Mengapa Abah Pakai Kopyah – 03

Karena biasa bangun jam 03:30 ketika di Jakarta, walau subuh di Medan baru masuk waktu jam 05:15 bangunnya ya tetap jam segitu. Dan setelah sarapan pagi standar hotel, jam 08:00 start untuk berangkat menuju ke Parapat. Orang hotelnya, berkomentar mengenai keberangkatan kita yang agak siang ini, karena jalanan di luar kota sudah mulai ramai dan agak macet. Mereka tidak mengetahui, kalau kita memiliki agenda tersembunyi. Ayo siapa mau menebak, agenda apakah? Benar, Apalagi ya, kalau bukan yukulan.

Kita melalui daerah Deli Serdang, yang sekarang sudah dimekarkan menjadi beberapa kabupaten. Rencana pemberhentian awal kita adalah Tebingtinggi. Dimana di depan masjid, ada warung soto udang dan penjual lemang bakar [lupis ketan yang dipanggang dalam ruas bambu] dan dimakan dengan serikaya. Soto udangnya, udangnya belum ada, jadi ya tidak menemukan yang disasar. Kurang siang. Sotonya seperti soto Betawi, pakai santan. He he, istilah Soto Betawi ini, memang rasanya kurang pas ya. Coba bandingkan dengan soto ayam, soto daging, soto udang. Lha kalau soto Betawi, lalu apa isinya nanti orang betawi. Juga sate Madura dan soto Madura. Lemangnya sudah buka, tetapi karena kita masih mau pelesir ke danau Toba, ya besok saja dalam perjalanan pulang akan membelinya, jadi biar masih agak lebih segar sampai di Jakarta [walau lemang dan serikayanya bisa tahan berhari-hari].

Dari Tebingtinggi ini, rupanya kami menempuh jalan berbeda dengan yang sudah pernah kulalui ketika dulu banyak meninjau proyek di kawasan ini, sehingga jalannya mulai tidak kukenal. Hingga saat ini, dikiri kanan masih banyak dijumpai mushollah dan masjid, karena masih berada di wilayah yang mayoritas Melayu Deli yang memeluk agama Islam. Dalam perjalanan yang mulai banyak melintasi areal perkebunan, mulai ada satu dua perkampungan yang ada gerejanya, terutama di wilayah-wilayah perkebunan. Daerah disini memang terkenal dengan berbagai jenis perkebunan. Tembakau, kelapa sawit sudahlah tentu. Dan masih banyak yang lain, seperti karet dan mungkin juga buah-buahan.

Kita masih menelusuri jalan yang mulai menanjak, tetapi masih landai dan lurus. Belum berkelok-kelok, menandakan kita belum memasuki wilayah perbukitan  Bukit Barisan yang memanjang dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Dimana dibawah bukit itu, terletak patahan atau sesar yang memanjang sebagaimana perbukitannya. Menjelang masuk kota Pematang Siantar, yang menurut gurauan teman-teman waktu kuliah dulu, merupakan daerah aklimatisasi pemuda Batak yang akan ke Jawa, sebelum tinggal sementara di Medan. Sehingga ada istilah BTL, alias Batak Tembak langsung, bila berasal dari wilayah Batak Toba / Samosir langsung ke Jawa tanpa pernah tinggal di Pematang Siantar dan Medan sebelumnya.

Disinilah rahasia agenda tersembunyi tadi, sehingga mengapa kami berangkat jam 08:00 dari hotel, maksudnya agar sampai di pintu masuk kota Siantar dari timur ini pada jam 11:00 saat warung mulai buka. Dan memang ketika kami sampai, yang pas jam 11:00 belum ada pelanggan yang masuk, dan kompornya baru dinyalakan. Kalau shalat Jumat, akan dapat unta. Seandainya tadi di Tebingtinggi menemukan soto udang, ya pas lah kiranya, jam 11:15an, ya dapat lembu atau kambing atau bahkan ayam.

Mungkin yang menggunakan BB di Bani Maskoen masih ingat, ketika hari Sabtu dua minggu yang lalu, siang hari ketika menjelang atau saat makan siang, abah mengirimkan foto burung Ruak-Ruak? Ketika itu saya dan Umik sedang ada di Pematang Siantar setelah menikmati hidangan khas daerah situ, yaitu gorengan burung Ruak-Ruak tersebut. Selain itu, ada juga pilihan burung Belibis, dan ayam-ayaman [sejenis puyuh] tetapi tidak banyak persediaannya. Kalau pas ada ya rejekinya. Burungnya kecil-kecil, tetapi masih lebih besar dari burung punai. Orang normal, akan menghabiskan sekitar 3 ekor sekali makan. Kalau lebih ya termasuk agak sedikit asrokol atau serokol. [siapa yang nggak ngerti istilah ini?]

Satu porsi burung Ruak-Ruak berisi lima ekor. Kita berempat menghabiskan dua porsi. Entah siapa yang makan berapa, agak susah menghitungnya, karena burungnya digoreng dalam keadaan termutilasi jadi 2 atau 4 dan tanpa tanpa kepala. Entah kepalanya dikumpulkan untuk apa. [Kalau kepalanya ikan kakap merah, oleh Abah Toni sudah dikumpulkan dan dikirim ke Muara Karang untuk santapan orang Jakarta ya. Lha kalau kepala burung ruak-ruak, mau dibuat apa?]. Jadi dari pada menghitung, ya dimakan saja. Sangat sederhana, sambelnya kecap, lombok diulek dan bawang goreng. Kalau sambel terasi yang nggak terlalu pedas, barangkali akan lebih nyamleng ya. Jangan khawatir akan kehalalannya, burungnya disembelih, dan yang jual termasuk yang masak muslim dan muslimah, bahkan asal dari daerah kelahirannya Gus Dur, tetapi entah generasi yang kapan.

Burung ini tidak berdaging putih sebagaimana ayam atau burung punai. Masih ingat kan pepatah “mengharapkan seekor punai terbang di angkasa, sepuluh balam di tangan dilepaskan”, yang bisa menggambarkan kenyamanan dari si burung punai ini. Dan ada yang istimewa dari anatomi sang ruak-ruak. Kalau di betis ayam, apalagi ayam negeri, ototnya masih lembek, di burung ruak-ruak ini sudah mengeras seperti tulang serabut. Jadi di betisnya [telapak kaki alias cekernya tidak ikut digoreng – entah diapakan ya] kalau kita gigit dari bagian lututnya dengan memegang mata kaki [punya enggak ya] maka akan terlihat dan tercerabut tulang yang berbentuk serabut ini yang menurut info on-demand dari Abah Toni, itu adalah otot Achiles yang mengeras.

Sebagaimana lazimnya sebuah rumah makan, tentu saja bukan burung goreng saja yang dihidangkan, ada juga lauk pendamping. Tetapi itulah main-menu mereka. Dan sebagaimana biasa, thinking forward dan proactive thinking untuk hari berikutnya, agar nanti tidak lama menunggu karena harus menunggu sejumlah ruak-ruak dipindahkan dari tempatnya mbeteti, memotong, merebus, menggoreng, mendinginkan dan mengepak. Dan ternyata mereka menjanjikan akan beres semuanya, selagi kita menikmati hidangan makan siang.

Dengan perut kenyang dan rasa puas, kami meluncur memasuki kota Pematang Siantar, dan melewatinya saja untuk terus menuju ke arah perbukitan yang mulai berkelok-kelok. Di kota ini memang mulai terlihat percampuran antara penduduk muslim dan non-muslim, yang ditandai dengan mulai dijumpainya banyak gereja dari berbagai aliran yang ada. Yang mayoritas sepertinya kelompok protestan, dengan berbagai sektenya dan yang terbesar adalah HKBP [Huria Kristen Batak Protestan]. Dan lebih jauh meninggalkan Siantar, suasana peralihan itu semakin terasa. Pas lah kiranya bila Siantar ini sebagai tempat aklimatisasi budaya.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: