Mengapa Abah Pakai Kopyah – 06

Agak berbeda dengan menjelang pendaratan sebelumnya, dimana Abah dan Umik duduk tenang sampai kapal sempurna merapat dan diikat dengan tali [karena sauh alias jangkar rupanya tak akan berfungsi], kali ini entah karena apa [laa haula wa laa quwwata illa bi Llah] Abah sudah berdiri dan berjalan menuju ke haluan kapal. Umik masih duduk di kursi, teman yang mengantar masih diburitan dan sang pengemudi yang tahu seluk belum wilayah inipun masih duduk manis. Ketika Abah sudah di haluan, dimana tidak ada lagi pagar atau tiang yang bisa dipegang, tiba-tiba badan kapal membentur dinding dermaga.

Merasakan impulse yang tak terduga seperti itu, badan secara otomatis bereaksi. Posisi abah yang menyamping, tidak menghadap ke depan ke arah haluan, rupanya kurang menguntungkan dalam situasi seperti ini. Abah berusaha untuk mengedepankan bagian badan sebelah atas, agar jatuhnya tertelungkup ke geladak kapal, tetapi gaya yang mendorong ke arah belakang [samping kapal] rupanya lebih kuat. Sehingga sebagai resultante kedua gaya aksi dan reaksi tersebut, abah terlempar kebelakang. Kejadian itu begitu cepat, mungkin hanya sepersekian detik saja. Tanpa tahu tahapan apa yang berlaku pada diriku, abah ternyata sudah berada pada medium yang berbeda.

Menyadari bahwa badan sudah berada di danau Toba, yang memiliki kontour pantai curam, yang terfikir “Apakah aku akan mati tenggelam? Jangan ya Allah”. Dengan pikiran semacam itu, aku berusaha agar tetap tenang dan mengupayakan agar kepala muncul ke permukaan. Posisiku menghadap ke arah danau, dengan kapal yang kutumpangi berada di sisi kananku. Aku melihat Umik masih berjalan di kapal, dan Pak Iswadi yang mengemudikan mobil kami, berdiri. Mereka berdua melihatku. Aku berusaha mengacungkan tangan untuk menarik perhatian mereka. Aku tidak berusaha untuk menemukan tanah guna berpijak, karena sadar bahwa tapian nan uli ini cukup dalam, seperti yang kulihat dari atas kapal sebelumnya. Rupanya anak-anak kecil tadi menyadari bahwa aku tidak bisa berenang, mereka mengerumuniku memberikan bantuan mengapungkan dan membawaku ke tepian. Orang-orang yang di tepi mengulurkan tangan dan aku menggapainya, sehingaa posisiku sudah aman dari tenggelam. Alhamdulillah. Lepas sudah dari bahaya tenggelam.

Jarak antara permukaan air dengan permukaan tanah hampir setinggi badan. Untung disitu ada besi-besi beton entah bekas apa yang bisa aku jadikan pegangan dan pijakan sebelum sampai ke darat. Aku menjulurkan tangan ke atas, dan mereka jongkok menjulurkan tangannya menggapaiku. Dengan berat badanku, agak susah juga sampainya ke atas. Aku merasakan ada yang nyeri di kepala, dan terasa ada benjolan yang cukup terasa. Dan rupanya ada darah yang keluar. Jadi bukan hanya sekedar benjut tetapi juga ada buncur. Aku berusaha memegang bagian yang benjut dan buncur itu. Salah seorang melihat ada darah yang keluar dan memberikan tissue untuk menutupi luka tersebut.

Kaca mata dan topi Ulang Tahun ADHI yang ke 50 yang kupakai terlepas. Anak-anak penyelamlah yang pertama kali memberikan topi yang mungkin asalnya mengapung, dan kemudian kacamata yang tenggelam setelah umik memberitahukan bahwa ada kaca mata yang tenggelam. Kamera yang di saku kaos segera aku berikan ke umik, begitu juga dompet di saku kanan belakang celana. Alhamdulillah tidak sampai terminum air, dan tidak ada muntah, dan bahkan masih bisa berfikir secara jernih. Bahkan meminimalkan dampak atas harta benda. Ha ha.

Dengan badan basah kuyup dan tiupan angin danau membuat badan makin dingin beberapa derajat Celcius lebih rendah dari suhu udara dan badan. Tetapi belum mulai menggigil. Kami berjalan beriringan menuju jalan raya menunggu mobil kami yang sedang diambil dari tempat parkir. Dan tissue pun harus diganti beberapa kali karena sudah basah. Untunglah IGDnya ada di pintu masuk kawasan wisata danau Toba ini, jadi sang pengemudi tidak terlalu sulit menemukannya, antara lain karena tadi juga melewatinya.

IGD nya dijaga oleh dua orang petugas, seorang pria dan seorang wanita. Dan mereka sangat sigap menghadapi hal hal seperti ini, dengan juga segera mengkontak dokter yang bertugas. IGD ini agak terpisah dengan rumah sakitnya, mungkin karena memang disediakan untuk menangani berbagai hal yang dialami oleh wisatawan. Mereka berdua segera memberikan zat pengurang rasa sakit, membersihkan luka dan menyiapkan berbagai hal untuk keperluan penutupan luka, dan mengeluarkan darah yang menempel / membeku, yaitu dengan mencukur rambut yang ada disekitar luka dan menekannya. Umik dan pengemudi kembali ke hotel untuk mengambil pakaian kering, mengingat badan sudah mulai menggigil karena sekujur tubuh masih menggunakan pakaian basah. Sambil menunggu datangnya dokter, mereka melakukan persiapan dan berusaha mengurangi aliran darah.

Dalam keadaan basah kuyup, terbaring miring seperti disunnatkan oleh Rasulullah, mereka menangani dengan sambil menanyakan bagaimana terjadinya. Dari penjelasan Umik, Pak Mursit dan Pak Iswadi aku ketahui bahwa Pak Iswadi melihat ada orang berkaos batik ada di air, dan cepat mengidentifikasi bahwa itu adalah saya. “Bapak kecebur, bu”. Lalu meletakkan bawaannya, dan memberitahukan pada umik. Umik mengetahui bahwa saya melihatnya sambil mengangkat tangan kanan, dan dengan tenangnya memunguti barang bawaan pak Iswadi dan turun ke darat pelan-pelan. Umik mengira saya telah menginjak tanah, jadi tenang, walau tahu benar kalau saya nggak bisa berenang. Umik tidak tahu, kalau danaunya cukup dalam, setidaknya lebih dari setinggi badan orang. Seandainya dia tahu kalau danaunya dalam, mungkin kepanikan akan melanda dirinya, dan keadaan akan menjadi lain. Yang abah khawatirkan, adalah adanya pusaran arus yang lazim ditemui di danau yang terbentuk di kawah gunung [seperti Sarangan contohnya]

Umik “menginstruksikan” untuk tidak memberitakan kejadian ini kepada siapapun, karena di era kecanggihan informasi ini, berita akan cepat menyebar kemana saja tanpa bisa dikendalikan lagi. Dan yang “berbahaya” adalah berita yang sepotong-sepotong diterima, dan kemudian “dilengkapi sendiri” dengan kreatifitas si penerima yang biasanya ingin juga berpatisipasi untuk menyebarkan. Agar semuanya tenang, dan kalaupun kemudian mengetahuinya, sudah melihat orangnya dalam keadaan segar bugar, sehingga tidak menimbulkan keterkejutan dan menghayalkan. Masih ingatkan kan, cerita dialog Bapak Koen dan Ibu Muz ketika saya sudah pulang ke Gresik, setelah mengalami kecelakaan pesawat Bouraq di Makassar dalam perjalanan perdana Abah dari Palu dengan pesawat baling-baling jenis HS-471 buatan Inggris.

Wal hasil, akhirnya aliran darah dapat ditutup, dengan melakukan jahitan dengan benang yang harus dilepas nantinya. Bukannya tidak ada benang yang akan tumbuh menyatu dengan daging dan kulit, tetapi secara teknis kurang memungkinkan. Di tengah kumandang suara adzan Maghrib dari masjid yang cukup besar di dekat lokasi UGD, kami ditangani dengan sabar dan sambil mengobrol. Pasien yang satu ini memang banyak permintaannya, ketika akan diplester menggunakan plester biasa, meminta plester yang 3M [bukan gaya lho ya, karena punya pengalaman alergi. Luka ditutup perban diplester, lukanya sembuh tetapi kulit yang kena perekat plester jadi luka]. Akhirnya juga harus disuntik dengan ATS [anti tetanus guna menjaga berbagai kemungkinan yang tidak dikehendaki].

Setelah selesai dikerjakan, turun dari meja pesakitan dan mau ganti pakaian kering [karena tadi baru bajunya saja yang berganti kering], koq kaki kanan sulit diluruskan? [selama proses penanganan pertolongan pertama tadi posisi kaki kanan menekuk dan berada di bawah]. Ternyata ada lebam di pangkal paha kanan atas bagian luar, dan bagian belakang lutut kanan sebelah luar, dan bagian belakang lutut kiri sebelah dalam, serta luka gores pada pundak sebelah kiri belakang. Wow, banyak juga ya yang mengalami benturan. Tetapi mungkin itu yang menyelamatkan situasi. Maka sambil duduk di mobil, sambil mencoba melakukan rekonstruksi imajiner akan urutan situasi langkah demi langkah [alias step by step] kejadian tadi.

Rupanya, berdasarkan perkiraan sendiri, urutannya kira-kira seperti ini:

  • Ketika terlempar kebelangan [alias nggentang] karena tidak mampu menahan gaya impulse yang tak terduga disebabkan benturan kapal dengan dermaga, bagian kaki saya terkena tepi kayu kapal [yang tak berpagar] atau lingire kapal [anggep lingire mejo], dan itu menyebabkan memar yang ada di pangkal paha dan belakang lutut;
  • Benturan ini menyebabkan perubahan arah posisi tubuh, sehingga ketika tercebur di air aku mengahadap ke arah danau lepas [bukan arah pantai] atau berputar CCW – counter clock wise , berlawanan dengan arah jarum jam – 90o dari hadapan semula.dan menyebabkan yang mencebur lebih dulu ke air adalah kakiku [dan bukan kepalaku]. Seandainya kepalaku dulu, tentu keadaannya akan berubah 180o atau lebih;
  • Karena adanya hambatan oleh air [yang tentu bersifat suspensif], maka ada perubahan arah badan lagi, dimana punggung kiri membentur dinding dermaga, pada daerah yang tidak ada besi beton yang nyrongot-nyrongot itu. Bayangkan bila tidak terlebih dahulu ke air, dan terkena yang ada besi betonnya, tentu ceritanya akan lain lagi;
  • Karena gaya yang bekerja masih besar, maka massa kepala yang disangga oleh sambungan bersifat engsel multi arah [alias leher] membentur dinding pada bagian kiri atas [dekat unyeng-unyeng] dimana menimbulkan benjolan dan luka yang mengeluarakan darah cukup “deras”;
  • Disamping itu, masih ada benjolan akibat benturan pada bagian bawah luka tadi yang berjarak sekitar lima sentimeter, yang menunjukkan bahwa bidang benturan tidaklah rata;
  • Dan semua itu hanya berlangsung secara sangat singkat.

Itulah kehidupan, sebagai suatu serial episode, yang setiap episodenya akan menentukan episode berikutnya. Dan bila ada pilihan, itulah yang disebut ikhtiar, maka kita akan berada pada episode yang berbeda. Dan tentunya akan membawa kepada episode atau pilihan episode yang lain lagi. Bercabang makin lama makin banyak. Ada yang kita tidak bisa memilih, ada yang kita bisa memilih. Disitulah letak keagungan Allah swt.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: