A w e t

Salah satu kebutuhan yang sangat vital di saat mudik, dan terutama pada saat arus balik nantinya, adalah bagaimana agar makanan kesukaan kita [terutama makanan yang punya nilai nostalgia] dapat awet dan selamat sampai di tempat tujuan kita. Berbagai teknik pengawetan sudah diterapkan oleh nenek moyang kita, baik untuk tujuan memenuhi berbagai maksud, bahkan sampai untuk memenuhi kebutuhan logistik ketika berperang. Wow, lebaran koq ngomongin perang.

Kita mengenal beberapa jenis makanan, yang sepertinya biasa saja, dari berbagai daerah di nusantara ini, pada hal makanan itu memiliki nilai strategis dalam pertempuran. Mudah dibawa, tahan lama, memiliki nilai kalori yang tinggi dan instan, dan bahkan kalau mungkin mengandung protein. Coba tengok ke wilayah dimana dahulu kala pernah digunakan sebagai ibu kota kerajaan atau pusat pemerintahan, atau pusat perjuangan, dapat dipastikan akan ditemui makanan yang memiliki ciri-ciri seperti itu. Sudah ketemu? Ayo sebutkan atau tuliskan, dan simpan dulu.

Dodol atau jenang yang terbuat dari ketan atau beras dan gula kelapa serta santan, dapat kita temui dimana dahulu ada kerajaan, misalnya Deli, Kudus, Gresik atau kota lainnya lagi. Kita mengenal ampyang atau gula kacang, yang merupakan kombinasi dari kacang cino atau kelapa dengan gula merah. Dan sebagainya.

Ikan pindang, ikan asin juga adalah termasuk salah satu cara pengawetan ketika produksi melimpah dan juga untuk perang ketika bersembunyi di hutan. Di Aceh, kita mengenal sebutan “ikan kayu”, yaitu ikan tongkol atau tengiri yang banyak ditemui di pesisir pantai timur Aceh, diawetkan dengan cara merebus dan menyimpannya dalam abu. Sehingga badan daging ikan akan menjadi keras, dan ketika akan memasaknya dperlukan ketam. Seperti mengetam kayu, maka akan diperoleh serutan daging yang memiliki tekstur seperti kayu gergajian.

Mengeringkan, mengasinkan, memaniskan, memedaskan atau mengasamkan adalah sebagian cara yang banyak digunakan untuk mengawetkan makanan, dengan pendekatan kondisi makanan tidak memungkin-kan bakteri bisa hidup, apalagi berkembang [kecuali ada bakteri tertentu yang memang tahan akan kondisi ekstreem]. Cara-cara dan pendekatan seperti diatas, tentu saja akan mempengaruhi secara langsung cita rasa makanan atau lauk yang akan diawetkan. Dan kadang kala diluar batas toleransi lidah kita.

Mendinginkan sampai suhu tertentu dimana bakteri akan merasa kedinginan dan tidak dapat melakukan aktifitas, terutama mengembangkan dirinya, dimana tingkat perkembangannya sangatlah spektakuler, adalah suatu cara yang ditempuh di rumah-rumah dalam bentuk alat pendingin, bahkan alat pembeku. Tetapi bagaimana kalau mau dibawa dalam perjalanan? Portable refrigerator, walaupun ada, tetapi kuranglah praktis untuk pemakaian pribadi. Sehingga tidak dapat diterapkan bila kita mau membawa bali welut atau mangut bandeng dengan menggunakan mobil dari Gresik ke Jakarta. Apalagi kalau pakai menginap di perjalanan.

Membungkus makanan secara vacuum, tanpa ada udara [oksigen] merupakan pendekatan dengan membuat bakteri tidak bisa hidup. Bakteri juga kan memerlukan oksigen sebagaimana kita. Dan sudah banyak dilakukan untuk mengawetkan berbagai makanan. Hanya saja alatnya adalah skala industri. Walau kapan itu ada ditawarkan oleh Kartu Kredit Mandiri atau BCA untuk pemakaian rumah tangga. Sekitar Rp 350.000 an, tetapi kalau jarang dipakai kan sayang ya. Jadi ada pengisap udara dan sealer listrik dalam satu alat. Praktis sih. Tapi kalau terpakai setahun sekali, kan sayang.

Tetapi kalau langsung diterapkan dalam makanan yang lembek, misalnya sekotor atau moci, maka bentuknya akan penyet dan peyot. Terjadi deformasi, karena terkena tekanan 1 kg/cm2 pada permukaanya. Tidak cantik lagi. Not applicable, lah.

Tahun kemarin, ketika di China saya menemukan alat sederhana berupa kantongan plastik dengan “ritsluiting” dan pentil untuk memompa, guna memperoleh vakuum dalam kantongan tersebut. Peralatan ini bukan ditujukan untuk mengawetkan makanan kita, tetapi untuk ngepres pakaian atau selimut kita, yang kebetulan sedang tidak dipakai dalam waktu lama, agar tidak mowol-mowol sehingga hemat tempat. Dilengkapi pompanya yang sederhana, tetapi juga bisa dihisap dengan vacuum cleaner yang bisa dipakai di rumah-rumah. Kalau makanan yang mau dibawa banyak, peralatan ini bisa dipakai. Kalau mau ada penganten kali ya, bawa aneka makanan yang divakum. Waktu pulang ke Jakarta, alat ini sempat dimanfaatkan untuk ngepres kain-kain agar bisa masuk ke koper. Sayangnya belum bisa mengurangi berat, hanya membuat ringkes saja.

Mengurangi uap air atau mengeringkan udara sebagai penyebab bau apek dan kehidupan bakteri, dalam pembungkus atau kaleng/stopless, juga dilakukan dengan menambahkan silica-gel, yang akan menyerap uap air dan makanan akan tetap renyah [tidak melempem] dan juga menjadi lebih awet tanpa berubah rasa, warna dan bau. Silicagel, umumnya dipakai untuk makanan kering, bukan makanan basah [lumpur, bongko, kuro], apalagi yang cemek-cemek [masin, bumbu rumo].

Secara tidak sengaja, tadi menemukan tempat menyimpan makanan seperti Tupperware atau sejenisnya, yang menjanjikan kerapatan tutupnya, sehingga tidak ada aliran udara keluar atau masuk, baik udara kering maupun udara basah. Bahkan kalau ada air disimpan didalamnya, dan terguling, dijamin air tidak akan keluar. Istimewanya lagi, penyimpan ini dilengkapi dengan “pentil” dan pompa. Sehingga bisa divakumkan. Ha, ini yang kita cari. Seandainya Gus Didik berangkatnya besok pagi, saya akan menitipkan tempat ini agar pulangnya diisi dengan makanan yang membuat nostalgia.

Coba lihat di www.vacuumsafer.com sebagai situs pembuatnya. Barang ini buatan Taiwan, dan tadi sedang sebagai barang promosi, bila kita belanja Rp 100.000 di Hypermart maka boleh membeli satu produk tersebut. Mungkin di Hypermart Surabaya juga sedang dipromosikan, jadi Gus Didik bisa menyiapkan untuk tempat membawa makanan spesial ke Jakarta.

 

Salam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

06 September 2010

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: