Mengapa Abah Pakai Kopyah – 1

Abah Toni kemarin menanyakan, mengapa saya pakai kopyah dalam foto yang dikirim Ella ketika saya sedang menemani Thifa mencoba FISH SPA. Sebenarnya ada cerita dibalik penggunaan kopyah tersebut, terutama pada hari-hari ini.

Ceritanya, saya itu ketika di Adhi Karya dulu kan sering pergi kemana-mana, termauk ke wilayah Medan dan sekitarnya. Bahkan mungkin sudah likuran kali, dan pergi ke daerah-daerah sekitarnya yang cukup jauh dan terpencil di wilayah kerja tersebut, tetapi belum pernah nyampai ke Danau Toba. Sebagaimana kita mengetahuinya, danau ini terbentuk dari letusan gunung berapi purba.

Sebenarnya, rencana perjalanan ini sudah lama. Dan bukannya melihat danau Toba. Mungkin setahun silam, Kepala ADHI yang di Medan, yang wilayah operasinya semakin luas, hampir ke seluruh Wilayah Sumatra, mengajak untuk bernostalgia melakukan perjalanan darat, yang sama-sama disukai olehnya dan olehku. Dulu, kami pernah melakukan perjalanan sekitar tahun 1998 saat krismon, melakukan perjalanan meninjau proyek dengan melakukan perjalanan darat antara Makassar – Poso – Palu. Coba lihat di peta, untuk bisa membayangkan medan yang dilalui. Tentunya tidak langsung, dengan menginap di beberapa kota yang dilalui, antara lain Tentena – dimana danau Poso berada. Pastinya sebelum kerusuhan Poso mulai.

Saya sendiri sudah pernah ke Poso – Tentena ketika tahun 1987, tetapi melalui perjalanan darat antara Palu – Tentena – Palu alias pergi pulang, dan bukannya pulang pergi sebagaimana yang kita sering ucapkan.

Tetapi realisasi rencana perjalanan Medan – Padang lewat Pekanbaru yang direncanakan untuk melihat kegiatan yang akan dilakukan oleh ADHI belum terlaksana, hingga awal 2010, karena belum ada kesesuaian waktu antara saya dan dia. Kemudian sang kepala cabang ini, ternyata akan dipromosikan dan kembali ke wilayah operasi di Jakarta, maka dia menyarankan untuk melunasi janjinya, saya dan Umik untuk wisata saja ke Medan dan melihat Danau Toba yang belum pernah kulihat ditemani Pak Mursitatmo yang baru saja pindah ke Medan [walau Umik sudah pernah ke sana bersama ibu-ibu ADHI. Begitulah memang, yang wisata dan yang kerja jalurnya lain. Duluan yang wisata.

Hal yang sama juga dengan Gunung Bromo yang di Jawa Timur. Saya juga keduluan Umik dan anak-anak. Apa ini termasuk bagian dari syndrom Tetuko?

Alhamdulillah, pada hari Jumat Pon, 10 Rabiul Akhir 1431 H bertepatan dengan 26 Maret 2010 M, berangkatlah ke Medan dengan Garuda [karena dibayari, jadi tidak mencari-mencari yang agak murahan].

Sesampai di Medan yang lapangan terbangnya masih lama – karena yang baru di Kuala Namu masih sedang dalam pengerjaan – dijemput oleh seorang staf yang kami kenal dengan baik, yang akan menyertai dan menemani kami selama di Medan nanti, walau dia masih baru di Medan [beberapa bulan, dan keluarganya belum dibawa ke Medan]. Seperti biasanya, yang dicari dulu adalah makanan. Dan sasaran pertama, mengingat besok akan ke luar kota, maka langsung menuju suatu warung [lebih tepatnya begitu] yang letaknya agak di pinggiran kota ke arah Belawan, persisnya di areal Gudang Bulog, di wilayah Pulau Brayan. Disini yang raksyeh atau  markotop adalah Gulai Kepala Ikan Kakap Merah, tetapi bumbunya bukan kuning seperti masakan Padang. Dan juga sajian lainnya, tentu saja udang yang gede-gede. Dan sambelnya serta acarnya, tidak boleh dilewatkan. Siapa tahu ada yang berminat, alamatnya Jalan Jemadi no. 75, Medan, 20239, telpon 061-6625486.

Kalau dilihat dari nama pemiliknya yang juga sebagai founding mother, yaitu Hj. Djumiyem [aneh juga penulisannya ya, ejaan lama dan ejaan baru bercampur jadi satu – mungkin percetakannya yang salah setting], maka asosiasi kita langsung ke orang Jawa. Ya memang betul sih, tetapi di Sumatera Utara, ada dua jenis orang Jawa, yang satu kelompok mengerti selikur, likuran, selawe, seket, sewidak, dan kelompok lainnya yang tidak mengerti kata kata itu. Ayo siapa tahu penyebabnya. Dan entah ibu ini tergolong yang mana.

Konon, riwayat pendirian warung makan ini, juga cukup unik. Dan tidak terlepas dari keberadaannya di lokasi tersebut. Suami ibu ini, semula adalah petugas di Gudang Bulog tersebut, dan si ibu Djumiyem ini cukup jeli untuk memanfaatkan keberadaan tugas suaminya disitu, melihat peluang adanya suatu usaha mengingat banyaknya sopir dan kenek truk yang mengangkut beras dari kapal ke gudang, ataupun dari gudang ke tempat disribusi di kota lain. Rupanya mereka membuka warung makan untuk mereka.

Kelezatan masakannya, kemudian menyebar kepada pihak lain yang juga perlu makan. Maka pangsa pelanggannya meluas, dan warungnya tumbuh, sehingga harus pindah dari lokasi halaman parkir ke seberangnya [posisi saat ini]. Menempati bangunan yang cukup lega, menyatu dengan rumah, dan dilengkapi dengan tempat parkir yang luas, yang ditumbuhi banyak pohon kersen alias buah chery yang buahnya memerah karena nggak onok sing metiki.

Dan kalau dilihat dari yang makan disana, kita dengan mudah akan meyakini kelezatannya. Ada indikator yang mudah diamati. Kalau suatu warung atau rumah makan yang ramai,

  • pengunjungnya hanya pribumi maka warung itu murah, kalau
  • pengunjungnya jarang pribuminya warung itu mahal, kalau
  • pengunjungnya pribumi dan china maka warung itu enak dan harganya terjangkau.

Yang terkhir inilah ciri warungnya bu Djumiyem ini, dengan nama Rumah Makan JEMADI, yang mengambil nama jalan.

Karena supir yang mengantar baru pindah dari Padang, dan yang menemani baru pindah dari Jakarta, kami mengalami kesulitan menemukan lokasinya, tetapi kemudian ketemu juga. Namun, karena hari itu hari Jumat dan rupanya banyak rombongan yang kesana, maka kepala ikannya sudah habis. Jadinya hanya ketemu dengan badannya. Yah, sebagai pengobat rindu memadai lah.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: