Mengapa Abah Pakai Kopyah – 02

Di perjalanan menuju hotel, masuk BB dari Ella yang menanyakan tentang Pancake Durian, yang merupakan produk baru dari kota Medan, yang belum pernah kami tahu [padahal umik & Thifa sudah makan]. Memang kota Medan, sangat aktif dan kreatif dalam mengembangkan berbagai jenis dan keanekaragaman makanan, terutama kue-kue yang bisa dibawa sebagai oleh-oleh ke daerah lain. Dan kemudian, diberikan alamatnya pula. Tetapi sang sopir belum paham daerah-daerah seperti itu.

Setelah sampai di hotel, check in, malam harinya akan mulai menelusuri kota lagi. Alhamdulillah, dapat ganti sopir orang yang sudah lama di Medan, dan sering mengantar ke tujuan-tujuan yang khas tentang keistimewaan kota Medan. Terutama makanan dan minumannya, karena orang ADHI kesukaannya seperti itu saja.

Selama ini, kota Medan sangat terkenal dengan buah durian yang lezat, legit dan aromanya sangat menusuk hidung. Sayang sekali, kenikmatan tersebut hanya bisa dinikmati in-situ. Sulit untuk dibawa buat oleh-oleh, karena pihak penerbangan tidak mengizinkannya. Dan sering upaya “menyelundupkannya” dengan berbagai teknik kemasan [tupperware, Lion Star dilakban, diberi bubuk kopi di bungkus luarnya dan lain sebagainya] sering malah menjadi lahan pungli petugas kemanan di bandara. Konon ada desas desus, bahwa kecelakaan pesawat Mandala selepas tinggal landas beberapa tahun lalu, akibat overweight membawa durian sebagai oleh-oleh pada konferensi para gubernur se Indonesia.

Pancake Durian ini merupakan smart solution, hasil kreatifitas anak bangsa yang harus diacungi dua jempol, karena dengan begitu kenikmatan durian bisa dinikmati oleh lebih banyak orang, terutama keluarga yang ditinggalkan di rumah. Dan dengan sendirinya si pembuat menikmati added value yang signifikan sebagai reward-nya. Kalau dari namanya, kita akan membayangkan pancake atau terang bulan atau martabak manis dengan rasa durian, Ternyata jauh panggang dari api.

Ketika menemukannya di Durian House [Jalan Sekip no 67H, telpon 061-4153878], lho ini kan yang pernah dioleh-olehi oleh bu Indra [yang suaminya mantan Kepala Cabang Medan], beberapa waktu sebelumnya – yang tanpa ba-bi-bu langsung dimakan saja. Kalau saya lebih cocok menamakannya dadar durian, megacu pada makanan lama yaitu dadar gulung yang berisi tenten [kelapa muda yang dimaniskan dengan gula putih atau merah] atau fla. Karena secara fisik memang seperti itu. Tetapi dari sudut pandang pemasaran, hal itu akan kurang memiliki daya tarik.

Lapisan dadar ini, yang membuat duriannya terbungkus dengan kedap sehingga aroma tidak lepas dan udara luar tidak mengoksidasi yang menyebabkan perubahan warna, rasa dan bau. So smart, in an easy way. Semacam dimasukkan kapsul besar. Apa bisa diekstrapolasi ke makanan lain? Sebenarnya idenya ya bisa dari bakpia, kue bulan dan lain-lain. Tetapi untuk menuju kesana rupanya perlu enlightment ya. [saya pernah baca artikel dari majalahnya MIT – ITBnya Amerika – tentang bagaimana terpenuhinya rukun dan syarat datangnya enlighment ini]

Memang ada hidangan lain berbasis durian, beraroma durian dan lain sebagainya, bahkan yang tidak punya nasab dengan durianpun ada disini. Ada yang saya suka, semacam prol dengan aneka rasa, diberi sedikit-sedikit durian. Kiat untuk sedikit durian untuk massa produk yang lebih besar, seperti pembuatan kolak ketan durian, atau ketan srikoyo rasa durian. Durian beberapa biji [bukan butir] bisa buat satu keluarga. Kalau es puter durian, yang setiap gelasnya diberikan satu biji durian masih mending kan. Dapat baunya saja sudah lumayan, kan. Apa lagi bau dan rasa, kalau warna sih sudah lebur atau kalah dengan komponen lain. Karena asli, bukan bau atau rasa sintesis yang berasal dari senyawa ester butil atau alkil yang lain.

Makan malam di Medan, itu sungguh mengasyikkan. Yang halalan thayyiban, saja sangat banyak. Dan akan tambah banyak lagi pilihan, bila ditambah yang laa halalan wa laa thayyiban. Karena Medan kan banyak China nya, dan mereka itu termasuk bangsa penggemar makan enak. Tata rasa. Tetapi dengan faktor umur dan masa lalu, tentu saja yang halalan thayyiban akan berkurang jumlah jenisnya. Sore hari, mulai ada gulai kepala kambing, makanan Keling [Madras, India] seperti roti jala, roti cane, karee daging, dan tentunya murtabak. Murtabak disini berbeda dengan murtabaknya Tambi [Nar – favoritnya Umik Ituk]. Disini murtabaknya kulit digoreng, lalu adonan telurnya diluarnya. Kalau Nar, dan yang umum adonan telur di dalam, kulit diluar [namanya kulit ya di luar daging kan]. Dan banyak yang lain lagi, masakan Melayu Deli, Padang, Mandailing, Aceh, Batak dan sebagainya. Yang tentu saja masakan China alias Chinese Foods.

Ada yang terkenal dan enak untuk di malam hari, yaitu Bawal Steam. Tidak berminyak dan berbumbu berat, hanya potongan jahe, bawang putih dan bumbu-bumbu iris saja. Tetapi malam ini, kami ditunjukkan suatu lokasi jajanan baru, yang ketika terakhir ke Medan belum ada. Yaitu, lokasi yang dijadikan latar belakang tayangan TVnya bang One untuk siaran dari Medan. Ya, Medan Walk, yang menempati tepian Aloon-Aloon nya Medan. Dengan anchor tenant yang besar adalah rumah makan Nelayan, yang hampir tidak ada set kursi kosong pada sejumlah set kursi yang cukup banyak.

Disini kita disodori oleh pancake durian sebagai pembuka. Hanya penampilannya sedikit berbeda dengan yang di Durian House. Disini lebih cantik, karena dadar pembungkusnya berwarna hijau muda [entah karena ditambahi pandan atau pewarna buatan], dan sebagai kulit jangatnya adalah whiped-cream. Sadaap. Tapi rasanya agak sedikit terpengaruh oleh keberadaan si kulit jangat ini. Tetapi bagi mereka yang merasa aroma durian terlalu menyengat, maka yang satu ini untuk mengurangi aroma yang menyengat yang menyebabkan dilarangnya durian masuk ke kamar hotel dan cabin atau bagasi penerbangan. Diletakkan dalam piring kecil, dan setelah dihadapan kita, dipotong tengahnya sehingga tampak penampangnya dan menjadi seperti bunga yang mekar.

Penyajiannya cepat, para pelayan membawa berbagai nampan yang berisi dengan sejenis makanan. Ada nampan berisi aneka dim-sum, aneka kue, aneka jus, nasi kucing, tetapi bisa juga kita memesan a la carte sesuai menu yang ada. Pengalaman makan dan pelayanan tersendiri. Karena siangnya sudah makan berat, ya malamnya yang ringan-ringan saja. Dim-sum beraneka rasa, ceker ayam dan tentunya pancake durian. [setitik, ngicipi rasane].

Di Medan ada suatu jalan yang dipenuhi oleh pedagang duren [bila musim], tetapi kali ini sepi, sebab durian sudah mulai mutus [walau masih ada secara terbatas, kalau enggak kan tidak ada pancake]. Walau begitu, jalanan disini tetap macet di waktu malam, karena ada yang lebih dominan dan tidak mengenal musim, yaitu penjual makanan kaki lima dengan aneka masakan, terutama masakan China. Bagi yang tidak pantang apapun, termasuk pantang makanan haram, ya disinilh tempat favoritnya. Kita lewat untuk sekedar tahu saja. Karena kebiasaan tidur sore, dan besoknya mau perjalanan jauh, maka kita langsung kembali ke hotel untuk istirahat.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: