CERITA PAGI – 01

 

Hari itu, Rabu 15 November 2006, setelah petang kemarin hujan dan angin mengguyur areal sekolah hingga menyebabkan pohon tumbang. Walau masih pagi, sekitar jam 07:00, murid-murid kelas bawah – kelas 1-3 – sudah banyak yang berdatangan dan bermain di sekitar kelas mereka berada, di sekitar amphitheatre yang masih belum dinaungi dengan tanaman rambat. Ada yang berlarian, ada yang bermain bila kecil disepak kesana dan kesini seperti menyepak bola besar, ada pula yang bermain bola ukuran besar di lapangan basket di sampingnya. Ada pula yang berayun dan naik turun beberap mainan yang memang tersedia di sana. Beberapa bapak dan ibu guru yang sudah hadir, duduk bercengkerema sambil sekali-sekali mengawasi anak-anak yang sedang bermain tersebut, atau sesekali ikut menendang bola liar.

Matahari pagi sudah bersinar dengan cerahnya, karena tak ada awan yang tersisa di pagi itu, memancarkan enerjinya guna menumbuhkan pohon-pohon trembesi dan kupu-kupu yang mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan melalui tunas-tunasnya yang bermunculan. Semoga kelak, tanaman-tanaman itu mampu menaungi anak-anak tersebut ketika bermain di siang hari yang kadang-kadang cukup terik, sehingga membuat enggan mereka memanfaatkan masa jedah pelajaran untuk bermain disana.

Beberapa bujang kecil bermain dengan kapal terbang kertas, yang mungkin sudah dibuatnya di rumah atau dalam kendaraan di perjalanan menuju skolah. Mereka melontarkan pesawatnya, dan memperhatikan bagaimana lipatan kertas itu meliuk-liuk di udara, dan kemudian dengan pasti akan kembali mendarat di tanah, mengukuti sunnatullah yang ditemukan oleh Sir Newton melalui pengamatan buah apelnya.  Mereka tidak tahu pasti kemana pesawat mereka akan melayang, dan kemana pula pesawat mereka akan mendarat, sepenuhnya terserah pada arah dan tiupan angin yang menerpanya. Dan suatu ketika, pesawat itupun mendarat di suatu tempat yang tidak mereka kehendaki, di atap selasar yang memang berdekatan dengan tepi atas amphitheatre tersebut.

Anak-anak itu mencari batu kecil, yang dilemparkan ke bagian atas tempat mendaratnya pesawat mereka, dengan harapan batu itu akan bergulir dengan membawa serta pesawat mereka yang kandas di sana. Setelah beberapa kali mencoba, rupanya belum memberikan hasil yang diharapkan. Aku sendiri tersenyum melihat upaya dan nalar mereka guna mengatasi kesulitan yang mereka hadapi, serta kagum atas daya juangnya. Mereka berusaha mencari ranting-ranting kecil, tetapi rupanya tidak menemukannya di sekitar situ.

Kejadian itu sepertinya luput dari pandangan para guru, yang mungkin hanya sekedar duduk mencari sinar matahari pagi, atau mungkin juga sedang bertugas di duty-area yang ditetapkan oleh manajemen sekolah. Dua anak gadis yang lebih besar, tetapi masih kecil juga mendatangi mereka yang sedang berupaya mengevakuasi pesawat tersebut. Dan dengan sigapnya, salah seorang darinya, yang mengenakan sweater berlengan panjang berwarna kelabu, membukanya dan dengan mudah menggapai pesawat yang kandas tersebut.

Semuanya tersenyum. Para bujang bergembira karena dapat menemukan mainannya kembali. Dan setelah mengucap terima kasih kepada yang telah menolongnya, merekapun kembali asyik menerbangkan dan memungut pesawat secara berkali-kali, sampai tiba saat masuk ke kelas memulai kegiatan belajar mengajar. Si upikpun bergembira, karena dipagi hari itu telah dapat memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang dalam kesulitan dan membutuhkan pertolongan, walau hanya sekedar melambaikan sweater berlengan panjangnya.

Sayangnya, para bapak dan ibu guru tidak secepat itu memberikan bantuan. Mungkin memang sengaja membiarkan anak-anak asuhannya berkreasi dan mengembangkan nalar mereka dalam mengatasi kesulitan yang mereka hadapi. Memang ada pendapat, pohon yang selalu disirami air setiap pagi, akarnya tidak akan tumbuh kuat menghunjam kebumi karena selalu menemukan air yang mereka perlukan di atas permukaan tanah. Sebaliknya, pohon yang berupaya menemukan air di kedalaman bumi, akarnya akan tumbuh kuat dan dalam, yang pada gilirannya akan memberikan kekuatan bertahan mengahadapi terpaan angin puting beliung atau apapun namanya, seperti yang telah mencabut pohon angsana di Selasa sore hari kemarin.

Tetapi anak-anak itu, di satu sisi si upik telah mampu mengidentifikasi kebutuhan disekitarnya, dan si bujang telah mampu mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang diperolehnya. Subhanallah. Tanpa suatu pendidikan yang tepat, kiranya hal itu akan sulit kita temui dalam masyarakat yang sedang resah, yang penuh berbagai tuntutan yang seringkali sudah tidak proporsional lagi.

Kejelian para guru dalam mengamati, tidak saja diperlukan dalam membimbing para anak didiknya, tetapi juga dalam melihat keadaan sekitarnya yang lain. Kepekaan dalam melihat yang terjadi disekitar kita, melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya, melihat sesuatu yang tidak seharusnya, dan kemudian mencoba untuk menempatkan pada tempatnya adalah sesuatu yang sangat kita harapkan.

Seingatku, ada suatu hadis yang mengungkapkan, bahwa jika kita melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya [non-conformance], seyogyanyalah kita berbuat dengan tangan kita, atau dengan menyampaikan melalui ucapan kita, atau hanya ‘mengatakan dalam hati’; tetapi itu adalah derajat yang paling rendah.

 

Wa Allahu a’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

16 November 2006

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: