CERITA PAGI – 02

Selesai sudah hiruk pikuk tentang kedatangan orang no. 1 di USA. Walau hanya enam jam saja – seperti perebutan kembali kota Jogja oleh para pejuang kita di masa revolusi fisik lebih setengah abad lalu – tetapi pemberitaan dari berbagai kegiatan sebelum kedatangan itu sendiri jauh melebihi pemberitaan ‘enam jam di Jogja’. Dibalik hiruk pikuk berbagai demo, yang menentang kedatangannya maupun yang menyambutnya, ada satu berita kecil yang mengusik ketenangan jiwaku. Ada seorang murid salah satu SD Negeri di kota hujan itu, yang memperoleh kesempatan bertemu dengan Mr. Bush.

Konon orang tua sang anak tidak mengetahui kriteria apa yang diterapkan sehingga anaknya dipilih mewakili sekian puluh juta siswa-siswi yang ada di Indonesia ini. Berita ini muncul di salah satu siaran televisi swasta yang sering kutonton. Hal itu masih tidak seberapa mengusik nuraniku. Boleh-boleh saja si orang tua tidak mengetahui kriteria apa sehingga anaknya dipilih. Tetapi aku yakin, pihak yang menetapkan tentu memiliki kriteria, apakah kriteria itu hanya tersirat dalam benaknya atau mungkin juga tersurat secara nyata.

Yang sungguh mengejutkanku, adalah bahwa si anak yang lugu dan polos sesuai dengan usianya ini, dipersiapkan selama dua bulan melalui penambahan pelajaran dalam bidang berhitung dan mengarang. Ini benar-benar mengusik jiwaku. Sudah sedemikian parahnya budaya drilling ini merasuki dunia kehidupan pendidikan anak-anak kita. Entah siapa pemrakarsa dari semua itu, dan entah apa pula tujuan dari drilling itu dilakukan, serta siapa saja yang terlibat dalam kegiatan drilling tersebut.

Apakah sianak digenjot dalam kemampuan berhitung agar melebihi rata-rata kemampuan anak Amerika, padahal hingga beberapa tahun silam kemampuan rata-rata anak-anak Amerika dalam berhitung masih dibawah kemampuan rata-rata anak Asia [Indonesia termasuk Asia juga lho, walau mungkin tidak dijadikan benchmark dalam studi tersebut] ? Dan kalau memamg tujuannya untuk menunjukkan hal itu, mengapa tidak dicari saja anak-anak yang memang sudah memiliki kemampuan berhitung secara luar biasa dalam kelompok usianya. Saya yakin tidaklah sesulit mencari jarum kuning dalam tumpukan jerami kering dalam lumbung BULOG.

Apakah sianak digenjot dalam kemampuan mengarang agar bisa ‘berbohong’ dengan betul-betul mengarang suatu cerita fiksi tentang keindahan dan kebahagiaan kehidupan masa kanak-kanaknya ditengah himpitan berbagai kesulitan yang secara nyata dihadapi orang tuanya, masyarakat sekitarnya dan keseluruhan bangsa Indonesia, yang konon menjadi ‘hancur lebur’ semenjak kriris moneter yang dipicu oleh salah seorang warga negeri si tamu ?.Yang kemudian dari krisis moneter itu, merebak menjadi berbagai bentuk krisis yang lain seperti hilangnya kepatuhan pada aturan dan hukum, hilangnya rasa menghargai orang lain, hilangnya keramah-tamahan yang selama ini menjadi kebanggaan bangsa yang menghuni untaian pulau jamrud khattulistiwa ini.

Tentu si perencana kegiatan tersebut dan si driller itulah yang mengetahuinya dengan pasti. Yang melatih si anak tadi, kemungkinan adalah seorang pengajar berhitung dan seorang guru bahasa yang sehari-harinya mengajar mata pelajaran tersebut. Bisa pula si driller adalah seorang birokrat yang ditugasi untuk mencapai maksud tersebut di bantu oleh seorang pengajar. Sengaja saya gunakan istilah pengajar, dan bukanlah istilah guru, apalagi menggunakan istilah pendidik. Tanpa didefinisikan lebih lanjut, kiranya kita bisa merasakan perbedaan antara seorang pengajar, guru dan pendidik. Ataukah perbedaan itu sudah sedemikian tersamar, atau bahkan sudah tidak ada perbedaan lagi antara ketiganya? Rasanya masih adalah perbedaan antara ketiganya itu.

Karena dari nama lembaga tertentu, kita masih mengenal kata-kata “institut keguruan dan ilmu pendidikan”, yang secara nyata memang membedakan antara guru dan pendidik. Kita juga sering mendengar ‘kata majemuk’ yang berbentuk “pendidikan dan pengajaran”. Tentunya mereka yang berkecimpung dalam pengajaran, keguruan dan pendidikan akan lebih bisa merasakan – bahkan mendiefinisikan – perbedaan dari ketiga hal tersebut.

Dengan dialihkannya nama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan [IKIP] menjadi berbentuk universitas – bahkan masih ada yang menyisakan kata “pendidikan”, yaitu Universitas Pendidikan Indonesia [UPI], malah diplesetkan menjadi “Universitas Padahal IKIP”. Tak apalah itu.

Tetapi yang lebih membuat hati ini trenyuh, adalah berita pada hari yang sama, mengenai tawuran antara dua fakultas di Universitas Negeri Makassar, dan perselisihan berkelanjutan antara mahasiswa dan pihak rektorat dari IKIP PGRI Mataram. Kalau yang bakal mengajar, menjadi guru atau mendidik anak-anak kita nanti [kalau memang mahasiswa kedua perguruan tinggi itu nantinya akan berprofesi sesuai bidangnya], adakah sesuatu yang indah terbayang di benak kita? Ataukah justru sesuatu yang mengerikan terbayang di benak kita?

Yang jelas, budaya jalan pintas dengan melakukan drilling kepada anak-anak didik kita, haruslah kita cegah pada berbagai kemungkinan yang ada. Adakalanya hal seperti itu tidak kita sadari. Mari kita lihat, di sekolah kita apakah ada hal-hal yang masih bersifat drilling yang tidak pada tempatnya. Drilling tidaklah selalu salah atau jelek. Tetapi perlu melihat konteksnya, kali.

Jika digunakan secara tepat, metode drilling ini akan memberikan dampak yang positif, tetapi jika salah tentu sebaliknya yang akan kita peroleh. Tetapi tawuran dan pemaksaan kehendak dalam bentuk apapun, kiranya sama sekali tidak boleh dilakukan.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

21 November 2006

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: