Mengapa Abah Pakai Kopyah – 05

Saya lebih sibuk membayangkan, betapa besarnya letusan yang terjadi diwaktu itu. Kita saat ini melihat berbagai letusan vulkanik yang tergolong raksasa, yaitu di Pinatubo, Philipina beberapa tahun silam, ya seperti itu. Gunungnya masih utuh, walau USAF alias US Air Force harus menutup pangkalannya karena upaya dan biaya pembersihannya dinilai tidak efektif dan efisien dibandingkan dengan opsi lain yang tersedia. Letusan Gunung Merapi [baik yang di Jawa, Sumatra, dan Nusa Tenggra], Gunung Kelud, Gunung Semeru, Gunung Agung dan Gunung Galunggung pun boleh dikata tidak merubah bentuk gunung tersebut. Hanya Krakatau yang sampai gunungnya habis. Dan Gunung Toba yang ukurannya lebih besar akhirnya bukan saja habis bagian di muka buminya, bahkan sampai sebuah menjadi danau dengan kedalaman sampai 500 meter dibawah permukaan danau. Adakah yang mau menghitung berapa besar energi yang diperlukan, setara berapa giga atau tera ton TNT atau C4. Tanah dan batu menjadi debu yang berterbangan di atmosfir selama bertahun atau berabad.

Kami berlabuh disuatu lokasi di pulau Samosir, dimana banyak dijumpai cottage dan villa maupun pesanggarahan dan hotel. Suasana disini jauh lebih tenang dari hiruk pikuk kehidunpan, karena hanya suara deburan air dan lingkungan pepohonan yang hijau yang mengitarinya. Cocok bagi orang yang mencari ketenangan atau sedang melakukan refleksi, meditasi ataupun kontemplasi untuk memikirkan atau merenungkan sesuatu. Kami tidak lama disini, hanya menikmati secangkir minuman dan pisang goreng hangat untuk mengurangi kekosongan perut [walau masih agak penuh juga sih].

Perairan [karena tidak lewat jalan] dilanjutkan ke suatu lokasi, yang kalau tidak salah namanya Tomo atau Tomok, dimana terdapat makam raja Sidabutar. Raja yang dihormati dan merupakan cikal bakal bangsa Batak [mungkin lho ya]. Jalan menuju kesana, seperti biasa melewati lorong-lorong yang dipenuhi dengan para penjual aneka cindera mata, yang dilengkapi dengan tulisan Danau Toba atau Toba Lake atau Lake Toba. Dan karena batik telah menjadi warisan budaya dunia, maka populasi barang berbasis batik lebih mendominasi dibanding yang berbasis ulos, atau motif tradisional Batak. Dari keterangan penjual, banyak barang yang mereka tawarkan, bukanlah produksi lokal, melainkan didatangkan atau dikirim oleh pemasok dari luar bahkan dari Jawa atau Bali.

Ada dua tiga yang khas, yaitu kalender Batak, baju bermotif tenunan Batak dan bentuk atap rumah Batak. Yang sangat mengagetkan, adalah dijajakannya hiasan dinding berupa kaligrafi, dan bahkan rehal alias kerekan untuk mengaji, dengan tulisan berhuruf Arab lafal Allah dan Muhammad. Wow, yang jual bukan muslim atau muslimah. Dari sini kita bisa melihat, bahwa wisatawan yang datang kesini mungkin mayoritas adalah muslim, sehingga mereka rela menjual barang-barang tersebut semata lil-fulus atau demi uang semata. Jangan-jangan produk seperti itu malah tidak dijual di Gapura atau Giri, dimana wistawan religinya

dipastikan muslim dan muslimah. Dan semoga di Gapura dan Giri tidak ada yang jualan salib atau rosario ya. Abah dan Umik tidak ikut ziarah ke makam, karena jalannya menanjak. Sayang lutut.

Di sepanjang jalan tersebut, isinya orang jualan. Entah siapa yang membeli ya. Dan jualannya sama semua. Dan masing-masing memperoleh rizki lewat pembeli yang digerakkan hatinya oleh Allah swt. Walau itu hari Sabtu, tetapi tidak banyak bertemu dengan wisatawan domestik, tetapi ada beberapa wisatawan keluarga dari Malaysia. Mungkin dengan tingkat kemakmuran yang sudah lebih tinggi, mereka ingin melihat gunung dan perbukitan serta danau yang tidak mereka ketemukan di semenanjung tempat bermukim mereka, atau mungkin leluhur mereka semula dari daerah di sekitar sini.

Memang, sebagaimana yang lazim terjadi di manapun di negeri tercinta ini, bahwa perkembangan selalu mendahului perencanaan, sehingga timbul kesan tidak tertata atas pertumbuhan tempat makan, tempat mencari angin, tempat menginap, tempat penjualan cindera mata dan lain-lain fasilitas pendukung sebuah industri pariwisata kita, yang berujung pada satu kata yaitu “kumuh”. Dan tentunya ini sungguh sangat disayangkan, apalagi yang datang kesini bukan hanya wisatawan domestik, tetapi juga banyak wisatawan mancanegara.

Ikan asin atau ikan kering dari jenis nila, banyak ditawarkan. Mungkin ikan ini dipelihara dalam keramba-keramba di danau ini, atau hasil tangkapan dari ikan yang hidup bebas di danau. Kalau melihat banyaknya yang menawarkan, mungkin juga rasanya enak dan pantas untuk dipakai sebagai buah tangan bagi yang ditinggal dirumah. Cuma terfikir, bagaimana kalau rombongan piknik naik bis, semua bawa ikan asin, dan bisnya pakai AC. Ambune lak mulek wira wiri di cabin bis. Teknik pembungkusan yang ampuh sangat diperlukan untuk menunjang pemasaran.

Sampailah saat perjalanan kembali ke pangkalan tempat pertama kali tali dilepaskan karena kapalnya tanpa sauh, hal mana sesuai dengan kondisi terrain pantai yang yang tidak landai, mengikuti kemiringan bukit yang menjadi batasan danau ini. Dimana ditempat tertentu, ada kemiringan yang mendekati 90 derajat alias tegak-gak. Hanya nelayan kecil yang sedang menjala saja yang menggunakan sampan kecil dikayuh dayung kayu. Semuanya yang lewat tidak lagi memanfaatkan rahmat Allah swt berupa angin yang bertiup dari skala semilir sampai menggoyangkan rambut di kepala kita.

Tetapi dari jauh tampak sebuah titik yang makin lama makin membesar, dan lama-lama mulai terlihat sosoknya, yaitu sebuah perahu berlayar. Dan kebetulan perahu tersebut menuju memotong kearah perjalanan kapal kami. Ternyata setelah dekat, bahkan hanya beberapa meter saja, kesemuanya berkulit putih, empat orang remaja lelaki dan perempuan yang sedang berpetualang, dengan perahu model katamaran [dua perahu menjadi satu, sehingga lebih stabil].

Di kapal mereka menyediakan pengeras suara untuk memperdengarkan musik dengan suara yang keras, dan bagi kami hal itu bukan merupakan hiburan tetapi malah beralih menjadi kebisingan. Dan mereka bersedia untuk membunyikan pengeras suaranya secara lebih lembut tanpa menggunakan loud speaker yang berdiameter lebar. Tetapi dalam perjalanan balik ini, ada seorang anak usia SD yang menyajikan hiburan dengan menyenandungkan lagu-lagu daerah Batak yang populer, dengan gaya bak seorang kontestan Idola Cilik atau Indonesian Idol. Jauh lebih baik dan lebih menarik dari pada casette recorder, walau tanpa iringan musik instrumental. Mungkin kalau anak-anak seperti itu diajarkan penyajian musik akapela [bener tha istilahnya] tentu akan bisa tampil lebih menarik dan menjadikan para wisatawan apalagi yang wisman akan lebih terkesan. Kan mereka memang terlahir dengan bakat menyanyi dan menampilkan diri dengan baik, seperti halnya pendahulu mereka di belantika dunia hiburan Indonesia. Ada mendiang Bill Saragih, banyak trio atau kwartet Batak, dan sekarang ada Sitohang.

Oh ya, hampir lupa. Di setiap kapal akan merapat atau meninggalkan dermaga, banyak anak-anak lelaki kecil usia TK-SD yang hanya bercelana dalam dan bertelanjang dada alias kancutan thok, meminta kita melemparkan uang dan mereka akan terjun untuk mengambil uang di air danau. Hal ini lazim kita jumpai di pelabuhan-pelabuhan yang tidak dikelola oleh perusahaan, sehingga ada kebebasan bagi anak-anak tersebut untuk melakukan aksinya. Dulu di penyeberangan Merak-Bakahuni juga bisa kita temui. Tetapi di Kamal-Ujung tidak ada kan ya.

Kalau dahulu yang diminta dilemparkan adalah uang logam, sekarang mereka meminta uang kertas yang dilemparkan, sehingga relatif lebih mudah untuk dipungut. Tetapi kalau ada yang melempar uang logampun mereka juga senang. Mungkin kalau ada uang logam yang memiliki nominal besar, merekapun akan lebih suka. Dan yang menakjubkan, uang yang sudah basah terkena air tersebut, setelah mereka pungut dari dalam air, mereka kulum dalam mulutnya. Dan masih bisa berteriak agar kita melemparkan uang lagi.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: