Bahasa

 

Allah swt menganugerahkan kemampuan berbahasa kepada makhlukNya dalam berbagai ragam, mulai yang sederhana pada berbagai binatang, dan yang begitu rumit kepada manusia. Betapa banyak bahasa yang digunakan oleh manusia di muka bumi ini. Dan menurut para ahli, banyak pula saat ini bahasa yang digunakan oleh sekelompok penduduk di suatu daerah, mulai tersisihkan oleh bahasa lain yang digunakan oleh lebih banyak orang. Bahasa yang satu dengan bahasa lainnya, saling memengaruhi, baik dalam bentuk kosa kata, maupun dalam bentuk kata bentukan lainnya.

Bahasa Indonesia, yang terbentuk dengan bahan dasar bahasa Melayu waktu itu, juga tidak terlepas dari pengaruh bahasa yang berlaku pada masyarakat waktu itu. Tentu saja bahasa Jawa Kuno, atau Melayu Kuno, juga sudah dipengaruhi oleh bahasa Sanskerta yang berkembang seiring dengan masuknya agama Hindu dan Buddha [mana yang lebih dahulu ya?] bisa terlihat pada berbagai kosa kata yang ada. Masuknya dan berkembangnya agama Islam di Nusantara, juga dengan sendirinya sangat kuat memberikan corak dan penambahan kosa kata dalam bahasa yang digunakan oleh penduduk waktu itu. Pengaruh itu sedemikian rupa, sehingga banyak orang yang sudah tidak sadar lagi akan asal-usul kata tersebut.

Sebut saja kalau “lau” yang berasal dari bahasa Arab, dan juga sering dipakai secara bersamaan dengan kata lainnya menjadi “walau”, yang artinya tentu adalah “jika” dan “dan jika”, kemudian digabung lagi menjadi “jikalau” yang artinya menjadi: “jika jika”. Ha ha

Walau dalam bahasa Melayu atau Indonesia sudah dikenal kata “sangka” tetapi untuk memperkuat dalam bentuk kata majemuk, maka jadilah “syak wa sangka” yang kalau diartikan secara harfiah [letterlijk] adalah “sangka dan sangka”, maka jadi aneh bukan?

Dan tentunya banyak lagi, contoh contoh seperti itu, dalam penggunaan bahasa kita sehari-hari ini. Bahkan dalam bentuk dokumen resmi pada masa perjuangan atau awal kemerdekaan, yang menjadi dokumen penting dalam sejarah perjuangan bangsa ini, misalnya struktur dan kalimat serta kata-kata yang digunakan dalam Piagam Jakarta [22 Juni 1945] yang kemudian menjadi Mukaddimah [he he bahasa mana pula ini] dari Undang Undang Dasar 1945 Republik Indonesia.

Perhatikan awal kalimat yang didahului oleh kata “bahwa sesungguhnya …..”, yang tidak lain dari bentuk “inna ……” dalam kelimat bahasa arab yang digunakan oleh penyusunnya pada waktu itu. Dan kemudian masih diikuti oleh kata, yang sering kita dengar pada awal khutbah Jumat di masjid-masjid, yaitu “amma ba’du ….” yang di Indonesiakan menjadi “dan kemudian dari pada itu ……”. Ini adalah suatu bukti yang tak terbantahkan bagaimana peran cendekiawan muslim di dalam perjuangan merebut dan menegakkan kemerdekaan di persada bumi pertiwi ini.

Dan sekian puluh tahun telah berlalu dari masa perjuangan menegakkan kemerdekaan, dan dikala tatanan bahasa Indonesia sudah ditangani oleh berbagai lembaga, dan bahkan banyak pakar bahasa yang tekun mengamati perkembangan bahasa Indonesia, masih saja terjadi, bahwa suatu dokumen resmi yang diterbitkan pemerintah tidak menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Coba perhatikan dengan seksama Buku Nikah yang anda miliki [bagi yang sudah memilikinya, yang belum pinjam dulu ya], yang walau tidak anda baca sesudah pelaksanaan ijab kabul, yaitu

  1. Jika saya ……; atau
  2. Jika saya ……; atau
  3. Jika saya……; atau
  4. Jika saya ……

maka ……

 

Kalau menurut kaidah bahasa Indonesia, “atau” itu cukup di satu kalimat sebelum yang terakhir saja. Bukankah begitu. Yah, rupanya konseptornya adalah lulusan pondok yang sangat kuat dipengaruhi oleh bahasa Arab yang dipelajarinya. Dan diterjemahkan secara harfiah dari teks Arabnya.

Mungkin karena dalam bahasa Arab [terutama yang klasik] sepertinya tidak dikenal tanda baca “koma” atau bentuk “bullet” seperti yang digunakan saat ini. Sehingga pada setiap antara kata atau kalimat yang menjadi anasir dalam struktur “dan” / ”atau” itu, dengan selalu menyebutkannya diantara unsur nya. [anasir itu adalah bentuk jamak dari unsur, jadi jangan nyebut unsur-unsur atau anasir-anasir]. Lihat “Doa Saat Menahan Lapar” yang beredar di BBM, kan banyak “wa” nya.

Misalnya, dalam surat wasiat seorang tua yang punya tiga rumah yang masing-masing ditinggali oleh anak-anaknya, tertulis “Agar menyerahkan rumah yang ditinggali Amat dan yang ditinggali Badu dan yang ditinggali Cuplis kepada yayasan sosial”. Yang kalau dalam bahasa Indonesia, seharusnya “Agar menyerahkan rumah yang ditinggali Amat, yang ditinggali Badu, dan yang ditinggali Cita kepada yayasan sosial”. Bagaimana “ngakalinya” agar tidak semua rumah dihibahkan?

Bahasa Jawa pun ikut masuk ke dalam bahasa Indonesia, seperti yang banyak digunakan oleh redaktur berita di televisi, dan diucapkan oleh pembawa berita, yang menyampaikan keadaan akibat tanah longsor, “sepanjang 100 meter bagian jalan negara di Sulawesi amblas akibat guyuran hujan lebat selama 3 jam pada minggu  lalu”. Bahasa Jawa nya ambles, dijadikan bahasa Indonesia amblas [mungkin karena sering mendengar pengucapan pak Harto yang “a” dibaca “e”, maka ambles dikira sebetulnya amblas, pada hal kalau amblas kan punya arti lain yang sangat berbeda dengan ambles.

Kita sering mendengar berita, bahwa “kereta api menabrak mobil”. Kalau dilihat dari struktur kalimat, memang tidak ada salahnya. Sebagai kalimat aktif, ada subyek, ada predikat dengan kata “me” dan ada pelengkap penderita. Ataupun dalam bentuk kalimat pasifpun. Tetapi kalau dilihat dari hakekat kejadiannya, tentu tidaklah benar. Apalagi dengan penerapan asas praduga tak bersalah. Kereta api sudah ditetapkan jalannya, dan menurut undang-undang yang berlaku, harus diberikan jalan terlebih dahulu, dengan semua obyak tidak boleh menghalanginya. Menurut saya, kalimat yang disampaikan oleh seorang petugas humas PT KAI, bahwa “sebuah mobil telah menghalangi jalannya KRL juruan Bogor – Kota di perlintasan Pasar Minggu”. Dan ini secara konsisten disampaikan olehnya. Kiranya para pewarta [dan kita juga] harus menggunakan asas tersebut dalam menyampaikannya.

Begitu juga dalam berita tentang kebakaran. “Angin yang kencang berembus di lokasi kebakaran, menyebabkan para petugas pemadam kebakaran mengalami kesulitan dalam memadamkan api”. Dalam setiap kebakaran, apalagi bila apinya sudah membesar, maka udara akan bergerak dari segala penjuru ketempat dimana api berkobar, dan itulah yang disebut angin. Jadi bukan angin datang lalu api membesar, tetapi karena api membesar, maka angin datang. Jadi memang dalam kebakaran ini, terjadi interferensi yang saling menguatkan. Makin besar apinya, maka udara yang datang [angin] juga akan makin besar, dan dengan datangnya suplai udara yang cukup, maka apinya akan semakin membesar pula dan begitu seterusnya. Adanya api, akan membuat aliran udara ke atas karena berat jenis udara panas akan lebih rendah dari udara dingin, dan udara yang kosong akan digantikan oleh udara lain [ada yang bergerak ke satu lokasi – angin] dan dalam pembakaran 20% udara akan terpakai karena bereaksi dengan bahan yang terbakar, dan menyebabkan kehampaan yang menurunkan tekanan udara dan menyebabkan udara datang dari jauh.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

14 Agustus 2010

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: