Aksi – Reaksi

Sebagaimana yang terjadi sesuai Hukum Newton, kalau ada aksi maka akan ada reaksi. Aksi perobekan gambar Bung Karno tersebut belum mendapatkan reaksi pada hari yang sama. Mungkin mereka juga terperangah dan terkesimak melihat adanya aksi yang tidak terduga tersebut. Dan belum tahu mau berbuat apa. Dan sebagaimana biasa, malam hari di kota Bandung tetap tenang tidak ada sesuatu yang menonjol. Tetapi rupanya, malam itu ada kegiatan yang tidak terpantau.

Esok harinya, biasa kumpul di depan patung Ganesha. Kami yang tinggalnya di utara, tidak tahu apa-apa yang terjadi di sebelah bawah atau selatan kota. Datang berita bahwa di daerah Dago bawah sedang berjalan menuju atas segerombolan pemuda, yang merupakan pendukung Bung Karno, yang rupanya menuntut balas atas perbuatan mahasiswa KAMI kemarin. Tentu saja hal itu dapat diketahui dari teriakan-teriakan mereka. Semua berpikir, kemana lagi, kalau tidak akan ke ITB atau UNPAD yang lokasinya memang di atas. Pemimpin mahasiswa ITB yang ada waktu itu, langsung mengambil sikap untuk menyongsong mereka di Jalan Dago dan meninggalkan beberapa mahasiswa untuk tetap di kampus, termasuk saya. Menyongsong musuh di luar halaman wilayah kita, adalah strategi perlawanan yang berlaku sejak zaman dulu, lihat saja kissah tentang berbagai perang yang terjadi dizaman Rasulullah saw.

Menurut cerita mahasiswa yang berangkat dengan tangan kosong, dan kemudian kembali lagi ke kampus dengan membawa batu bata, potongan kayu dan potongan besi, mereka mempersenjatai diri dengan mengambil bahan-bahan tersebut dari suatu rumah yang sedang melaksanakan renovasi. Kasihan ya, materialnya habis diambil mahasiswa. Ternyata mereka kembali, karena dicegat oleh satuan baret hijau Kujang, entah dari batalyon yang mana, 328, 330 atau 305 yang mencegat di perempatan Cikapayang – Dipati Ukur dengan mengatakan bahwa “Kembali ke kampus, mereka bukan tandingan kalian”. Karena yakin akan nasehat sang “kakak”, walaupun tidak mengetahui apa anasir yang ada di pihak sana, para mahasiswa kembali dengan diiringi pasukan Kujang tersebut. Pasukan Kujang kemudian mengambil posisi di sepanjang jalan Ganesha, mulai dari pertigaan RS St. Borromeus sampai pertigaan Kebun Binatang.

Tak lama kemudian, datang pula tambahan pasukan dari Kujang, kali ini dengan baterei anti serangan udara, yaitu senjata otomatis dengan kaliber peluru yang lebih gede, dan ditempatkan di atas tripod. Mungkin yang dulu dikenal sebagai senapan 12,7 sesuai dengan kaliber pelurunya 12,7 milimeter. Sebagian kita menanyakan kepada para tentara tersebut, mengapa pakai senapan anti pesawat udara dan mendapat jawaban bahwa “pihak sana didukung oleh oknum yang memiliki pesawat udara” [untuk tidak mengatakan ada oknum anggota Angkatan Udara yang terlibat]. Dan kemudian seluruh keliling kampus telah dijaga, terutama pintu-pintu masuk. Entah bagaimana keadaan di Universitas Padjadjaran Berjuang [begitulah namanya pada waktu itu – ada tambahan Berjuang] yang kampusnya tidak jauh dari kampus ITB.

Keadaan di kampus ITB tenang-tenang saja, tidak terjadi tanda-tanda akan ada gerakan massa yang mendekati kampus. Tetapi tersiar berita, bahwa mereka melakukan penyisiran [istilah sekarang sweeping – seperti yang sering dilakukan ormas tertentu] untuk mencari mahasiswa ITB yang banyak tinggal di daerah Kebun Bibit dan Kebun Binatang [lembah antara Jalan Tamansari dengan Jalan Cihampelas. Sehingga pimpinan ITB menganjurkan agar mereka yang khawatir akan keselamatan dirinya, nanti bermalam saja di kampus, lebih aman.

Menjelang siang terdengar kabar [maklum pada waktu itu sarana komunikasi masih sangat jelek] bahwa karena tertahan tidak bisa ke arah Dago atas, mereka turun kembali ke arah Balaikota, dan melampiaskannya ke arah Kampus Parahyangan yang terletak di Jalan Merdeka. Rupanya di sana terjadi insiden, sehingga salah seorang anggota Resimen Mahasiswa Mahawarman Universitas Parahyangan,  Julius Usman menjadi korban penembakan oknum bersenjata dari suatu kesatuan tentara. Dan gugurlah sang mahasiswa tersebut. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun.

Tetapi rupanya reaksi seperti itu hanya terjadi pada hari itu saja, dan besoknya sudah tenang kembali. Upaya masuk ke Kampus ITB oleh kelompok mereka pernah juga dilakukan sebelum 11 Maret 1966, setelah terjadi peristiwa yang menyebabkan gugurnya pahlawan Ampera, Arief Rahman Hakim, Ihwan Ridwan Rais, dan konon juga ada seseorang lagi yang bernama Zubaidah. Yaitu ketika suatu kelompok tertentu, dimana terdapat putra sulung Bung Karno, yang kemudian menyebabkan dia dipecat dari ITB.

Dari mereka yang gugur pada masa aksi-aksi memperjuangkan Tritura tersebut, yang paling dikenal adalah Arief Rahman Hakim [KAMI], yang kurang dikenal adalah Ihwan Ridwan Rais [KAPPI], dan yang hampir tidak dikenal adalah Zubaidah [KAPPI] ini. Kalau Julius Usman karena skalanya di Bandung, dan peristiwanya tidak sespektatuler Arief Rahman Hakim, ya wajarlah kalau tidak banyak yang mengetahui, apalagi generasi yang belum dilahirkan masa itu. Semua pihak mengikhlaskan semua kejadian tersebut sebagai bagian dari konsekwensi suatu perjuangan. Atau mungkin karena pada saat itu belum dikenal secara meluas tentang apa itu Hak Asasi Manusia. Tetapi rasanya bukan karena tidak tahu akan Hak Asasi Manusia, tetapi karena menyadari arti, tujuan dan konsekwensi dari suatu perjuangan. Semoga Allah swt menerima arwah mereka dan menempatkannya di sisi-Nya.

Kalau sedang berlangsung peringatan peristiwa Semanggi I dan Semanggi II serta peristiwa Trisakti, dimana sejumlah mahasiswa gugur karena ulah pihak tertentu yang belum teruangkap hingga kini, saya selalu mendoakan semoga keluarga mereka diberikan keikhlasan dalam meneriwa persitiwa tersebut, dan semoga arwah mereka disisi Allah swt. Kasihan keluarganya kalau masih terus menuntut pemerintah untuk menyelesaikan kasus tersebut, dan menemukan siapa yang melakukan penembakan.

Di Indonesia, hingga saat ini, penyelesaian atas masalah-masalah seperti itu, sepertinya masih jauh dari rasa keadilan yang diharapkan. Masih ingat kah [tahu saja tidak, barangkali ya] tentang peristiwa meninggalnya Renee Louis Conrad, seorang mahasiswa ITB yang tewas ditembak oleh oknum taruna akademi kepolisian, ketika terjadi keributan dalam pertandingan sepak bola di kampus ITB, yang dimaksudkan untuk meredakan ketegangan yang ada. Sesuatu yang aneh, tanpa ketegangan sebelumnya, pertandingan sepak bola berpotensi untuk memicu ketegangan bahkan tawuran antara pendukung maupun pemain kedua belah pihak. Dan ternyata, memang pertandingan tersebut akhirnya membawa korban jiwa.

Konon ceritanya, pada saat itu dilakukan operasi rambut gondrong dan celana ketat oleh Taruna Kepolisian yang mau lulus di Bandung. Ada seorang dosen seni rupa ITB, yang dipotong rambutnya. Beranglah sejumlah mahasiswa dan pimpinan ITB dari jurusan seni rupa tersebut, dan meminta klarifikasi [istilahnya sekarang] ke Kantor Polisi. Entah gagasan siapa, untuk mendamaikan diusulkan pertandingan persahabatan di lapangan bola kampus ITB. Saling ejek antar pendukung terjadilah. Ndilalah, kesebelasan ITB koq menang. Maka makin serulah ejekannya. Ada taruna yang panas, main pukul ke mahasiswa yang mengejek. Ndilalah lagi, mahasiswa itu jago yudo, dan terbantinglah si taruna. He he. Akhirnya pertandingan bubar, dan ejek-ejekan terus berlangsung hingga diluar pintu gerbang. Datanglah sepasukan Brimob untuk melerai. Dan disaat itu terdengar tembakan. Mahasiswa yakin yang menembak adalah salah seorang taruna, tetapi yang dibawa ke pengadilan adalah anggota Brimob. Dan justru kemudian anggota Brimob yang dikorbankan ini mendapat simpati mahasiswa. Bahkan para mahasiswa urunan untuk membantu keluarganya.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

19 Agustus 2010

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: