Mengapa Abag Pakai Kopyah – 07

Di saat kejadian tadi, pilihan hanya ada pada yang pertama, ketika sadar ada benturan kapal dengan dermaga, tetapi saya tidak kuasa untuk melakukan yang saya pilih. Laa haula wa laa quwwata illa bi Llah. Maunya jatuh telungkup, yang terjadi malah nggentang. Tetapi saya yakin, itulah yang terbaik yang diberikan oleh Allah swt kepada saya. Mungkin kalau ke depan, bisa terjadi serangkaian episode yang lebih berdampak negatif bagi diriku. Jangan hanya membayangkan yang baiknya saja, bayangkan juga yang keadaan yang mungkin bisa menjadi lebih buruk. Jatuh telungkup, muka terbentur [ketatap] lantai kapal – kalau rata sih ya masih lumayan, kaca mata pecah dan  pecahannya masuk mata. Atau ada kayu atau paku atau benda menonjol lainnya, yang akan langsung menusuk mukaku. Atau apapun lainnya yang tak terbayangkan, yang alhamdulillah tidak terjadi.

Akhirnya kami kembali ke hotel dengan terlebih dahulu membeli obat-obatan yang tidak tersedia di UGD di satu toko obat yang cukup lengkap juga di kota Parapat ini. Dan kami memutuskan untuk tidak keluar mencari makan malam, makan seadanya dengan memesan dari jasa Room Service Hotel. Yah, mie rebus tanpa rasa alias hambar, sebagaimana standar di hotel kelas apapun. Setelah agak lama, kepala mulai terasa cenut-cenut karena paintkiller yang diberikan sudah kurang berfungsi, dan tentu saja penghilangnya adalah Ponstan 500 mg yang memang selalu dibawa kemana-mana. [termasuk bagian dari emergency kit, yang selalu ada selain Ventolin, Biogesic, Decolgen. Alhamdulilah jarang bawa Diatab, apalagi Imodium].

Pesan sang dokter, lukanya jangan kena air sampai benang jahitannya dicabut sekitar 5-7 hari sesudahnya. Jadi mandi menggunakan shower-cap yang memang selalu ada di hotel-hotel, dan terus menggunakannya sampai beberapa hari setelah dicabut benangnya. Lebih baik sabar dari pada salah gedaden, keburu kena air hingga luka nggak waras-waras.

Pagipun datang, dan siap-siap untuk berangkat sambil terlebih dahulu mencari sarapan di luar hotel. Berangkatnya, diatur seperti keberangkatannya dulu, agar sesampainya di Rumah Makan Beringin, pada jam 11:00, saat mulai buka. Banyak warung dan rumah makan di daerah ini, dan rumah makan yang halal selalu memberikan tanda khusus, bahkan dengan menyebut Rumah Masakan Muslim, dan dengan banyak kaligfrafi di dindingnya. Sangat bagus kesadaran seperti ini, teringat ketika pertama kali ke luar negeri, ke Bangkok. Rumah makan muslim, dari masyarakat Patani, juga seperti itu.

Ketika memasuki Pematang Siantar, teringat bahwa di sana ada produsen aneka rupa makanan kecil yang sudah dikemas dengan baik, dan diberi nama yang khas yang berulang atau hamper berulang, Ak-Am, Ping-Ping, Pic-Pic dan lain-lain. Kalau tidak salah ada 8 macam. Maka mampirlah kesana. Produk ini juga biasa dan banyak ditemukan di Medan, terutama di toko Saudara, yang memang menjual berbagai hal yang spesifik Medan. Dan oleh karenanya, sampai di rumah makan burung ruak-ruak, sudah banyak mobil yang parkir. Termasuk penuh juga, tetapi kecepatan pelayanannya, tidak membuat kita harus menunggu lama. Dan sesuai janjinya mereka kemarin, gorengan yang mau dibawapun sudah siap ketika kita selesai makan.

Pematang Siantar juga terkenal sebagai penghasil buah dan sayuran. Buah yang terkenal, semula hanya markisa. Yang karena saking melimpahnya, maka sampai dibuat sirup, dan bisa sebagai buah tangan andalan dari Medan. Sistem distribusinya juga bagus, sehingga orang tidak harus membawa sirup dalam botol kaca yang berat dan penuh risiko, yang akan menambah beban dalam pesawat. Mereka menjual DO [delivery order] yang bisa dibeli di Medan, ditukar di kota tujuan, Jakarata, Surabaya dan kota-kota lainnya. Markisa Medan [tepatnya Siantar, yang cap Pohon Pinang] sangat berbeda dengan Markisa Makassar [yang cap Bola Dunia]. Berbeda bahan baku, dan berbeda prosesing, sehingga berbeda hasil. Emulsi yang dari Siantar jauh lebih baik, dibanding dengan sepupunya yang dari Makassar yang cepat memisah dalam penyimpanan.

Pengembangan agro industri, menghasilkan buah terong belanda yang juga nikmat untuk dibuat jus atau sirup. Dan inipun sudah tersedia sirupnya. Maka, kalau di wilayah ini, sebaiknya nikmati jus terong belanda segar. Biasanya juga dikombinasi dengan markisa, dan namanya menjadi martabe [markisa tarung belanda]. Mungkin dalam bahasa Batak, kata martabe mempunyai suatu arti, jadi agak dipaksakan, kan singkatannya seharusnya martebe. Saya pertama kali menikmati jus terong belanda ini di Tanah Toraja, mendekati tahun 1990.

Malam hari di Medan, dilewatkan dengan menikmati makanan yang disajikan di restonya hotel saja, tidak jadi menelusuri makanan tradisional di wilayah Keling, dekat kuilnya orang India [yang penuh hiasan di tengah kota], dimana disekitarnya terdapat penjual aneka makanan bergaya India. Dan tentunya teh tarik, ataupun karee dan murtabak, ataupun gulai kepala kambing masakan khas Mandailing [Tapanuli Selatan]. Terbayang juga bawal steam yang disajikan di depan toko roti Suan, ataupun cikal bakal Bika Ambon merk Tahiti yang lebih dahulu beken sebelum muncul Bika Ambon Zulaikhah dan yang lainnya lagi.

Walaupun tidak sempat untuk menikmatinya, tetapi sempat membayangkan lagi dengan jarak yang tidak jauh dari sumbernya, yang tentunya “gaya listrik”nya akan lebih kuat [coba lihat lagi pelajaran dulu, tentang Hukum Coloumb]. Bukankah menurut hukum tersebut, daya tarik menarik antara dua partikel, berbanding langsung dengan “kondisi setempat”, “kekuatan masing-masing partikel” dan “berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antar partikel”. Ini kiat untuk memahami suatu rumus, jangan dihafalkan tulisannya atau simbolnya, tetapi mengertikanlah situasinya.

Nanti rumusnya kan akan mudah dituliskan menjadi begini

 

       q1 x q2

F = k ———–

       r2

 

Ini pesan sponsor buat adik-adik dan anak-anak [wis kasep yo], keponakan [onok sing kasep onok sing enggak], dan cucu serta cucu keponakan. Insya Allah dengan cara yang seperti abah sampaikan ini, bukan hafalan, melainkan pemahaman akan melekat “abadi” dalam ingatan kita. Not just remembering, but understanding. Maaf ya kalau terlambat menyampaikannya, masih lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali kan. Dan walaupun itu rumus untuk daya tarik menarik elektron listrik, Allah menjadikannya berlaku untuk semua hal di alam raya ini. Dan itu berlaku bagi semua.

Rupanya Pak Mursitatmo, yang menemani kami selama di Medan tidak tahan untuk tidak menyampaikan kejadian di Danau Toba kepada Pak Djoko Prabowo, mengingat tanggung jawab yang diembannya. Hal ini saya ketahui, karena pada Senin pagi-pagi, ada telepon dari pak Djoko tentang hal tersebut. Yah, luka di kepalaku nantinya akan menjadi pengingat akan berbagai hal yang telah kita jalani bersama selama dua puluh tahun bersama pak Djoko dan pak Mursit, semenjak mereka berdua mulai mendharmabhaktikan dirinya di Adhi Karya pada tahun 1990 atau 1991. Semoga Allah swt merahmati kita semua. Amien.

Tujuan pagi ini, adalah berburu makanan untuk dibawa ke Jakarta, dan tentunya makan siang sebelum menuju ke Bandara Polonia. Sasarannya tidak banyak, tetapi rupanya jarak dan waktu yang akan membatasinya. Kepala Ikan Jemadi langsung dibatalkan, karena faktor jarak. Maka sasarannya hanya [he he, hanya] tiga saja, yaitu Durian House, Meranti dan Supermarket Berastagi [bukan di kota Berastagi, tetapi hanya namanya, letaknya di Medan]. Pak Iswadi mengantarkan dengan sangat efektif dan efisien, dengan merencanakan urutan routenya. Ke Durian House, jelas utamanya untuk memburu pancake Durian dan kue prol, tetapi sayang kue prolnya belum masak. Ke Meranti, apalagi kalau bukan roll-tart dengan berbagai isi yang menghebohkan, dan sempat memicu berbagai usaha tiruan di sekitar lokasi atau menggunakan nama yang hampir sama. Dan yang ke Supermarket Berastagi, untuk makanan-minuman asal negeri jiran atau China yang selama ini memang merangsek masuk ke Sumatra Utara dan Kalimantan Barat dalam berbagai bentuk dan cara.

Setelah menyelesaikan perburuan, kami sempatkan mampir di Kantor ADHI di Jalan Dr. Mansjur, Medan, yang telah berkembang baik ruangan maupun lingkup wilayah yang ditanganinya. Semoga terus berkembang dan memberikan manfaat yang besar bagi lingkungan dan sekitarnya.

Sebelum menuju Polonia, kami bergabung lagi dengan Pak Mursitatmo dan juga dengan Pak Adji untuk makan siang di Rumah Makan Garuda. Dulu, tahun 1977an pertama kali saya ke Medan [setelah dari Banda Aceh dan Lhok Semauwhe] juga diajak makan oleh Kepala Cabang PN Garam di Rumah Makan Garuda, tetapi tempat dan suasananya sudah berbeda. Apakah ini akan menjadi kenanganku yang pertama dan kesempatanku yang terakhir menikmati hidangan makan siang di Rumah Makan Garuda, Medan?. Hanya Allah yang Maha Tahu.

Dan dengan selamat sampai di Cengkareng, dijemput oleh Ella dan Thifa dalam guyuran hujan lebat. Dan alhamdulillah jahitan juga sudah dibuka, bekas luka sudah mengering, tetapi semua kenangan indah itu insya Allah tak akan hilang dari ingatan, salah satunya dengan sarana tulisan ini.

Dan pertanyaan “Mengapa Pakai Kopyah?” memang hampir disampaikan oleh orang yang dekat yang bertemu denganku, dengan berbagai ragam versi. Rupanya menggunakan koyah, lambang nasional dan nasionalisme bangsa dan merupakan produk kebanggan kota kelahiranku Gresik, menjadi asing dalam bangsa dan lingkungan sendiri saat ini. Banyak diantara kita yang dengan sengaja atau tidak sengaja meredusir dan meminimalisir fungsi kopyah dalam kehidupan keseharian masyarakat Indonesia. Mungkin perlu gerakan serentak, agar kopyah kemudian diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya bangsa Indonesia, kemudian banyak orang yang memakainya seperti batik.

Bagaimana kalau kita mulai dari diri kita sendiri lebih dahulu mengenakan kopyah, lalu lingkungan dekat kita, dan menyebar ke yang lain? Tidak ada salahnya untuk dicoba bukan?

 

 

Wa Allahu a’lam bis shawab.

 

 

 

Saifuddien Sjaaf

Attahiriyah, Pasar Minggu, Jakarta

Selesai ditulis pada

11 April 2010 G / 27 Rabiul Akhir 1431 H

 

 

 

 

Terima kasih kepada semua pihak yang memungkinkan perjalanan ini terjadi, khususnya
Pak Djoko, Pak Mursitatmo, Pak Iswadi dan pak pengemudi yang satunya yang aku lupa namanya.

Semoga Allah swt memberikan imbalan yang berlipat atas kebaikan dan ketulusan anda semua. Amien

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: