Mengapa Abah Pakai Kopyah – 04

Yang pertama kali menarik perhatian selepas meninggalkan Siantar, adalah adanya bangunan “megah” dalam skala kecil yang terdapat di areal persawahan di tepi jalan, bahkan di halaman dekat rumah. Ternyata itu adalah tempat peristirahatan bagi anggota keluarga yang telah meninggalkan keluarganya alias kuburan. Seperti kuburan China tetapi dengan arsitektur khas Batak dan tidak terkumpul dalam suatu lokasi pemakaman, tetapi di tanah-tanah mereka sendiri. Perjalanan kemudian mulai memasuki wilayah hutan perbukitan yang berkelok-kelok dan lembah dan bukit di kiri-kanan dengan sela-sela areal perkebunan karet atau kelapa sawit atau hutan pinus. Cukup mengasyikkan dan perlu kehati-hatian. Konon yang rimbun dan menyejukkan mata, hanyalah sebatas tepian jalan, kalau yang lebih dalam sudah dirambah pinusnya.

Dari celah-celah pepohonan, mulai terlihat di sisi kanan segmen-segmen kebiruan dari air danau Toba. Menandakan kita sudah mendekati danau terluas dan mungkin terdalam di Indonesia ini. Menurut para ahli, danau ini terbentuk dari sebuah letusan vulkanik yang terbesar yang pernah terjadi di muka bumi ini. Jauh lebih besar dan dahsyat dari letusan Krakatau [Crakatoa] pada tahun 1883. Dan ada spekulasi dari orang tertentu [karena belum dikonfirmasi secara ilmia], bahwa letusan gunung purba ini menyebabkan tenggelamnya Atlantis [Atlantis, the Lost Continent, yang dulu ada film fiksinya dan sekarang ada bukunya, bahkan sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia]. Dan tentunya, kemudian kita menyusuri tepian danau dari ketinggian sebelum memasuki kota Parapat yang terletak di lereng bukit hingga sepanjang pantai tepian danau.

Jalanan yang ada di sepanjang pantai, hampir sudah tidak ada lagi yang bersinggungan dengan tepi danau karena terhalangi oleh berbagai sarana dan prasarana yang ada. Bangunan sisa lama yang megah hampir sudah tertutupi oleh berbagai bangunan “baru” yang kurang tertata. Mungkin istilah garis sempadan bangunan, garis sempadan sungai atau garis sempadan danau hanya ada dalam tulisan peraturan, dan tidak dapat diterapkan. Seperti halnya di daerah-daerah lain juga, yang hampir setiap hari aku lewati, yaitu Jalan Raya Pasar Minggu di wilayah DKI dan Jalan Margonda Raya di wilayah Kota Depok. Yang bilamana aturan Garis Sempadan Bangunan [GSB] diterapkan, maka kita akan bisa menyaksikan bagian kota yang teratur dan terlihat indah serta gagah. Aku selalu berimajinasi [bila tidak sedang tertidur] bahwa bangunan yang “melanggar” sempadan tersebut dihilangkan, maka pemandangan akan menjadi berbeda sekali. Cobalah lakukan imajinasi seperti itu, jika melewati suatu kawasan, maka kita akan melihat sesuatu yang sangat lain.

Kami langsung menuju ke hotel yang sudah dipesan sebelumnya, yang mungkin yang terbesar dan terbagus di kawasan ini, dan langsung check-in serta bersiap untuk melakukan wisata. Berani mengatakan begitu, karena rupanya SBY dan ibu ada fotonya ketika menginap disini. Dari kamar, memiliki pemandangan langsung ke danau, walau letaknya jauh dari bibir pantai, tetapi karena ketinggiannya di lereng Bukit Barisan. Sangat strategis. Untung dapat kamar yang selantai dengan lantai lobby, sehingga lutut tidak harus sering berkontraksi dan berelaksasi dalam naik dan turun tangga. Sepertinya memang hanya berlantai tiga, sehingga tidak perlu ada lift.

Dari informasi di concierge hotel [atau front office] diketahui pasti, bahwa wisata melihat danau Toba dengan “Pulau” Samosir nya mutlak harus dilakukan dengan menggunakan wahana air yang tersedia. Ada beberapa jenis yang banyak ditemukan, jenis speed boat yang cepat jalannya dan memuat sedikit penumpang [mungkin maksimal 6 orang] atau sejenis kapal sedang yang agak lambat tetapi bisa memuat orang banyak, dan ferry dengan pelayanan terjadwal. Yang pertama dan kedua, rupanya dengan sistem charter alias borongan. Jadi kalau berwisata ke sana, harus mempertimbangkan jumlah orang agar bisa ekonomis, terutama bila waktu yang tersedia cukup singkat, misalnya tanpa menginap.

Menurut pelajaran ilmu bumi, tanah yang dikelilingi sungai disebut delta, yang dikelilingi laut disebut pulau. Kalau dikelilingi danau, lalu apa? Kalau di lihat di peta, dan dijelaskan oleh orang yang pernah mengelilingi pulau Samosir, dari daratan Sumatra “pulau” ini hanya dipisahkan oleh selat sempit saja.

Jika kita membawa mobil sendiri, maka langkah pertama adalah mencari tempat parkir untuk mobil yang aman dari berbagai kemungkinan gangguan. Dan sambil berkeliling kita bisa melihat berbagai fasilitas yang ada di sana, yang umumnya berada di tepi pantai danau ini. Salah satunya, yang merupakan sisa masa lalu yang masih terpelihara adalah bangunan wisma yang pernah ditinggali oleh Bung Karno. Entahlah ketika apa, mungkin ketika sedang “dikucilkan” atau “diasingkan” oleh Belanda dahulu. Atau hanya sekedar tetirah saja.

Setelah berkeliling-keliling sampai dua setengah putaran, baru menemukan tempat parkir yang dirasa aman, lalu tuan rumah melakukan negosiasi untuk mencharter sarana transportasinya. Memilih menggunakan jenis yang kedua, alias bukan speed boat. Di tempat tambatan, di jalanannya banyak kita temukan makelar untuk mencari penyewa kapal tersebut. Kita memakai kapal yang bisa memuat sampai 40-50 orang, tetapi hanya diisi oleh empat orang saja, menuju berbagai obyek, antara lain melihat batu bergantung yang menurut legenda setempat merupakan rambut dari puteri yang dianiaya atau dikutuk atau bagaimana. Saya kurang memperhatikan.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: