Awas Kereta Api, Satu Spoor

 

Itulah tulisan yang kita temukan, dimana ada jalan kereta api atau rel melintasi jalan raya. Dan sesuai undang-undang yang berlaku, maka kendaraan lain bahkan juga orang harus memberi jalan kepada kereta api yang melintas di jalan raya tersebut, tidak terkecuali kendaraan apapun. Jadi kalau ada berita yang mengatakan kereta api menabrak kendaraan, merupakan suatu kesalahan yang harus dibetulkan dengan kendaraan ditabrak karena menghalangi jalannya kereta api.

Semenjak kecil, dan setelah bisa membaca, pernyataan “satu spoor” [diperlintasan dekat pelabuhan] itu menjadi suatu pertanyaan yang tak terjawab, dan baru saya ketahui maksudnya di tahun 1961 ketika ada salah seorang teman yang kuliah di ITS-Sipil yang menjelaskan bahwa maksud satu spoor itu, adalah satu lintasan kereta api yang melintasi jalan, sedangkan bila ada dua atau lebih, ya disebutkan berbeda, misalnya “Awas Kereta Api, Dua Spoor” yang mungkin kita jumpai di dekat setasiun Gubeng atau setasiun Semut atau di sepanjang perlintasan di Jalan A. Yani, Surabaya atau di sepanjang jalan antara Pasar Minggu – Depok. Dengan adanya jaringan jalan kereta api rel ganda atau double track, maka akan banyak kita temui pemberitahuan “Awas Kereta Api, Dua Spoor” kalau memang masih ada peringatan seperti itu atau bahasanya juga masih seperti itu. Bahkan sekarang pun sudah ada jaringan yang double-double-track untuk yang empat spoor.

Dalam mata kuliah fakultas teknik sipil, dahulu di tahun 1960-an masih diajarkan mata kuliah tentang jalan kereta api, entahlah sekarang apa masih juga diajarkan mengingat perkembangan perkereta apian yang bisa dibilang mandek alias hidup segan mati tak hendak, laa yamuutu wa laa yahyaa. Pelajaran itu menyangkut tata-kelola di setasiun dan njuga teknis rinci mengenai konstruksi jalan kereta api itu sendiri, yang sangat berbeda dengan konstruksi jalan raya.

Rangkaian kereta api suatu ketika perlu mendahului rangkaian kereta yang ada di depannya yang jalannya lebih lambat [memang direncanakan begitu – spoor boemel atau sepur terutuk] atau juga perlu berpapasan dengan rangkaian lain. Kesemuanya itu hanya dan hanya bisa dilakukan di setasiun yang memiliki beberapa spoor, dengan cara salah satu rangkaian kereta api harus berhenti di setasiun tersebut, untuk memberi kesempatan rangkaian kereta yang lainnya mendahuli atau berpapasan. Tentu saja hal ini, akan sangat menyibukkan kepala setasiun, apabila ada peningkatan jalannya kereta api. Karena itu kemudian di beberapa daerah yang arus lalu lintas kereta apinya padat, dibuat rel-ganda [atau double track], bahkan double-double-track untuk kelancaran perjalanan kereta api.

 

Pada saat jalan kereta api antar setasiun masih satu spoor, umumnya minimal ada tiga spoor dalam satu setasiun, yaitu spoor 1, spoor 2 dan spoor 3 dimana spoor 2 selalu terletak di tengah dan merupakan lajur yang lurus tanpa berbelok, untuk memberikan fasilitas bagi rangkaian kereta yang akan terus berlalu tanpa berhenti di setasiun tersebut dengan tanpa harus mengurangi kecepatan. Itu sepertinya merupakan aturan baku dalam desain sebuah setasiun.

Wesel, adalah sistem pengaturan perpindahan antara satu spoor ke spoor yang lain. Sehingga bila orang salah “mengirimkan “sesuatu ke alamat lain, maka sering disebut “salah wesel”. Wesel ini mempunyai akar kata yang sama, dengan pos wesel yang dulu sangat menentukan kehidupan banyak orang di rantau, apalagi dengan sering terlambatnya diterima wesel yang bersangkutan. Tetapi sekarang pos wesel sudah hampir tidak punya pamor lagi, seiring dengan perkembangan teknologi. Dengan adanya sistem trasfer on-line, maka pos wesel sudah tidak berfungsi lagi, seperti halnya telegram, telex dan juga fax [yang terakhir ini masih hidup karena masih berfungsi untuk meneruskan dokumen yang tercetak dan sudah ditandatangani, walau sudah bisa digantikan dengan scan+email]. Dan pos wesel dari/ke luar negeri sudah ada Western Union yang menjadi andalan para TKI dan TKW kita. Wesel sendiri konon berasal dari bahasa Arab, dari kata wasilah.

Sistem wesel kereta api ini dahulu digerakkan dengan sistem mekanis dengan menggunakan “roda dengan tuas” yang diteruskan oleh kawat-kawat yang selalu kita temui di sisi-sisi setasiun. Sistem kawat ini juga untuk menggerakkan sinyal-sinyal tanda-tanda perjalanan kereta. Saat ini hampir semuanya sudah elektrik atau bahkan elektronik.

Ketika lalu lintas rangkaian kereta api menjadi semakin ramai, maka pada beberapa daerah sudah memiliki jalur ganda, misalnya antara Jakarta-Bogor, dan juga ke beberapa daerah lainnya. Kalau jalan raya kita memiliki haluan kiri [kendaran berada pada jalur kiri], maka kereta api memiliki haluan kanan [seperti mobil di Amerika]. Entahlah mengapa jadi berbeda begitu. Mungkin karena di Eropa yang menjadi acuan sistem perkeretaapian Indonesia, mengikuti haluan kanan. Dan sistem ini, cukup membuat sulit penumpang, misalnya di setasiun KRL Tanjung Barat [antara Jakarta-Depok], yang diapit oleh dua jalan raya searah, kalau penumpang kereta akan meneruskan dengan moda transportasi angkot, maka mereka harus melintasi rel-rel yang ada untuk menyeberang [ataupun sebaliknya]. Tapi kalau sudah seperti ini, mau diubah ya jadi repot semua. Kembang jagung dipetik Cino, barang kadung dikapakno.

Saya tidak tahu secara pasti, karena belum memperhatikan secara khusus, untuk setasiun yang dihubungkan dengan jalur rel ganda, tetapi sepertinya, sebagaimana yang saya temui di Setasiun Gambir, memiliki 4 spoor, dimana spoor 2 dan spoor 3 merupakan jalur yang lurus. Mungkin itu juga merupakan standard design yang minimal dari seluruh setasiun dengan jalur ganda, atau juga belum seperti itu.

Adalah sangat menarik, bahwa kejadian kecelakaan di Petarukan, Pemalang pada 2 Oktober kemarin, ternyata setasiun tersebut merupakan setasiun transisi antara rel jalur ganda [ke arah Jakarta] dengan rel jalur tunggal [ke arah Semarang], dan setasiun Petarukan tersebut ternyata hanya memiliki 3 spoor saja. Lihat ilustrasi di Kompas, Minggu 3 Oktober 2010. Mungkin, jika setasiun Petarukan memiliki empat spoor, pergantian wesel tidaklah akan terlalu sering. Tetapi mungkin untuk membuat empat spoor, sudah tidak ada lagi lahannya.

Sebagian jaringan rel kereta api di Jawa [memangnya di mana lagi yang ada kereta api, selain di Jawa serta Sumatra Utara, Barat dan Selatan] dan mungkin Babaranjang, adalah jalur rel ganda [double-track] bahkan sudah ada pula yang double-double-track. Tetapi sebagian besar [terutama di bagian timur pulau Jawa] masih merupakan rel tunggal.

Sepertinya panjang jalan kereta api setelah kemerdekaan bukannya bertambah, tetapi malah berkurang. Lihat saja antara setasiun Gresik yang dulu sampai ke Sumari di Duduk Sampeyan, sudah tiada, bahkan Gresik-Tandes pun tak jelas. Seluruh jalan kereta api di Madura pun, sudah wassalam. Kebutuhan dan tuntutan jamanlah yang menentukan perkembangan [dan penyusutan] suatu moda transportasi.

 

Wa Allahu a’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

03 Oktober 2010

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: