But, there is the most complex way to be prepared

Kalau melihat persiapan menu lebaran di Gresik seperti resep kemarin, sepertinya ibu-ibu di Gresik bisa santai ya menghadapi hari raya idul fithri. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Karena ada satu jenis menu lagi yang sifatnya sunnat muakkad. Yang penyiapannya membutuhkan waktu berjam-jam, bahkan aneka bumbunya sudah disiapkan sebelum bahan bakunya dibeli. Coba ikuti cara pembuatannya, secara tradisional yang berlaku hingga kini.

Bumbu-bumbu dipersiapkan sebelum hari membuatnya, yang terdiri dari [kira-kira lho, tolong dikoreksi bagi yang mengetahuinya]

 

  • Bawang putih;
  • Bawang merah;
  • Bawang daun [adanya di Jawa Timur], di Jakarta sulit didapat [bukan bawang pre lho ya];
  • Kemiri;
  • Lombok merah;
  • Telur
  • Ketumbar, jinten, daun jeruk purut
  • Garam dan lain-lain

 

Kesemua bumbu direbus terlebih dahulu, ditiriskan, kemudian dihaluskan secara bersama-sama. Kalau dahulu diuleg, sekarang bisa diawali dengan blender ya. Lalu direbus lagi dengan menambahkan santan kental, sampai membentuk suatu pasta. Disimpan dulu.

Bandeng yang tidak besar, ukuran sekilo isi 2-3, dibuang sisik, insang dan jerohannya. Membuang jerohannya, dilakukan dengan hanya membuat sayatan kecil dibelakang sirip bawah depan. Bandeng kemudian dipijat-pijat agar dagingnya melunak, tanpa membuat sobek kulit bandengnya.Setelah itu, semua daging beserta tulang dan durinya dikeluarkan dari badan bandeng, sehingga bandeng membentuk kantong kosong, dengan bagian kepala dan ekor tetap utuh.

Daging bandeng yang masih tercampur duri [ikan bandeng terkenal sebagai ikan berduri banyak yang berbentuk cabang dan tersebar di seluruh tubuhnya], dipisahkan sehingga menjadi boneless. Wouw, berapa lama? Ada alat bantu yang dipergunakan untuk memudahkan pekerjaan tersebut, yaitu menggunakan tempurung kelapa yang sudah diberi lubang-lubang. Dengan menggunakannya seperti ulegan, maka daging bebas duri akan mudah diperoleh.

Daging bandeng yang sudah halus, dicampurkan ke bumbu yang sudah disiapkan, ditanak lagi sambil diaduk-aduk, agar tercampur dengan baik. Campuran massa berbentuk pasta ini, kemudian dimasukkan ke kantong kulit bandeng melalui lubang sayatan tadi, sehingga kembali berbentuk bandeng. [tetapi lebih montok]. Pada bagian sayatan, biasanya diberi adonan lebih, sebagai penutup. Kemudian dijepit dengan jepitan bambu dan seluruh badan bandeng dibungkus dengan daun pisang,. Lalu dibakar sehingga adonan isi mengental dan memadat.Lalu daunnya dilepas.

Kalau bandengnya baru datang pagi hari selepas subuh, maka bisa-bisa baru selesai dipanggang menjelang asar, atau maghrib disaat takbiran sudah akan dimulai. Itu dahulu, disaat belum ada yang membuatnya secara “massal” dan menjualnya disetiap saat. Namanya, adalah Otak-Otak. Sekarang, menu yang semula hanya ada disaat lebaran atau kalau ada pernikahan ini, dapat diperoleh setiap hari jika anda datang ke Gresik. Bahkan, saat ini bisa anda peroleh di Bandara Juanda Surabaya.

Lebih baik beli, daripada bikin sendiri. Pelopor pembuat Otak-Otak yang diperdagangkan setiap hari ini, adalah Wak Ma’il a.k.a. Ibu Muzannah. Dan carilah yang dibuat olehnya. Awas barang tiruan, karena yang dijual di Bandara Juanda, bentuk dan warna serta gambar kotaknya sama betul, hanya tulisannya yang berbeda. Asal jangan “otak-otak bumbu mangut, endas butak dikerubung semut” saja ya.

 

Wa Allahu a’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

11 September 2010

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: