B e s a l i

Besali, entah suatu kata berasal dari mana, yang sekarang sudah jarang terdengar. Dahulu, kata itu digunakan untuk menunjukkan bagian dari rumah yang digunakan untuk bekerja, melakukan suatu kegiatan produksi untuk menghasilkan suatu barang. Mungkin karena fungsi bagian rumah seperti itu sudah berkurang, atau malah tidak ada lagi. Dalam suatu komunitas yang banyak melakukan kegiatan industri rumahan, maka adanya besali sangatlah effektif dan efisien. Tidak perlu ada biaya transportasi menuju ke tempat kerja, tidak perlu keluar uang untuk membeli makan siang di tempat kerja, bagian ruangan bisa menjadi multi fungsi, karena tidak jarang yang dupakai sebagai besali adalah ruang tamu.

Melihat banyaknya orang yang bekerja di rumah untuk memproduksi sesuatu dalam suatu wilayah, suatu saat dimasa lalu pernah ada inisiatif untuk mengumpulkan mereka dalam suatu kumpulan besali dalam suatu lingkungan industri kecil. Tetapi karena pendekatan yang kurang tepat, katanya hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Karena si pekerja menjadi tercerabut dari habitatnya.

Tidaklah menjadi suatu hal penting bagi seseorang atau sekelompok orang tentang tempatnya untuk melakukan kegiatan berkarya, tetapi oleh sebagian orang lain, mungkin hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting, atau bahkan maha penting. Tanpa adanya suatu tempat atau fasilitas bekerja yang sesuai dengan keinginannya, maka produktifitasnya akan menurun, kalau bekerja menggunakan otak maka mungkin pemikirannya tidak optimal dan sebagainya. Sehingga boleh dikata mutlaklah kebutuhan akan tempat kerja tersebut, kalau tidak maka kinerjanya tidak akan bisa diharapkan optimal.

Mengenai ikhwal tempat kerja dan fasilitas pendukung kerja, agar para pekerja dapat bekerja secara optimal, menghasilkan secara maksimal dengan menimbulkan kelelahan yang seminimal mungkin, memang ada ilmunya tersendiri. Ilmu ini merupakan kombinasi dari berbagai ilmu, yang merencanakan berbagai hal yang berkenaan dengan dilakukannya suatu kegiatan, mejanya, kursinya, penerangannya, suhu ruangan, luasan ruangan dan sebagainya.

Adalah suatu badan PBB [Perserikatan Bangsa Bangsa] yang mengupayakan perbaikan di daerah yang sedang berkembang dengan memberikan bantuan berupa saran dan fasilitas untuk melakukan perubahan. Dari hasil survei di suatu daerah, diketahui bahwa para pekerja disana bekerja dengan cara jongkok di lantai [sebagaimana yang kita temukan di daerah kita juga], Hal mana menurut para ahli akan menimbulkan kelelahan pada pinggang dan lutut sehingga mengurangi produktifitas. Maka diusulkan penggunaan meja, dan bekerjanya secara berdiri. Setelah bantuan meja diberikan dalam jumlah yang cukup, beberapa waktu kemudian tim tersebut kembali mengunjungi wilayah yang dulu disurveinya. Dan apa yang mereka dapati disana? Para pekerja bukannya berdiri dan menggunakan meja sebagai tempat kerjanya, melainkan mereka tetap bekerja dengan berjongkok, hanya saja sekarang jongkoknya diatas meja. Karena sudah kadung terbiasa jongkok.

Tentu saja semua orang ingin bekerja dalam kondisi yahng paling kondusif untuk meningkatkan produktifitas, efisiensi dan efektifitas kerjanya. Kalau kondisinya memungkinkan. Dananya ada. Dan jangan menanyakan bagaimana seharusnya besali seseorang dibuat dan disiapkan, kepada orang yang tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan, dan sarana apa yang diperlukan. Menanyakan tentang besalinya anggota DPR koq ke sopir angkot. Atau ke pedagang asongan. Yah tentu jawabnya akan dianggap berlebihan, terlalu mewah dan sebagainya. Tanyakan pada ahlinya.

Ada yang membandingkan luasan ruangan kerja yang akan dibangun seluas 120 m2, dengan luasan rumah tipe 36 yang banyak dibeli melalui KPR oleh rakyat kita. Ada yang mengatakan, kenapa setiap ruangan diberikan kamar mandi, sehingga dalam gedung itu ada 360 atau 600 kamar mandi. He he, memangnya anggota DPR harus antri kamar mandi seperti dalam sinetron yang ada rumah petak kontrakan, dimana kamar mandinya hanya satu untuk beberapa rumah. Kenapa masing-masing ada ruang rapatnya.

Memang yang membuat kesal, dan juga mungkin anda juga kesal, dan mungkin juga banyak rakyat juga kesal, adalah alasan-alasan yang dikemukakan untuk membangun besali tersebut. Dulu katanya gedungnya miring. Tetapi ternyata kemudian tidak apa-apa. Karena miringnya, masih dalam batas toleransi yang diijinkan pada saat membangun maupun pada saat digunakan. Saya kasihan sama yang membangun dan mengawasi pembangunannya, kalau hasil karyanya dikatakan miring. Memang untuk membangun gedung yang tinggi, katakan sampai 100 meter tingginya [25 lantai] maka miring 1o saja, dipuncaknya itu sudah bergeser berapa sentimeter. Dan penyebab miringnya itu apa, apa karena tanah pendukungnya yang tak mampu menahan berat bangunan dan penghuninya. Tahukah anda bahwa Tugu Pahlawan kebanggaan masyarakat Jawa Timur itu juga sedari dulu miring? Ada yang berseloroh, diantaranya para kartunis, kalau menurut matematika [-] x [-] = [+], maka kalau gedung miring dihuni orang yang miring, maka hasilnya akan tegak. Maaf ya pak.

Lalu sekarang alasannya, gedung yang ada tidak mampu menampung anggota dewan. Ya tentu saja, wong jumlah anggotanya diperbanyak terus. Kalau saja seandainya, anggota DPR tidak menyetujui usulan penambahan jumlah anggota DPR [mana mungkin ya…], maka gedung yang ada kan masih cukup. Kalau kita boleh berandai-andai, seperti lagunya Opi [siapa?],

Seandainya, jumlah anggota separohnya yang ada maka

  • Gedung akan cukup tidak usah membangun lagi,
  • Anggaran gajih akan hanya separohnya,
  • Jumlah rumah dinas yang harus disediakan hanya separohnya,
  • Dan sebagainya dan sebagainya.

 

Kalau saja jumlah anggota dewan dibatasi dengan ketentuan sebagai berikut

  • Setiap partai minimal diwakili oleh sejumlah komisi yang ada misalnya 11 komisi, maka ini akan menentukan jumlah minimal persentase perolehan kursi. Dibawah itu, nyingkir saja. , Misalnya total anggota DPR adalah 209 orang, maka minimal perolehan harus 5% [yang sekarang 2,5%];
  • Jumlah partai di DPR akan berkurang sehingga jumlah fraksi juga akan berkurang; Jumlah wakil ketua juga bisa dikurangi dlsb
  • Setiap komisi anggotanya tidak banyak-banyak, sehingga effektif, dan akan mudah ketahuan siapa yang membolos; bisa masing-masing 19 orang [209/11];

Jumlah yang kecil, tetapi terampil dan fokus. Banyak tetapi bikin ruwet dengan penuh interupsi saja, buat apa. Makin banyak kepala bisa memberikan lebih banyak alternatif, tetapi pada kondisi tertentu bisa bikin tambah pusing untuk mengambil keputusan. Tetapi mana mungkin pengurangan anggota akan dilakukan, karena yang menentukan adalah mereka. Dengan mengambil keputusan seperti itu, maka akan mengurangi kemungkinan dirinya untuk terpilih kembali menjadi anggota, dan berarti kehilangan fungsi dengan berbagai fasilitas yang melekat.

Sebagai suatu bangsa yang besar, kiranya pantaslah memiliki gedung parlemen yang membangga-kan, dan sebagai warisan bagi generasi mendatang [jika memang hal itu telah dimungkinkan], tetapi yang lebih penting adalah meningkatkan kualitas mereka yang akan bekerja di dalam besali tersebut.

Kekuasaan yang besar tanpa diimbangi kemampuan yang berkualitas, akan sangat berbahaya. Ibarat mobil bertenaga dan kemampuan tinggi, dengan pengemudi yang asal-asalan.  

 

Wa Allahu a’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

02 September 2010

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: