CERITA PAGI – 03

 

Hari itu Kamis pagi, 23 November 2006, dalam perjalananku diantar anakku ke Wijaya Graha Puri, kuterima sebuah SMS dari anakku yang masih di rumah bahwa seorang karyawan ADHI KARYA menjadi korban dan dua orang lainnya belum diketahui nasibnya ketika terjadi ledakan pipa milik Pertamina yang mengalirkan gas dari ladang di Pagerungan, Sumenep, Madura, menuju wilayah Gresik, akibat tak kuat menahan desakan pergeseran tanah dan lumpur panas. Hari itu aku tak melihat siaran berita televisi pagi seperti biasanya, sehingga tidak mengetahui berbagai ihwal yang terjadi kemarin dan malam harinya.

Seperti biasanya, kusegerakan mengirimkan pesan singkat ikut bela-sungkawa atas kejadian yang menimpa karyawan perusahaan dimana aku dulu bekerja, kepada para direkturnya dan juga kepala cabang di Surabaya. Balasan dari Surabaya menyatakan terima kasih atas empatinya, disertai kata-kata ‘Allahummaghfirlahu’. Yang segera kutanyakan dengan nada bersenda ‘hu’ atau ‘hum’, karena aku tahu bahwa dia mafhum akan arti pertanyaanku tersebut mengingat dia adalah seseorang yang dibesarkan di lingkungan santri. Diluar dugaanku, jawabannya “Aku pelit ya, hanya hu untuk Pak Edi Tarno. [Bagi yang kurang faham, hu adalah kata ganti empunya dalam bahasa Arab untuk orang ketiga lelaki tunggal, sedangkan hum untuk orang ketiga lelaki lebih dari dua].

Kontan saja air mataku berlinang, apalagi setelah mendapatkan cerita lisan dari Gus Ali ini [sapaanku pada kepala cabang Surabaya, sudara Ali Fauzi]. Langsung saja bibirku mengucapkan doa dalam format panjang, sebagaimana yang lazim dibacakan diantara kalimat-kalimat takbir pada shalat jenazah atau shalat ghaib. Salah satu penyebabnya, tentu karena aku mengenal almarhum dengan baik semenjak aku mulai sering bertugas ke daerah Jawa Timur, yang banyak kulakukan semenjak tahun 1985-an. Almarhumlah yang sering ditugaskan untuk menemaniku apabila melihat ke proyek atau ada urusan lain dalam rangka melaksanakan corporate social responsibility, yang sudah ajeg dilakukan oleh ADHI KARYA semenjak lama dan sebelum populernya istilah itu sendiri.

Di tahun-tahun itu, komputer personal masih pada masa awal perkenalan kepada masyarakat secara luas. Pemimpin kami menginginkan agar para santri yang menuntut ilmu di Pondok Modern Gontor tidak ketinggalan dalam mengikuti perkembangan teknologi yang mulai merebak tersebut. Saya berdua dengan saudara Pinayungan, ditugasi untuk mengidentifikasi sumbangan apa yang kiranya bermanfaat untuk tujuan seperti itu. Ternyata mereka telah memiliki beberpa PC, tetapi hanya bisa dioperasikan beberapa jam saja dalam sehari. Saat itu [semoga sekarang sudah berubah] di Gontor tenaga listrik belum bisa diperoleh dari PLN, walau kabel jaringan sudah tidak berapa jauh dari lokasi pondok ini. Ada ceritanya sendiri tentang hal ini, yang kudengar langsung dari pemimpin pondok pada waktu itu.

Tenaga listrik untuk penerangan, dibangkitkan oleh dua buah genset merk Mercedez Benz guna memenuhi seluruh kebutuhan komplek pondok, tetapi hanya antara menjelang maghrib hingga menjelang para santri sudah diwajibkan untuk tidur. Karena itu, bantuan yang paling tepat tentunya berupa gen-set kecil berkapasitas 5 – 10 KVA guna menghidupkan beberapa komputer saja, sehingga komputer bisa digunakan 24 hours per day bilamana diperlukan.

Saudara Edi Tarno, yang biasa dipanggil oleh beberapa teman dekat sebagai ‘Hunter’, seperti tokoh film serial pada waktu itu. Orangnya sangat bisa menghadapi berbagai type orang, mulai dari yang kalem sampai yang beringas, atau bahkan menghadapi korak atau preman maupun menangani pejabat yang memerlukan penerapan sopan santun sekalipun. Karena itulah almarhum yang sebelumnya bertugas di kantor cabang, kemudian sering ditempatkan di proyek-proyek yang banyak persinggunan dengan masyarakat, antara lain proyek pelebaran Jalan Demak yang merupakan daerah yang yang sangat sangar. Penuh dengan pedagang kaki lima yang sudah membangun lapak dengan bangunan permanen. Walau belum ada Satpol PP – yang saat ini justru lebih banyak menimbulkan kekeruhan – permasalahan tersebut dapat selesai tanpa ada banyak berita dalam surat kabar atau tayangan televisi.

Kalau saja almarhum bukan seorang karyawan yang berdedikasi sangat tinggi, untuk apa sampai malam-malam begitu masih berada di lingkungan areal proyek yang justru sangat berbahaya. Kalau dia seorang pegawai yang hanya bekerja berdasarkan jam kerja formal saja, tentunya dia sudah berada di lingkungan keluarganya pada saat kejadian ledakan pipa itu terjadi.

Yang juga kuingat, almarhum ‘diberi hadiah’ oleh pak Ismu Sudarto [kepala cabang Surabaya waktu itu], dengan fulpen dan bolpoin yang sama dan sebangun [termasuk tintanya] dengan yang digunakan oleh pak Ismu sendiri. Karena hanya almarhumlah yang bisa melakukan impossible mission itu, dan tentunya karena almarhum adalah seorang yang bisa memegang amanah dengan baik. [anda bisa mengira kan? Tugas apakah gerangan].

Di sore hari Jumat, setelah acara pelepasan jamaah calon haji dari keluarga besar ADHI KARYA, yang tahun ini sudah menembus angka psikologis tiga digit, dalam perjalanan dengan pak Saiful Imam, sekali lagi SMS masuk dari pak Fuadi, yang memberitakan diketemukan lagi seorang karyawan ADHI KARYA. Gus Ali, sudah jadi ‘humma’, dan mungkin akan betul-betul segera menjadi ‘hum’ karena masih ada seorang rekan ADHI KARYA yang belum ditemukan.

Selamat jalan saudaraku Edi Sutarno dan kawan yang lain. Semoga engkau diterima disisi Allah swt, diampuni dan dimaafkan segala kesalahanmu, serta diberikan imbalan yang berlipat atas segala amal baikmu. Dan Allah meridhoi amalmu. Engkau wafat dalam tugas demi kemaslahatan ummat.

 

Amien.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

25 November 2006

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: