mbeling’ yang memimpin kelompok Kiyai Kanjeng [group musik campuran dengan peralatan modern dan tradisional], setelah melakukan pentas di kota Jogja atau Jogjakarta keseluruhan anggotanya merasa lapar. Tetapi kantong lagi cekak, mungkin hanya ada uang sekitar Rp 30.000,00 an saja. Sambil berjalan menikmati suasana kota budaya itu, mereka menemukan penjual jagung bakar. Ditanyakanlah oleh cak Nun, berapa sebuahnya. Ternyata harganya Rp. 3.000,00 per buah, pada hal uangnya hanya 30-an ribu saja. Dengan polos dan terbuka, sebagaimana biasanya wong Jawa Timur, cak Nun menyampaikan bahwa “Saya mau beli sebanyak 30 buah [sesuai dengan jumlah anggota Kiyai Kanjeng], apa bisa Rp 1.000 sebuah, karena uangku hanya Rp 30.000,00”.

Di luar dugaan cak Nun, ternyata si penjual jagung bakar yang kebetulan orang suku Madura asal Madura itu [artinya masih totok] menjawab dengan logatnya yang khas “Bapak boleh bayar dengan Rp 30.000,00 untuk 30 buah, tetapi harganya jagung bakar ini adalah Rp 3.000,00 per buah”. Tentu saja pernyataan penjual jagung itu menimbulkan pertanyaan di diri cak Nun. Dan cak Nun mencari konfirmasi dengan bertanya ulang “Jadi boleh Rp 1.000 sebuah?”. Ternyata jawaban si Madura tadi tetap saja “Bapak boleh bayar dengan Rp 30.000,00 untuk 30 buah, tetapi harganya jagung bakar ini adalah Rp 3.000,00 per buah”. Tentu saja hal itu membuat cak Nun semakin bingung.

Tanpa merasa rendah diri atau merasa bodoh, konon cak Nun bertanya lagi “Jadi maksud peno [anda dalam dialek Jawa Timuran] ini bagaimana?”. Dan dengan tegasnya si penjual jagung menjelaskan “Kalau sampeyan [anda juga sih artinya] beli 30 buah, maka harganya kan Rp 90.000,00. Dan kalau sampeyan cuma punya uang 30 ribu rupiah, ya dak pa-apa. Bayar saja segitu [sejumlah itu, maksudnya]. Saya terima sekarang 30 ribu. Yang 60 ribu sisanya, insya Allah nantinya akan saya terima di akhirat”.

Tentu saja jawaban seperti itu, diluar dugaan cak Nun. Ada dua macam transaksi, yang satu transaksi secara nyata yang berlangsung di dunia saat ini, dan yang satu lagi transaksi di masa mendatang, sebagaimana transaksi future-trading, yang diyakininya pasti akan terjadi kelak. Si penjual jagung bukanlah menurunkan harga jual menjadi Rp 1.000,00 per buah, tetapi tetap Rp. 3.000,00 per buah. Hanya cara pembayarannya yang bertahap. Sebagian sekarang secara tunai, dan sebagian lagi di akhirat kelak. Hasil dari suatu pemikiran nyata dan eksak yang dilandasi oleh suatu keyakinan akan adanya hari penghargaan di akhirat kelak, yang direalisasikan dalam perhitungan matematika sederhana.

Pola pikir seperti yang dimiliki orang Madura penjual jagung ini, tentu saja bertolak belakang, – bukan dalam artian sudut bertolak belakang pada istilah ilmu matematika atau ilmu ukur yang berarti sama besar sudutnya – tetapi, justru bertentangan, dengan kebanyakan masyarakat yang mengaku moderen dan terpelajar – yang selalu mengukur berbagai transaksi secara untung rugi, dan lebih lebih hanya dari tinjauan finansial semata. Orang hidup sekarang – pada abad 21 katanya – lebih cenderung meninjau sesuatu hanya berdasarkan uang semata. Bukannya hal itu salah, tetapi sesungguhnya ada yang lebih mulia dan lebih berharga dari itu. Sebagaimana ditunjukkan oleh sikap sang penjual jagung tadi, yang mungkin tak punya ijazah SD.

Mungkin dia memahami betul kaidah-kaidah ajaran agamanya karena dia dulu pernah nyantri di suatu pondok di kampung tanah kelahirannya, ataupun mungkin dia hanya sekedar mencoba mengamalkan salah satu petuah yang diterimanya dari tetua, kiyai atau pemimpin di desanya sebelum dia berangkat merantau mengais rezeki Allah yang bertebaran di muka bumi ini.

Mungkin saja sang penjual jagung tidak fasih melantunkan firman Allah swt dalam surat Asy-Syuraa QS 42:20, tetapi beliau telah menerapkannya dalam kehidupan yang nyata, yang dilakoninya setiap hari. Mungkin dalam benak manusia yang merasa moderen akan terbersit, kalau terus-terusan seperti itu kan bisa bangkrut jualannya, modal tak kembali. Yah kadang-kadang disitulah perbedaan yang besar antara manusia tradisional seperti penjual jagung itu, yang meyakini konsep barokah dan meyakini akan janji Allah, dan meyakini akan sifat Allah yang antara lain Maha Kaya, Maha Mengetahui.

Mungkin saja [jika Allah menghendaki], si penjual jagung bakar tadi tidak usah menunggu sampai di akhirat nanti guna menerima pembayaran yang tersisa sebesar Rp. 60.000,00. Mungkin saja dia segera menerima lebih dari itu di dunia, dan tetap akan menerima sejumlah itu pula dan bahkan lebih di akhirat kelak. Bukankah begitu janji Allah, dan bukankah Dia adalah Yang Maha Benar Janjinya [sadaqoh wa’dahu]. Mungkin saja Allah menggerakkan hati seseorang dermawan yang akan memborong semua jagung sisanya dengan harga Rp 10,000,00 per buah atau bahkan lebih.

Ketulus ikhlasan perbuatan kita, akan mendapat balasan yang melimpah. Pasti. Dan yakinlah akan hal itu. Bisa di dunia, bisa di akhirat, dan bahkan lebih sering lagi, di dunia sekarang dan di akhirat kelak. Bukankah begitu janji Allah tadi.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

25 November 2006

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: